Investing at Home - Part I

14 Jul 2020 Ditulis oleh:OCBC NISP Wealth Management

Untuk pekan ini, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways

    Lonjakan kasus yang membuat California menutup kembali aktivitas bisnis

    Bursa saham AS ditutup melemah pada perdagangan di awal pekan, setelah mencatatkan penguatan pada pekan lalu. Lonjakan kasus masih terus terjadi di beberapa negara bagian AS, dengan total kasus COVID-19 di AS yang hampir mencapai 3.5 juta kasus. Hal ini membuat Gubernur California, Gavin Newsom memerintahkan aktivitas bisnis untuk ditutup kembali. Seluruh bar dan restoran dine-in, bioskop, museum serta kegiatan usaha indoor lainnya di California akan kembali ditutup. Rumah sakit California juga melaporkan peningkatan jumlah pasien rawat inap coronavirus, yang meningkat sebesar 28% dalam periode dua minggu terakhir.


    Namun, harapan akan perkembangan vaksin terus dinantikan oleh para investor. Saat ini emiten AS Pfizer dan emiten JermanBioNTech diberikan jalur cepat oleh otoritas pengobatan AS untuk mengembangkan vaksin mereka. Manajemen kedua perusahaan menyatakan bahwa mereka akan memulai fase selanjutnya uji vaksin bulan ini terhadap 30,000 subyek.

    Perusahaan menargetkan untuk melakukan produksi sebanyak 100 juta dosis di akhir tahun ini dan 1.2 miliar lagi pada akhir tahun depan. Selain itu, pasar juga merespon positif hasil uji coba obat virus corona, Remdesivir oleh perusahaan biotek AS Gilead Sciences Inc, yang pada Jumat lalu dikabarkan mampu menurunkan risiko kematian pasien COVID-19 hingga 62%, jika dibandingkan dengan pengobatan standar.

    Musim pendapatan juga dimulai pada pekan ini. Tetapi para investor sudah menetapkan patokan yang rendah dalam rilisan pendapatan kuartal kedua ini, akibat perusahaan yang tertekan oleh pandemi. Menurut data Refinitiv, laba perusahaan diprediksi akan jatuh sebesar 44% pada kuartal kedua, dengan sektor finansial diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 52%. Untuk hari Selasa ini waktu AS, beberapa saham perbankan akan merilis laporan keuangannya, dimana JP Morgan dan Citigroup akan merilis terlebih dahulu.

     

    Tensi AS – China yang masih meningkat

    Di sisi lain, ketegangan yang akhir-akhir ini meningkat antara AS dan Cina menjadi sentimen negatif bagi pergerakan pasar. Akhir pekan lalu, Trump mengatakan bahwa beliau tidak lagi memikirkan kesepakatan perdagangan AS – Cina tahap selanjutnya, menambahkan jika hubungan antara kedua negara tersebut telah rusak karena pandemi COVID-19. Ditambah saat ini AS – Cina juga sedang ribut mengenai masalah Laut China Selatan.

    Pekan lalu para pejabat tinggi AS mendesak Cina memenuhi janjinya untuk menambah jumlah pembelian barang dari AS, sesuai perjanjian tahap pertama. Mereka mengatakan bahwa upaya untuk memerangi pandemi virus corona dan pemulihan pertumbuhan global sebagian bergantung pada keberhasilan implementasi kesepakatan perdagangan antara AS dan Cina. Dikhawatirkan ketegangan yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir berpotensi membuat perang terbuka antara kedua negara semakin lebar dan tentunya perang adalah hal yang buruk bagi perekonomian, apalagi di tengah pandemi yang masih berlangsung.

     

    Pasar keuangan domestik dan potensi kedepan

    IHSG ditutup menguat pada perdagangan di awal pekan, berada di level 5,064.45. Namun, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 191.80 miliar di pasar reguler. Pasar masih merespon positif perkembangan vaksin untuk virus corona, serta berbagai kebijakan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia, seperti skema burden sharing, dan juga kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk menempatkan dana triliunan rupiah di Bank Pembangunan Daerah dan Bank Swasta, bukan hanya Bank plat merah.

    Untuk pekan ini, IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways. Rilis neraca perdagangan periode Juni, dan juga pengumuman BI7DRRR pada pekan ini akan menjadi fokus para pelaku pasar. Seiring dengan inflasi yang hampir tidak ada di bulan Juni; sebesar1.96% YoY, melambat dibandingkan Mei 2.19%, Bank Indonesia berpotensi untuk kembali memangkas suku bunga sebesar25 bps menjadi 4.00%.

    Di sisi lain, kasus harian yang masih menanjak di dalam negeri dapat menjadi pembeban bagi pergerakan pasar saham. Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di ASEAN dengan total 76,981 kasus per 13 Juli 2020. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengingatkan soal kembali ke status PSBB yang ketat apabila kondisi belum terkendali. Hal ini bisa menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan Indonesia, karena kekhawatiran pemulihan ekonomi yang dapat tertunda.

    Pergerakan harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia juga masih melanjutkan penguatan, dengan imbal hasil tenor 10 tahun turun ke kisaran level 7.07% kemarin. Sama halnya dengan mata uang Rupiah yang masih menguat, ditutup di level 14,425. Skema burden sharing Pemerintah dan Bank Indonesia masih terus mendorong penguatan rupiah dan obligasi. Pemerintah dan BI telah berkomitmen untuk membuat kebijakan yang sehat, sehingga inflasi dan nilai tukar rupiah dapat terjaga. Hari Selasa ini, Pemerintah akan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara untuk memenuhi sebagian target dari pembiayaan APBN 2020. Sentimen positif yang masih terasa ini berpotensi membuat para investor masuk ke dalam pasar obligasi. Imbal hasil masih berpotensi untuk mengalami penurunan dalam jangka pendek.

    Sumber: Bloomberg, CNBC, Worldometer

     

     

    DISCLAIMER

    Dokumen ini dipersiapkan oleh OCBC NISP Wealth Advisory Workgroup. Informasi yang terdapat di dalam dokumen ini diambil dari narasumber terpercaya namun tidak ada jaminan terhadap akurasi dan kelengkapannya. Gambaran-gambaran, angka-angka dan seluruh informasi yang dimuat dalam dokumen ini tidak dibuat sehubungan dengan keadaan keuangan perseorangan manapun. Informasi ini bukan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu penawaran untuk menjual atau suatu ajakan untuk membeli suatu produk keuangan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu nasihat investasi. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikasi kinerja masa depan. Dokumen penawaran atas produk terkait harus dipelajari secara lebih jauh. Setiap perkiraan, proyeksi, atau target yang ditampilkan disini hanya merupakan suatu indikasi dan tidak dijamin dalam bentuk apapun. Kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian baik langsung, tidak langsung ataupun sebagai konsekuensi yang timbul karena penggunaan dari dan ketergantungan atas informasi yang berasal dari dokumen ini. Opini-opini yang terdapat dalam dokumen ini mencerminkan keadaan saat ini, dan karenanya dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Individu News Update Investasi

Story for your Inspiration

Baca

Education - 4 Mei 2021

Ingin Beli Mobil? Lengkapi 7 Syarat Kredit Mobil di Bank Ini

Baca

Education - 3 Mei 2021

Unique Selling Point - Arti, Contoh & Mengapa itu Penting

See All