Investing at Home - Part I (2021)

4 Jan 2021 Written by:OCBC NISP Wealth Management

Mayoritas bursa saham AS mencetak rekor all time high pada penutupan 2020

Mayoritas bursa saham AS berhasil mencatatkan rekor all time high di hari terakhir perdagangan tahun 2020. Jika dilihat dalam setahun, indeks Dow Jones berhasil menguat 6.84%, indeks S&P 500 menguat 15.86%, dan indeks Nasdaq menguat 43.86%. Secara keseluruhan, volatilitas pasar saham pada tahun lalu sangat dipengaruhi oleh penyebaran COVID-19 yang berujung pada lockdown, dan pemilihan presiden AS. Namun, perkembangan vaksin potensial serta kebijakan fiskal dan moneter AS yang akomodatif berhasil mendukung penguatan pasar saham.

Di hari terakhir perdagangan, penguatan didorong oleh rilisan klaim tunjangan pengangguran sebesar 787,000. Angka tersebut lebih baik dibandingkan pekan sebelumnya sebesar 806,000. Kedepannya, klaim tunjangan pengangguran diharapkan semakin menurun, dengan disetujuinya paket stimulus sebesar USD 900 miliar yang mencakup USD 600 bantuan langsung tunai (BLT) kepada sebagian besar warga AS. DPR telah meloloskan langkah untuk menaikkan pembayaran BLT menjadi USD 2,000. Tetapi saat ini para pelaku pasar masih menantikan keputusan Senat yang memblokir hal tersebut.

Sementara kasus COVID-19 terus menjadi perhatian, dimana saat ini jumlah kasus di AS mencapai 20 juta atau seperempat dari total kasus di dunia. Bahkan, beberapa negara bagian AS seperti California dan Florida telah menemukan kasus virus Corona baru yang lebih menular. Varian baru ini tentunya dapat memperburuk keadaan di tengah rumah sakit yang mencapai kapasitasnya di bulan Desember, serta peluncuran vaksin yang lebih lambat dari yang diantisipasi. Sampai akhir 2020, hanya 2.8 juta orang yang sudah divaksinasi, dari target Pemerintah AS sebanyak 20 juta orang.

Sentimen negatif juga datang dari hubungan AS-China yang semakin memanas setelah New York Stock Exchange (NYSE) melakukan de-listing saham 3 perusahaan China di hari Kamis lalu, menyusul langkah presiden Trump yang melarang investasi AS di 31 perusahaan China pada bulan November. Keputusan ini berlaku efektif mulai 7 Januari 2021, atau paling lambat di tanggal 11 Januari 2021. Langkah tersebut akan membatasi akses investor AS terhadap saham-saham perusahaan China. Saat ini, China meminta AS untuk mengambil jalan tengah dan mengembalikan hubungan perdagangan bilateral ke jalurnya.

Memasuki tahun 2021, tentunya penyebaran dan perkembangan terkait COVID-19 dan vaksin masih akan terus dicermati, dimana hal tersebut akan sangat menentukan pemulihan ekonomi. Untuk pekan ini, fokus para pelaku pasar akan tertuju pada pengesahan kemenangan Presiden Joe Biden pada 6 Januari. Dikabarkan bahwa 11 politisi Partai Republik yang dipimpin Senator Ted Cruz berencana untuk menghalangi, dimana mereka menginginkan penundaan selama 10 hari untuk dilakukan audit. Namun upaya tersebut diperkirakan tidak akan berhasil karena sebagian besar Senator lain menyatakan akan tetap mengesahkan kemenangan Biden. Pengesahan Presiden merupakan tahap terakhir sebelum pelantikan dimulai pada 20 Januari.

Pasar keuangan domestik dan potensi ke depan

Pada perdagangan hari terakhir, IHSG melemah -0.95% dan ditutup di level 5,979.07. Aksi profit taking menjadi salah satu pendorong pelemahan seiring dengan IHSG yang berhasil menguat selama 11 pekan beruntun. Sepanjang tahun 2020, IHSG masih mencatatkan pelemahan -5.08%. Namun, sisi positif terlihat dari investor ritel yang mendominasi transaksi di pasar saham, ditengah outflow asing yang mencapai Rp 47.81 triliun hingga 29 Desember 2020. Jumlah investor saham aktif harian tercatat meningkat ke 94 ribu investor hingga 29 Desember 2020.

