Mengapa Bisnis Ojol Mampu Bertahan Di Indonesia

19 Feb 2021 Written by: Redaksi OCBC NISP

Apa yang membuat bisnis ojol mampu bertahan di Indonesia?

Sejak menjadi fenomena besar pada tahun 2015, ojek online (ojol) sudah menjadi sarana transportasi yang sangat disukai masyarakat. Sebenarnya aplikasi seperti Gojek sendiri sudah ada sejak tahun 2009, tetapi trennya di Indonesia baru booming pada periode 2015.

Meskipun berbagai macam kontroversi mencuat semenjak kemunculannya, keberadaan ojol sangat membantu masyarakat untuk bisa menemukan kendaraan secara praktis hanya dengan menggunakan aplikasi di telepon genggam saja.

Di samping itu, banyak lapangan pekerjaan yang juga terbuka dari keberadaannya. Profesi pengemudi ojol menjadi pilihan pekerjaan alternatif bagi banyak orang. Tidak mengherankan memang. Penghasilan supir ojol bisa dibilang sangat layak, terutama di masa-masa awal booming, kabarnya bahkan bisa melebihi gaji UMR.

Sebetulnya bisnis ojol bukanlah hal baru di dunia transportasi. Di negara-negara lain pun, bisnis layanan transportasi seperti ini sudah lama berjalan. Sebut saja negara Amerika yang sudah memiliki penyedia jasa transportasi online bernama Uber dan Lyft beberapa tahun sebelum ojol ada di Indonesia.

Namun, Uber dan Lyft sendiri tampaknya sulit untuk menduplikasi transportasi online versi lokal, yakni ojol. Uber sendiri bahkan pernah membuat bisnis serupa, tetapi gagal bersaing dengan GoJek dan Grab, padahal Uber bisa dibilang salah satu pionir transportasi online.

Hal ini tentu membuat berbagai kalangan bertanya-tanya, mengapa ojol sangat sukses di Indonesia?

Hal pertama yang harus kita sadari adalah ojek sudah lama menjadi moda transportasi alternatif di Indonesia. Ojek terhitung lebih murah ketimbang taksi dan lebih efisien waktu ketimbang bus kota, angkot, delman, atau becak. Jadi, sejak dulu, ojek telah menjadi bagian dari kehidupan orang-orang Indonesia.

Sehingga, ketika ojek didigitalisasi, masyarakat jelas menyambutnya dengan antusias. Bagaimana tidak? Moda transportasi paling populer se-Indonesia kini bisa dipanggil kapan pun hanya dengan bermodal satu aplikasi di smartphone. Mau ke pasar, ke tempat kerja, ke sekolah, ke kampus, sekarang bisa semudah manggil ojol.

Nah, ketika gaya hidup banyak orang menjadi lebih mudah diakses seperti ini, secara natural memang permintaannya akan naik drastis. Dan kita tahu bahwa ojek telah menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Mau dilawan seperti apa pun akan sulit untuk mematahkannya.

Di tengah pandemi seperti sekarang ini, bisnis ojol termasuk salah satu bisnis yang tidak terdampak terlalu keras. Sebab, di musim pandemi seperti ini orang juga tetap membutuhkan jasa ojol. Kok bisa? Oh, iya. Sebab ojol ini punya model bisnis yang sangat beragam, sehingga orang menjadi sangat bergantung kepada aktivitasnya.

Coba lihat aplikasi ojolmu. Selain menyediakan jasa transportasi antar-jemput, ojol juga bisa mengirim paket, delivery makanan, hingga mampu membelikan kita kebutuhan-kebutuhan rumah tangga di minimarket. Naturally, di saat orang tak bisa keluar rumah seperti sekarang, ojol jadi solusi pamungkas untuk membeli berbagai macam kebutuhanmu.

Jadi, kesimpulannya, apa yang membuat bisnis ojol kian kokoh di Indonesia?

Jawabannya: kemudahan dan kebutuhan. Ojol mudah untuk diakses dan bisa menempatkan dirinya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Fenomena ini mirip seperti fenomena minimarket beberapa dekade silam. Apa yang ditawarkan minimarket? Mudah diakses, dekat dari rumah, banyak cabang, dan memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Kalau mau bisnismu kokoh seperti ojol, permudahlah masyarakat memenuhi hajat hidup mereka.

Individu Life Series

Cerita untuk inspirasi

Read

Education, Investment - 22 Jun 2021

Biaya Pendidikan Anak dengan SBR010

Read

Education - 22 Jun 2021

Piutang: Pengertian, Jenis, Ciri, & Bedanya dengan Hutang

View All