Kerja Keras Sebelum Kerja Cerdas, Prinsip Hidup yang Perlu Kamu Ingat

11 Mar 2021 Written by: Redaksi OCBC NISP

Apa sih definisi dari kerja keras dan kerja cerdas? Apakah benar bahwa bekerja keras merupakan sebuah konsep yang obsolete? Apakah iya kerja cerdas adalah satu-satunya jawaban untuk menyelesaikan problem di era modern ini? Simak dalam artikel berikut

“Jika kita bekerja keras, apa pun yang kita inginkan pasti tercapai.” Nasihat semacam ini rasanya sudah bukan merupakan hal baru bagi kita. Pesan ini tak pernah berhenti diulang-ulang oleh para generasi terdahulu supaya kita menjadi anak-anak yang rajin.

Namun, pada masa kini, banyak orang yang mulai menganggap bahwa prinsip kerja keras ini sudah ketinggalan zaman. Pada zaman yang serba instan dan inovasi yang semakin banyak, tampaknya semakin banyak pula orang yang menganggap bahwa kerja keras itu bukan sebuah keharusan. Yang penting smart, begitu katanya.

Tak pelak, muncullah pertentangan antara kerja keras vs kerja cerdas.

Tapi sebenarnya, apa sih definisi dari kerja keras dan kerja cerdas? Apakah benar bahwa bekerja keras merupakan sebuah konsep yang obsolete? Apakah iya kerja cerdas adalah satu-satunya jawaban untuk menyelesaikan problem di era modern ini?

Kerja keras

Ingin mahir bermain gitar? Latihan. Ya hanya itu cara satu-satunya. Korbankan waktu dan energi untuk berlatih sampai jago.

Di dunia ini, tidak ada gitaris hebat yang bisa tiba-tiba lihai hanya dalam hitungan detik. Mereka butuh waktu bulanan, tahunan, atau bahkan dekade untuk menguasai teori-teori bermain gitar yang baik.

Inilah yang disebut dengan kerja keras. Kamu rela menyisihkan resource berupa waktu, tenaga, atau bahkan uangmu sendiri demi mendapatkan sesuatu, bahkan jika itu harus mengorbankan waktu hingga seumur hidupmu.

Kerja cerdas

Lalu, apa itu kerja cerdas? Konsep kerja cerdas adalah mencari shortcut, yakni mencari cara-cara yang paling efisien dan efektif untuk menyelesaikan pekerjaan. Bukan berarti dilakukan dengan cara curang, tetapi dilakukan dengan cara yang paling efisien; baik efisien waktu, tenaga, atau uang.

Misalnya, kamu menyewa freelancers untuk menyelesaikan pekerjaan pribadimu. Ini adalah salah satu contoh kerja cerdas yang paling basic. Kamu memang keluar uang, tetapi kamu lebih hemat tenaga dan waktu, dan bisa memaksimalisasi skill-mu di bidang yang lain--yang artinya kamu punya potensi lebih untuk mencari pendapatan tambahan.

Jadi, mana yang lebih baik?

Sebenarnya, pertanyaan ini agak kurang tepat untuk ditanyakan. Karena, yang paling penting itu bukan mengetahui mana yang lebih baik, tetapi kapan waktu yang tepat kamu melakukan keduanya.

Untuk mengatakan bahwa kerja cerdas merupakan konsep yang paling baik–maupun sebaliknya, sebenarnya bisa dibilang sedikit naif. Ini karena kondisi dan situasi dari setiap orang sendiri berbeda-beda. Juga akan tergantung dari banyaknya pengalaman yang telah dilalui oleh seseorang.

Misalnya, seperti tukang bangunan yang menggunakan katrol modifikasi dari roda motor untuk mengangkat batako ke lantai dua. Ini adalah kerja cerdas. Sekali angkut, bisa beberapa batako sekaligus tiba di lantas atas. Hemat waktu, hemat tenaga. Jadi tidak perlu repot-repot angkat batu secara manual lagi dengan menaiki tangga.

Nah, pertanyaannya, dari mana para kontraktor ini punya ide cemerlang seperti demikian? Tentu saja dari pengalaman kerja bangunan di lapangan. Dari kerja keras.

Jadi, kuncinya adalah: kerja cerdas itu hanya bisa dilakukan setelah kamu punya pengalaman bekerja keras. Kerja cerdas itu tidak akan efektif jika para pelakunya tidak pernah merasakan sendiri rasanya bekerja keras. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa >kerja keras dan kerja cerdas ini sifatnya komplementer, saling melengkapi.

Ingat, tujuan akhir kerja cerdas itu juga efektif, bukan cuma efisiennya saja. Kalau cuma mau efisien saja, tetapi tidak efektif, itu namanya malas.

Masa muda adalah masa-masa kerja keras

Dari pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kerja keras dan kerja cerdas adalah sebuah momen. Jika dihubungkan dengan usia dan pengalaman seseorang, masa-masa muda sebenarnya merupakan masa-masa kita bekerja keras. Untuk dapat pengalaman, untuk dapat wawasan, untuk dapat kenalan, juga untuk dapat pengakuan.

Setelah mendapatkan ‘modal-modal’ tersebut, barulah kita bisa merancang sendiri ‘kerja cerdas’ yang kita inginkan.

Analogi yang paling mudah adalah membayangkan posisi staf dan manajer. Staf adalah sebuah representasi kerja keras karena hampir seluruh tenaga operasional perusahaan ada di tangan mereka, sementara manajer adalah representasi kerja cerdas karena tugas mereka adalah mengelola para staf supaya bekerja dengan efektif.

Untuk bisa menjadi manajer yang efektif, kamu perlu tahu dulu pahit dan manisnya menjadi staf. Tidak mungkin seorang fresh graduate langsung diangkat menjadi manajer--kecuali kamu punya privilege khusus. Seperti inilah hubungan antara kerja keras dan kerja cerdas.

Itulah mengapa biasanya staf berusia muda dan manajer berusia lebih tua, karena manajer dianggap sudah pernah punya pengalaman bekerja keras di lapangan.

So, don’t waste your youth. Jangan kebanyakan ngimpi aja. Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, gapai wawasan setinggi-tingginya, supaya kamu bisa merancang kerja cerdasmu sendiri.

Individu Life Series

Cerita untuk inspirasi

Read

Education - 18 Jun 2021

Mengenal Sistem Pembayaran Cashless Hingga Plus Minusnya

Read

Education - 18 Jun 2021

Anggaran Keuangan: Pengertian, Tujuan Hingga Tipe-Tipenya

View All