Tanggal 4 Januari ini merupakan hari pertama perdagangan dibuka kembali. Beberapa katalis tentunya akan mempengaruhi pergerakan pasar. Dari dalam negeri, kasus harian COVID-19 masih menjadi perhatian utama, dengan kasus harian yang seringkali berada di angka 7,000 per hari. Namun, Gubernur Anies memperpanjang PSBB masa transisi hingga dua pekan kedepan, setelah ada kehawatiran akan diberlakukan rem darurat seperti beberapa bulan lalu. Selain itu, para pelaku pasar akan menantikan rilisan data PMI manufaktur dan inflasi periode Desember dari dalam negeri. Daya beli yang masih lemah akan membuat laju inflasi sepanjang 2020 diperkirakan sangat rendah dan berada di bawah target Bank Indonesia.

Rencana pelaksanaan vaksinasi COVID-19 akan dimulai pada pertengahan bulan ini. Beberapa kalangan masyarakat akan mendapat prioritas utama, dimana vaksinasi akan dilakukan secara bertahap, gelombang pertama akan dilakukan pada bulan Januari hingga April 2021 dan gelombang kedua di bulan April 2021 hingga Maret 2022. Hal tersebut tentunya akan menjadi salah satu katalis penguatan pasar keuangan Indonesia. Di sisi lain, para pelaku pasar masih akan terus berharap akan pemulihan ekonomi. Dukungan stimulus fiskal Pemerintah tentunya sangat diharapkan untuk mendorong konsumsi yang masih rendah, dimana konsumsi memegang peranan hampir 60% dari perekonomian Indonesia.

Pasar saham obligasi juga mencatatkan kinerja yang cukup baik sepanjang tahun 2020. Pada pekan terakhir perdagangan, imbal hasil tenor 10 tahun menurun ke kisaran level 5.88%. Sementara Rupiah berhasil menguat ke level 14,050 di akhir perdagangan. Di tahun 2021 ini, imbal hasil obligasi masih berpotensi untuk melanjutkan penurunan terbatas seiring dengan adanya kebijakan moneter yang akomodatif baik dari The Fed maupun Bank Indonesia yang akan mempertahankan suku bunga di level yang rendah. Selain itu, real yield obligasi Indonesia pun sangat menarik jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, yang tentunya berpotensi mendorong inflow investor asing. Di sisi lain, kebijakan burden sharing serta Bank Indonesia yang akan selalu menjadi standby buyer pada pasar perdana juga akan menciptakan supply dan demand yang baik pada pasar obligasi.

Sumber: Bloomberg, BBC, CNBC



DISCLAIMER

Dokumen ini dipersiapkan oleh OCBC NISP Wealth Advisory Workgroup. Informasi yang terdapat di dalam dokumen ini diambil dari narasumber terpercaya namun tidak ada jaminan terhadap akurasi dan kelengkapannya. Gambaran-gambaran, angka-angka dan seluruh informasi yang dimuat dalam dokumen ini tidak dibuat sehubungan dengan keadaan keuangan perseorangan manapun. Informasi ini bukan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu penawaran untuk menjual atau suatu ajakan untuk membeli suatu produk keuangan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu nasihat investasi. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikasi kinerja masa depan. Dokumen penawaran atas produk terkait harus dipelajari secara lebih jauh. Setiap perkiraan, proyeksi, atau target yang ditampilkan disini hanya merupakan suatu indikasi dan tidak dijamin dalam bentuk apapun. Kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian baik langsung, tidak langsung ataupun sebagai konsekuensi yang timbul karena penggunaan dari dan ketergantungan atas informasi yang berasal dari dokumen ini. Opini-opini yang terdapat dalam dokumen ini mencerminkan keadaan saat ini, dan karenanya dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Download ONe Mobile

Cerita untuk inspirasi

Read

Education, Nyala - 27 Jul 2021

Mengenal Apa Itu Kartu GPN & 5 Keuntungan Memilikinya

Read

Education, Nyala - 27 Jul 2021

Kebijakan Moneter: Pengertian, Tujuan, Jenis, & Instrumennya

View All