Investing at Home - Part II

29 Jul 2020 Ditulis oleh:OCBC NISP Wealth Management

Pasar saham dalam negeri, IHSG mengalami pelemahan tipis sebesar -0.07%

    Disetujuinya perpanjangan stimulus untuk pandemik di AS

    Setelah mengalami perdebatan yang cukup panjang, akhirnya pemimpin Senat AS Mitch McConnell menyetujui stimulus tambahan untuk menanggulangi dampak negatif dari pandemik COVID-19. Paket stimulus tersebut berupa bantuan langsung tunai sebesar US$ 1,200 kepada masyarakat yang tidak bekerja. Program ini untuk menggantikan program sebelumnya dengan bantuan sebesar US$ 600 yang akan berakhir pada pekan ini. Langkah ini diambil oleh pemerintah AS seiring dengan jumlah kasus infeksi COVID-19 yang terus meningkat di wilayah AS dengan total mencapai 4.2 juta jiwa dengan angka kematian mencapai 147,303 jiwa. Hal ini membuat volatilitas pergerakan pasar saham AS meningkat namun optimisme para pelaku pasar tetap positif.


    Kemudian, fokus para pelaku pasar akan tertuju pada dua agenda penting pada minggu ini, yaitu rilisan data pertumbuhan ekonomi AS atau GDP Q2 2020 yang diprediksi akan kembali terkontraksi signifikan dengan estimasi mencapai -35% serta pertemuan pejabat Fed pada FOMC Meeting. Fed diperkirakan akan menahan suku bunga tetap rendah di 0 – 0.25%, akan tetapi komentar Jerome Powell akan arah pemulihan ekonomi dan suku bunga akan menjadi fokus utama.

     

    Debut awal Hang Seng Tech Index

    Pada perdagangan dua hari yang lalu tepatnya pada hari Senin, Hong Kong merilis indeks Hang Seng Tech Index yang merupakan indeks saham yang berisi 30 perusahaan teknologi Hong Kong yang telah memenuhi kriteria dan standar tertentu. Terdapat lima perusahaan yang apabila digabungkan berkontribusi terhadap 40% dari total komposisi Hang Seng Tech Index tersebut. Kelima perusahaan tersebut adalah Alibaba, Tencent, Meituan Dianping, Xiaomi, dan Sunny Optical. Kemudian disusul oleh perusahaan seperti Ali Health, JD.com, Lenovo, Ping An Good Doctor dan ZTE. Euforia di sektor teknologi mendorong penguatan indeks saham ini sebesar 3.51% pada perdagangan di hari Selasa

     

     

    Pasar keuangan domestik dan potensi ke depan

    Dari dalam negeri, Presiden Jokowi mematok angka defisit dalam RAPBN 2021 sebesar 5.2% dari PDB, dimana hal tersebut mengalami peningkatan dari level sebelumnya yaitu 4.17% dari PDB. Hal ini diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi supaya berada di kisaran 4.5 – 5.5% untuk 2021. Selain itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun depan akan sangat bergantung pada proses pemulihan ekonomi di kuartal III dan IV tahun ini. Jika pengendalian COVID-19 berjalan efektif, maka perekonomian kuartal III dapat bertumbuh 0 hingga 0.4%, dan diikuti kenaikan sebesar 2-3% di kuartal IV.

    Pasar saham dalam negeri, IHSG mengalami pelemahan tipis sebesar -0.07% ke level 5,112.98. Pelemahan ini juga disebabkan oleh investor asing yang kembali melakukan jual bersih sebanyak Rp 235.16 miliar di pasar reguler, namun ekspektasi akan positifnya kinerja laporan keuangan sejumlah emiten perbankan besar pada pekan lalu memberikan dorongan positif ke pasar saham, selain itu juga optimisme akan produksi vaksin COVID-19 juga ikut mendorong kinerja saham di sektor farmasi. Pelaku pasar diperkirakan akan menunggu data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II – 2020 yang akan dirilis pada 5 Agustus 2020 mendatang.

    Melemahnya US Dollar Index juga mendorong Rupiah menguat 0.1% di pasar spot ke level 14,535 dan mencatatkan kinerja terbaik di pasar Asia dalam satu hari perdagangan.

    Pemerintah kemarin berhasil melelang surat utang negara sebagai pembiayaan anggaran sebesar Rp 22 triliun. Penawaran yang masuk mencapai Rp 72.78 triliun, dengan penawaran tertinggi masuk untuk seri obligasi FR082 sebesar Rp 21.36 triliun. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun ke level 6.85%. Selain itu, investor juga akan menunggu rilisan angka inflasi Juli, yang diprediksi akan turun ke 1.7% year-over-year, dibandingkan inflasi Juni yang berada di 1.96%.

    Walaupun pada semester II, pemerintah berencana melelang surat utang hingga Rp 900 triliun, namun dengan adanya skema burden sharing, inflasi rendah, melimpahnya likuiditas global serta rendahnya real yield obligasi negara maju, maka hal ini akan mendorong kenaikan permintaan obligasi pemerintah dan membatasi resiko penurunan harga obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun diperkirakan akan berada di kisaran 6.8 – 7.2%.

    Sumber: Reuters, Bloomberg, CNBC, JP Morgan, Worldometer, Bisnis

     

     

     

    DISCLAIMER

    Dokumen ini dipersiapkan oleh OCBC NISP Wealth Advisory Workgroup. Informasi yang terdapat di dalam dokumen ini diambil dari narasumber terpercaya namun tidak ada jaminan terhadap akurasi dan kelengkapannya. Gambaran-gambaran, angka-angka dan seluruhinformasi yang dimuat dalam dokumen ini tidak dibuat sehubungan dengan keadaan keuangan perseorangan manapun. Informasi inibukan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu penawaran untuk menjual atau suatu ajakan untuk membeli suatu produk keuangandan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu nasihat investasi. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikasi kinerja masa depan. Dokumen penawaran atas produk terkait harus dipelajari secara lebih jauh. Setiap perkiraan, proyeksi, atau target yang ditampilkan disinihanya merupakan suatu indikasi dan tidak dijamin dalam bentuk apapun. Kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian baik langsung, tidak langsung ataupun sebagai konsekuensi yang timbul karena penggunaan dari dan ketergantungan atas informasi yang berasal dari dokumen ini. Opini-opini yang terdapat dalam dokumen ini mencerminkan keadaan saat ini, dan karenanya dapat berubah tanpa pemberitahuan. MER

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi, Nyala - 21 Okt 2021

Begini Cara Menghitung Tingkat Inflasi Paling Akurat

Baca

Edukasi, Nyala - 21 Okt 2021

Peluang Jadi Distributor Tanpa Modal Besar, Begini Caranya!

See All