Apa itu Capital Budgeting? Arti, Manfaat, Metode, & Contoh

10 Jun 2021 Written by: Redaksi OCBC NISP

Ingin buat proyek/investasi dengan dana besar? Susun capital budgeting dulu yuk.

Capital budgeting adalah aktivitas wajib bagi entitas manapun yang ingin membuat proyek/investasi dengan biaya besar. Tanpa capital budgeting, pendanaan proyek akan kacau dan rentan dimanfaatkan orang tidak bertanggung jawab. Tapi persisnya, apa itu capital budgeting? Bagaimana metode capital budgeting sesuai standar? Bagaimana contoh capital budgeting perusahaan? Simak pembahasan ini hingga selesai.


Apa Itu Capital Budgeting?

Capital budgeting adalah sebuah proses evaluasi bisnis guna menilai layak tidaknya sebuah proyek/rencana besar perusahaan dilaksanakan. Sementara itu, pengertian capital budgeting dalam manajemen keuangan adalah proses menganalisa input dan output sebuah proyek dari segi finansial guna memastikan proyek tersebut mencapai profit diharapkan.

Di antara proses bisnis lainnya, capital budgeting adalah yang paling esensial. Jika dalam proses capital budgeting tidak disepakati, maka proyek perusahaan sebesar apapun tidak boleh dimulai. Saat capital budgeting dilakukan, divisi keuangan biasanya mempertimbangkan 2 kepentingan, yaitu 1) kepentingan profit masa depan, dan 2) kepentingan investor.


Manfaat Capital Budgeting Bagi Perusahaan

Capital budgeting punya banyak manfaat bagi perusahaan, terutama perusahaan penerima pendanaan dari investor. Adapun manfaat capital budgeting adalah sebagai berikut:

  1. Menunjukkan Faktor Risiko Proyek/Investasi
    Dalam proses capital budgeting, divisi keuangan wajib meneliti risiko-risiko apa saja yang berpotensi terjadi jika proyek dimulai. Daftar risiko tersebut kemudian wajib ditimbang dan dicari solusinya. Jika ternyata risikonya terlalu besar, maka pihak penanggung jawab proyek wajib mengajukan rencana solusi sebelum proyeknya disetujui.

  2. Menentukan Jenis Proyek yang Dapat Dilakukan
    Manfaat kedua capital budgeting adalah memberikan alternatif proyek lebih minim risiko/menguntungkan bagi perusahaan. Siapapun dapat mengajukan rencana proyek guna melewati proses capital budgeting. Akan tetapi, perusahaan berhak menentukan rencana mana yang lebih baik didanai.

  3. Membantu Perusahaan Membuat Rencana Jangka Panjang
    Dalam proses capital budgeting, divisi keuangan umumnya dapat membuat beberapa opsi pelaksanaan proyek sekaligus, mulai dari jangka pendek hingga proyek jangka terpanjang. Sebelum menyetujui pendanaan sebuah proyek, umumnya divisi keuangan akan memprediksi terlebih dulu kebutuhan keuangan dalam jangka minimal 1 tahun.

  4. Menunjukkan Sisi Keuntungan Proyek Kepada Investor
    Bagi perusahaan dengan pendanaan dari investor, capital budgeting adalah proses yang menguntungkan. Selain bukti profesionalitas perusahaan, capital budgeting juga dapat menunjukkan sisi profitabilitas sebuah proyek berdasarkan data terpercaya.

  5. Menghindarkan Proyek dari Oknum
    Tidak dapat dipungkiri, proyek perusahaan adalah salah satu kegiatan rawan mark-up oleh oknum tidak bertanggung jawab. Dengan adanya capital budgeting, Anda dapat menghindarkan potensi pelanggaran oleh para penanggung jawab proyek di perusahaan. Sehingga dana perusahaan dapat dimanfaatkan dengan seefektif dan seefisien mungkin, tanpa adanya tindak korupsi.


Macam-Macam Metode Capital Budgeting

Dalam prosesnya, divisi keuangan dapat menggunakan berbagai macam metode capital budgeting sekaligus. Adapun metode-metode capital budgeting adalah sebagai berikut.

  1. Net Present Value (NPV)
    Metode capital budgeting yang pertama adalah Net Present Value (NPV), Dalam metode ini, budget proyek akan dihitung berdasarkan potensi perkembangan nilainya di masa depan. Perhitungan metode NPV hanya dapat diterima jika proyeknya memiliki nilai di atas Rp0. Agar lebih paham, berikut ini contoh capital budgeting menggunakan metode Net Present Value.

    Di metode NPV, contoh kasus capital budgeting adalah sebagai berikut.

