Related Product

ONe Mobile

ONe Mobile

Prinsip CDD (Customer Due Diligence) dan Pentingnya bagi PJK

9 Mar 2022 Written by: Redaksi OCBC NISP

Penerapan CDD (Customer Due Diligence) untuk menghindari pencucian uang. Simak!

Dalam kondisi tertentu, ada kalanya Penyedia Jasa Keuangan (PJK) seperti bank dan lainnya diharuskan melakukan Uji Tuntas Nasabah atau yang biasa disebut juga sebagai CDD (Customer Due Diligence). Jadi sederhananya, CDD adalah kegiatan identifikasi, verifikasi, dan pemantauan oleh PJK pada nasabah guna memastikan transaksi tersebut sudah sesuai dengan profil.

Bahkan bukan hanya itu, bank juga akan mengecek karakteristik hingga pola transaksi calon nasabah atau WIC (Walk In Customer) agar tidak terjadi kesalahan. Untuk lebih jelasnya, simak langsung penjelasan lengkapnya di bawah ini!


Apa itu CDD?

CDD adalah kegiatan yang terdiri atas identifikasi, verifikasi, serta pengawasan yang dilaksanakan oleh instansi jasa keuangan kepada calon nasabahnya guna memastikan bahwa aktivitas transaksi tersebut sesuai dengan profil risikonya.


Mengapa Prinsip CDD dibutuhkan?

Terdapat beberapa alasan mengapa Customer Due Diligence atau CDD adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh sebuah instansi jasa keuangan, di antaranya:

  1. Kecurigaan pencucian uang
    Apabila seorang nasabah dicurigai melakukan tindak pencucian uang atau mengakomodasi aksi terorisme, maka bank wajib melakukan CDD.

  2. Hubungan bisnis baru
    Bank juga harus melakukan penilaian CDD sesaat sebelum melakukan hubungan bisnis baru. Hal itu bertujuan untuk memastikan bahwa nasabah dapat memenuhi profil risiko mereka dan tidak memakai data diri pribadi.

  3. Transaksi berkala
    Beberapa transaksi di bank yang secara berkala juga memerlukan CDD. Proses CDD adalah memungkinkan sejumlah uang terlibat dengan batasan tertentu atau hal berisiko tinggi.

  4. Dokumentasi yang meragukan
    Jika pada saat identifikasi dokumen nasabah tidak lengkap dan tidak dapat diproses, maka bank harus mengaplikasikan CDD yang lebih mendalam terhadap nasabah tersebut.


Kapan Sebuah Bank Harus Melakukan CDD?

Hal berikutnya yang perlu Anda ketahui mengenai CDD adalah kondisi seperti apa yang mengharuskan bank melakukan kegiatan ini, seperti berikut.

  • Kondisi pertama yang mengharuskan bank melakukan CDD adalah saat membuat kerja sama bisnis dengan calon nasabah.
  • Adanya kegiatan transaksi keuangan menggunakan mata uang rupiah atau asing yang nilainya paling kecil atau sama dengan Rp100 juta.
  • Adanya kegiatan transaksi keuangan terkait program anti pencucian uang dan pemberantasan pendanaan aksi terorisme di bidang jasa keuangan sebagaimana yang disebut oleh OJK.
  • Indikasi adanya tanda-tanda kegiatan transaksi keuangan yang mencurigakan terkait dengan pencucian uang atau pendanaan terorisme.
  • Lalu kondisi terakhir yang mengharuskan bank melakukan CDD adalah ketika adanya keraguan mengenai informasi yang diberikan nasabah atau calon nasabah.

Dasar-dasar CDD

Pada dasarnya, CDD adalah suatu proses pemeriksaan atau verifikasi oleh bank terkait data diri nasabah dan aktivitas bisnis yang mereka jalankan sampai bank mendapatkan kepercayaan terhadap nasabahnya. Prosesnya mencakup dasar-dasar sebagai berikut:

  1. Identifikasi nasabah
    Bank harus mengidentifikasi nasabahnya dengan cara meminta data diri pribadinya secara lengkap yang mencakup nama lengkap, KTP, dan akta kelahiran.

  2. Kepemilikan penerima
    Penilaian CDD adalah melibatkan identifikasi kepemilikan suatu bank yang berhubungan dengan pemahaman mengenai struktur organisasi bank tersebut.

  3. Hubungan bisnis
    Lalu yang terakhir, proses yang meliputi jalannya CDD adalah bank harus mendapatkan informasi terkait hubungan bisnis yang akan mereka jalani serta apa saja tujuan bisnis tersebut secara rinci dan jelas.


Cara kerja CDD

CDD adalah hal penting dilakukan dalam mengelola risiko yang mungkin akan dihadapi oleh sebuah instansi jasa keuangan. Cara kerja untuk melakukan CDD adalah:

  • Menetapkan data diri dan aktivitas bisnis dari calon nasabah sebelum menjalin kerja sama bisnis dengan mereka, hal tersebut dapat membantu bank dalam mencegah adanya aksi penipuan.
  • Mengkategorikan jenis-jenis risiko nasabah sebelum menyimpan informasi tentang mereka secara digital, agar bisa diakses di waktu yang akan datang jika ingin diperiksa ulang.
  • Menentukan apakah EDD atau Enhance Due Diligence perlu dilaksanakan atau tidak.

Pelaksanaan CDD di Indonesia

Pelaksanaan CDD di Indonesia telah diatur oleh BI (Bank Indonesia) melalui Peraturan No. 14/27/PBI/2012 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. Di dalam peraturan tersebut, tertulis bahwa secara garis besar, prosedur CDD di Indonesia harus dilakukan dengan cara:

  • Meminta calon nasabah untuk memberikan informasi mengenai identitas dirinya.
  • Mengidentifikasi data diri dari pemilik penerima akun atau rekening yang dimaksud.
  • Melakukan verifikasi terkait dokumen yang sudah diberikan oleh nasabah.
  • Memperbaharui data dan melakukan observasi kembali secara rutin kedepannya.

Demikian penjelasan seputar CDD yang berhasil OCBC rangkum untuk Anda. Pada intinya, adanya CCD ini dimaksudkan guna menghindari terjadinya pencucian uang dan aksi pendanaan terorisme. Menarik, bukan? Untuk itu, jangan lupa juga baca artikel OCBC lainnya di bawah ini ya, sampai jumpa!


Baca Juga:

Download ONe Mobile

Cerita untuk inspirasi

Read

Investment - 9 May 2022

investasi-bertahap-dengan-RD

Read

Investment - 9 May 2022

pasar-saham-sell-or-buy

View All