Related Product

Wealth Management

Wealth Management

Inflasi Indonesia tembus 2%, overheating?

8 Mar 2022 Written by:Redaksi OCBC NISP

Konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina diperkirakan akan turut menyumbang kenaikan inflasi periode mendatang, menariknya, angka inflasi Indonesia saat ini masih menunjukan keadaan yang cukup kondusif di tengah berbagai macam ketidakpastian global saat ini.

Dalam berinvestasi, tentunya pelaku pasar harus memperhatikan beberapa keadaan makro ekonomi suatu negara tersebut. Nah, salah satu indikator makro ekonomi terpenting adalah angka inflasi. Angka inflasi dianggap sebagai barometer untuk mengetahui keadaan ekonomi suatu negara. Semakin meningkat kondisi perekonomian suatu negara, maka inflasi akan cenderung mengalami kenaikan, dan sebaliknya. Beberapa negara maju terlihat mengalami kenaikan inflasi yang cukup tajam dalam setahun terakhir ini, yang berakibat pada kebijakan moneter yang lebih ketat.

Selain itu, konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina diperkirakan akan turut menyumbang kenaikan inflasi periode mendatang, dimana sanksi yang diberikan untuk Rusia akan berdampak terhadap terganggunya distribusi global akan beberapa jenis komoditas dan bahan makanan. Sehingga, akan mendorong kenaikan harga. Seperti diketahui, Rusia cukup memegang peranan penting terhadap pasokan nikel dan minyak secara global karena Rusia menyediakan 18% kebutuhan nikel dan 12% kebutuhan minyak secara global. Selain itu pula, Ukraina juga berperan sebagai eksportir terbesar gandum dan biji matahari.

Menariknya, angka inflasi Indonesia saat ini masih menunjukan keadaan yang cukup kondusif di tengah berbagai macam ketidakpastian global saat ini. Angka inflasi Indonesia bulan Februari dirilis di angka 2.06% secara tahunan, yang menandakan proses pemulihan ekonomi Indonesia sedang berlangsung di tengah pandemi. Walaupun angka inflasi ini berada di atas 2 persen, namun secara historis, angka ini masih dalam kisaran inflasi yang cukup rendah, seperti yang terlihat pada grafik berikut:

Source: Bloomberg, per tanggal 28 Februari 2022*

Berbeda dengan kenaikan laju inflasi yang tinggi di negara maju seperti AS dan Eropa, di tengah pengetatan kebijakan moneter atau kenaikan suku bunga, hal ini mengakibatkan imbal hasil obligasi global bergerak naik, atau mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Laju inflasi Indonesia yang terkendali tidak serta merta mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Sehingga, pergerakan dari surat utang negara saat ini berada cukup stabil dengan kisaran imbal hasil yang diperdagangkan pada level 6.5%.

Tentunya kebijakan Bank Indonesia maupun pemerintah Indonesia memegang peranan penting untuk selalu menjaga angka inflasi agar tetap terkendali. Kebijakan Bank Indonesia untuk menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap yang berlaku mulai dari bulan Maret hingga September 2022, diharapkan akan dapat mengendalikan laju inflasi ke depannya, tanpa harus menaikkan suku bunga secepatnya. Hal ini akan turut menjaga kestabilan imbal hasil obligasi ke depannya. Bagi investor obligasi, imbal hasil yang ditawarkan saat ini cukup menarik untuk kembali diakumulasi, mengingat pemerintah cukup sigap dalam menangani inflasi. Manfaatkan pula reksa dana pendapatan tetap yang memberikan dividen secara bulanan, karena jenis obligasi yang dipilih adalah obligasi tenor pendek sehingga cocok untuk investor dengan profil risiko konservatif.

Download ONe Mobile

Cerita untuk inspirasi

Read

Investment - 9 May 2022

investasi-bertahap-dengan-RD

Read

Investment - 9 May 2022

pasar-saham-sell-or-buy

View All