    PT. Sinar Jaya berniat memberikan pendanaan sebesar Rp2 milyar di salah satu proyek perusahaannya, yaitu proyek A atau proyek B. Proyek A menghasilkan cash flow sebesar Rp100 juta/tahun selama 20 tahun dengan discount rate 10%. Sedangkan Proyek B menghasilkan cash flow Rp90 juta selama 30 tahun dengan discount rate 10%.

    Berdasarkan perhitungan NPV, maka:

    NPV Proyek A =
    = (Rp100,000,000*20 tahun) - 10%(Rp100,000,000*20 tahun)
    = Rp2,000,000,000 - Rp200,000,000
    = Rp1,800,000,000 (Rp1,8 milyar)

    NPV Proyek B =
    = (Rp90,000,000*30 tahun) - 10%(Rp90,000,000*30 tahun)
    = Rp2,700,000,000 - Rp270,000,000
    = Rp2,430,000,000 (RP2,43 milyar)

    Dengan demikian, maka proyek yang lebih berhak mendapat pendanaan adalah Proyek B, karena NPV-nya lebih besar.

  2. Internal Rate of Return (IRR)
    Metode capital budgeting berikutnya adalah Internal Rate of Return (IRR). Metode IRR capital budgeting adalah metode yang mempertimbangkan waktu, selain perhitungan nilai Future Value (FV) uang. Berbagai ahli menyebut bahwa metode IRR jauh lebih efektif dan akurat dibandingkan NPV.

    Contoh capital budgeting menggunakan IRR begini:

    Proyek A dihitung dapat menghasilkan profit sebesar 35% dari pendanaan 10 tahun, sedangkan proyek B menghasilkan profit 25% dari pendanaan 5 tahun. Baik proyek A dan B mendapat pendanaan sebesar Rp100 juta. Maka nilai IRR masing-masingnya adalah:

    IRR Proyek A =
    = [Rp100,000,000 + (35%XRp100,000,000)]/10 tahun
    = Rp135,000,000/10 tahun = Rp13,500,000

    IRR Proyek B =
    = [Rp100,000,000 + (25%XRp100,000,000)]/5 tahun
    = Rp125,000,000/5 tahun = Rp25,000,000

    Presentase profit proyek A memang lebih tinggi dari dari proyek B, tapi dari segi IRR, proyek B lebih besar. Sehingga proyek B lebih pantas mendapat pendanaan berikutnya dari perusahaan.

  3. Average Rate of Return (ARR)
    Metode capital budgeting selanjutnya adalah Average Rate of Return. Perhitungan capital budgeting menggunakan metode ini mirip dengan IRR, akan tetapi yang dihitung adalah rata-rata pendapatan per tahunnya.

    Berikut ini contoh capital budgeting metode ARR:

    Dalam 5 tahun terakhir, proyek A dan B yang mendapatkan pendanaan Rp100 juta, mendapatkan pendapatan sebagai berikut:

    Berdasarkan total pendapatan, proyek A memiliki perhitungan jumlah lebih besar dibanding proyek B. Akan tetapi, dari segi rata-rata, proyek B memiliki Average Rate of Return lebih tinggi daripada proyek A. Sehingga jika mengikuti metode ARR, proyek yang mendapat pendanaan adalah proyek B.

  4. Payback Period (PP)
    Metode selanjutnya capital budgeting adalah Payback Period, yaitu metode capital budgeting berdasarkan waktu kembalinya pendanaan. Dalam metode ini, keputusan capital budgeting diambil berdasarkan durasi proyek mencapai BEP.

    Contoh capital budgeting metode Payback Period:

    Proyek A menghasilkan pendapatan sebesar Rp25 juta per tahun, sedangkan proyek B menghasilkan Rp20 juta per tahun. Pendanaan yang tersedia untuk salah satu dari dua proyek tersebut adalah Rp200 juta. Dengan demikian, waktu Payback Period-nya tiap proyek adalah:

    PP Proyek A = Rp200,000,000/Rp25,000,000 = 8 tahun
    PP Proyek B = Rp200,000,000/Rp20,000,000 = 10 tahun

    Dengan demikian, jika menggunakan metode capital budgeting PP, yang berhak mendapat pendanaan adalah proyek A, karena durasi pengembaliannya lebih pendek.


Itulah panduan tentang apa itu capital budgeting, manfaat, metode, proses, sekaligus contoh capital budgeting untuk Anda. Meski outputnya berbentuk konsep, capital budgeting adalah aktivitas pantang terlewat sebelum proyek/investasi disetujui. Oleh karena itu, apabila Anda ingin mengajukan proyek ke perusahaan, jangan lupa belajar capital budgeting dulu ya!

Download ONe Mobile

Cerita untuk inspirasi

Read

Investment, News Update - 4 Aug 2021

Rediscover your wealth journey with us

Read

Education, Investment - 2 Aug 2021

Pengertian Pasar Uang, Fungsi, dan 8 Contoh Instrumennya

View All