Menikah Harus Satu Visi dan Misi, Berikut Tips Menyamakan Persepsi Finansial dengan Pasangan

18 Feb 2021 Written by: Redaksi OCBC NISP

Tips menyamakan visi financial dengan pasangan dari Fellexandro Ruby

Tahukah kamu bahwa masalah terbesar yang sering dihadapi pasangan yang menikah adalah tentang keuangan? Banyak orang menganggap membicarakan uang dengan pasangan adalah hal yang tabu. Lebih suka membiarkan jalan dengan idealismenya masing-masing. Padahal, menyamakan persepsi dan visi-misi keuangan rumah tangga itu penting banget.

Hal pertama yang perlu dipahami sebelum memutuskan untuk menikah adalah, it’s not all about rainbows, and pink clouds, and sugar, and marshmallows. Gak selamanya orang yang menikah hidupnya akan selalu terasa bahagia dan penuh bunga-bunga.

Honeymoon phase tidak akan selamanya. Ada banyak hal yang akan memicumu untuk berselisih pendapat dengan pasangan, especially masalah keuangan.

Kalo kamu sedang merencanakan menikah dengan pacarmu, kamu harus menyisihkan waktu untuk berbicara serius tentang keuangan di masa depan. Bener, lho. Beberapa kasus perceraian yang terjadi itu seringkali berakar dari masalah uang. Tentu, tidak ada orang yang mau hal itu terjadi.

Perhatiin, deh. Duduk dan baca sejenak pesan-pesan ini. Karena tidak ada yang ingin menyesal dan trauma seumur hidup gara-gara memilih pasangan yang tidak tepat.

  1. Mengkomunikasikan Perbedaan

  2. Fellexandro Ruby, seorang entrepreneur sekaligus content creator, bercerita tentang pengalamannya menikah. Baginya, hal yang penting dari menikah adalah keberanian untuk mengkomunikasikan perbedaan antara suami dan istri.

    “Langkah yang paling penting, komunikasi. Dari ngobrol itu kita bisa tahu, perbedaan kita apa aja. Bisa jadi bukan karena disengaja, tetapi cara tumbuh kembangnya dia itu beda sama kita.”

    Itulah mengapa, menurut Ruby, suami dan istri bisa sangat berbeda tentang bagaimana cara mereka memperlakukan uang. Sebab value-value hidup mereka juga mungkin berbeda. Inilah yang harus dicari tahu dan dicari jalan tengahnya untuk disepakati bersama.

    “Misalnya, istri gue dibesarkan oleh ibu yang single parent, jadi ibunya sangat care. Sedari kecil, sudah masuk kategori anak yang tidak terlalu susah. Kalo dibandingkan sama gue, itu aja udah pasti beda. Gue dilatih sama hidup, bukan dari kalangan orang ber-privilege, kalau mau sesuatu ya nabung dulu. Gue jarang sekali me-reward diri sendiri.”

  3. Membicarakan Ketakutan Pasangan

  4. Setiap orang punya kekhawatiran dan ketakutannya masing-masing. Hal ini membuat mereka juga punya gaya yang berbeda-beda saat mengelola keuangan. Sehingga, jelas bahwa membicarakan ketakutan ini posisinya amat krusial dalam hubungan rumah tangga.

    Misalnya, suami takut terkena penyakit turunan atau istri takut tidak bisa membayar SPP sekolah anak, hal-hal seperti ini harus segera dibicarakan untuk dicari jalan keluarnya. Semakin lama ketakutan-ketakutan ini dipendam, tentu akan bermasalah dengan bagaimana kita mengoperasikan rumah tangga.

    Yang lebih gawat lagi, ketakutan terpendam ini bisa membuat pasangan menjadi curiga. Kecurigaan ini juga acap kali menjadi biang keladi retaknya hubungan rumah tangga.

  5. Menentukan Tujuan Bersama

  6. Berdiskusi dengan pasangan bukan cuma cari-cari kesalahan belaka. Yang juga penting untuk dibicarakan adalah tujuan keuangannya. Tujuan ini harus ada supaya masing-masing merasa memiliki responsibility yang sama.

    Misalnya, menentukan kapan akan punya rumah, mempersiapkan biaya sekolah anak, atau bahkan mempersiapkan dana umroh bersama. Ini adalah beberapa contoh tujuan yang perlu disepakati bersama, jadi baik suami atau istri bisa berusaha dengan caranya masing-masing mencapai tujuan tersebut. Sama-sama terikat.

    Bikin tujuannya, bikin planning-nya, bikin strateginya, capai garis finish bareng-bareng. Namanya juga nikah, ya harus bareng-bareng. Kalau sendiri-sendiri mah namanya friendzoned.

  7. Jangan Terlalu Strict, juga Jangan Terlalu Bebas

  8. Dialog sudah, menentukan tujuan sudah, mengkomunikasikan perbedaan juga sudah, tinggal saatnya kamu belajar legowo terhadap masing-masing minat. Misalnya, suami adalah seorang gamer, ya jangan dilarang-larang buat beli konsol atau PC. Atau, misalnya, istri hobi review skincare, ya jangan dilarang-larang buat beli dan review produk skincare.

    Namun, perlu dicatat bahwa toleransi itu bukan berarti tanpa batas. Suami dan istri harus menyepakati juga batasan-batasan tertentu supaya tidak kalap saat memenuhi minat dan hobi mereka. Jangan sampai hal-hal ini justru mengganggu pengeluaran rumah tanggamu yang lain.

    Mengenai hal tersebut, Fellexandro Ruby memaparkan tipsnya.

    “Ada tiga yang perlu dibahas dengan pasangan. Yang pertama, big money decision. Jadi keputusan besar kaya investasi, beli rumah, renovasi mobil, jalan-jalan, itu semua wajib dibicarakan sama pasangan.

    Yang kedua, routine money decision. Pengeluaran rutin kaya belanja, bayar air, listrik, dan internet, itu harus ada budget-nya sendiri. Pisahkan. Jadi ya selama belum melebihi budget yang ditentukan, silahkan dipakai.

    Sementara yang ketiga, baru ada happy money decision. Ini urusan masing-masing. Jadi ada budget-nya sendiri antara kamu dan pasangan. Udah terserah deh cuy, mau dipake apa, asal gak ganggu budget gue.”

Dengan tips ini, diharapkan para pasangan di Indonesia tidak lagi harus pusing mikirin nggak bisa jajan dan semacamnya. Sebab, pada akhirnya yang terpenting adalah manajemen keuangan dan manajemen komunikasi di dalam rumah tangga.

Individu Daily Update Life Series

Download ONe Mobile

Cerita untuk inspirasi

Read

Education, Investment - 24 Jun 2021

IPO: Arti, Proses, Syarat, & Tujuan Perusahaan Mengajukannya

Read

Education, Investment - 24 Jun 2021

3 Tipe Investor Berdasarkan Profil Risiko, Anda yang Mana?

View All