Apa itu Yield dan Kupon Obligasi?

25 Feb 2021 Written by: Redaksi OCBC NISP

Berbicara mengenai obligasi, kata-kata seperti yield dan kupon akan selalu terdengar karena merupakan dua komponen obligasi yang utama. Seringkali kedua hal tersebut dijadikan acuan dalam memutuskan apakah suatu obligasi layak dibeli oleh seorang investor.

Kupon dalam konteks surat utang, memiliki arti yang serupa dengan bunga pada deposito. Seorang investor akan menerima kupon reguler secara berkala, sama halnya seperti bunga deposito. Nominal kupon sendiri akan ditentukan oleh pihak penerbit (issuer) dari obligasi tersebut, baik itu korporasi ataupun pemerintah. Saat diterbitkan, kupon suatu seri obligasi akan relatif lebih tinggi dibandingkan suku bunga acuan bank sentral saat itu, sebagai “insentif” bagi investor. Besaran kupon ini tetap nilainya selama jangka waktu obligasi.

Gambar di atas akan menjelaskan proses selama tenor obligasi. Terlihat bahwa, investor akan menempatkan dananya atau pokok pada seri obligasi yang dipilih saat pasar perdana atau T0.

Investor akan menerima kupon secara berkala pada periode T1, T2, T3 dan seterusnya, dan investor akan menerima kembali pokok saat jatuh tempo.

Apakah investor harus menunggu hingga jatuh tempo untuk pencairan pokok?

Saat membeli obligasi di pasar perdana, maka investor membeli obligasi di harga 100, atau yang biasa disebut dengan istilah par. Investor yang menahan hingga jatuh tempo, akan menerima pokok di harga par. Seiring dengan waktu dan selama masa jangka waktunya, maka harga obligasi akan mengalami naik turun mengikuti kondisi pasar.

Namun, bagi investor yang ingin mencairkan sebelum jatuh tempo, misalnya untuk melakukan aksi ambil untung akibat kenaikan harga, maka investor dapat menjual obligasi kepemilikannya di pasar sekunder, dan memindahkan kepemilikannya pada investor lain dengan mengikuti harga pasar yang berlaku.

Investor tidak perlu khawatir tidak menerima bunga yang sudah berjalan pada saat menjual di pasar perdana. Investor akan tetap menerima bunga berjalan atau accrued interest atas periode kepemilikannya atas obligasi tersebut, terhitung dari pembayaran kupon terakhir.

Apa yang dimaksud dengan yield?

Yield adalah imbal hasil yang diterima oleh investor yang menyesuaikan antara kupon dan harga yang diterima sepanjang jangka waktu obligasi, atau disebut juga dengan Yield-To-Maturity (YTM). Hal ini perlu diperhatikan oleh seorang investor terutama jika membeli obligasi di pasar sekunder. Di pasar perdana atau harga par maka YTM yang diterima adalah sama dengan kupon. Namun, saat membeli diatas harga par maka YTM yang diterima akan lebih rendah daripada kupon. Sebaliknya, jika membeli obligasi sekunder dengan harga di bawah par, maka YTM yang diterima lebih besar daripada kupon.

Seberapa pentingkah yield-to-maturity?

Tentunya sebelum memutuskan berinvestasi, investor perlu menyesuaikan profil risiko dengan produk yang dipilih. Walaupun obligasi dipandang sebagai kelas aset dengan risiko rendah-menengah, namun bukan berarti tidak akan terjadi fluktuasi atas modal. Jenis penerbit, dan tenor obligasi juga turut menentukan besarnya risiko yang diterima oleh investor. Sebagai contoh, semakin panjang tenor atau jangka waktu obligasi, maka risikonya juga akan semakin tinggi.

Namun tentu saja, prinsip high risk high return berlaku, semakin tinggi risiko obligasi, maka imbal hasilnya (YTM) juga akan lebih tinggi dibandingkan obligasi dengan tenor yang lebih pendek. Untuk investor yang menyukai YTM tinggi, namun tidak ingin jangka waktu yang terlalu panjang, dapat mengelola risiko dengan membagi portofolio pada dua atau lebih seri obligasi dengan tenor berbeda.

Pastikan kamu mengetahui profil risiko kamu sebelum menentukan jenis obligasi yang akan dipilih ya. Selamat berinvestasi!

Individu News Update

Cerita untuk inspirasi

Read

Education, Investment - 24 Jun 2021

IPO: Arti, Proses, Syarat, & Tujuan Perusahaan Mengajukannya

Read

Education, Investment - 24 Jun 2021

3 Tipe Investor Berdasarkan Profil Risiko, Anda yang Mana?

View All