Investing at Home - Part IV

7 Sep 2020 Ditulis oleh:OCBC NISP Wealth Management

Bursa saham AS kembali melemah di akhir pekan seiring jatuhnya saham-saham teknologi

    Data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perbaikan

    Bursa saham AS kembali melanjutkan pelemahannya di akhir pekan seiring dengan saham-saham teknologi yang jatuh, setelah menguat cukup signifikan di awal pekan. Saham Amazon, Microsoft, Facebook, dan Apple serempak mencatatkan pelemahan tajam. Selain valuasinya yang sudah mahal, rilisan data ketenagakerjaan pada hari Jumat yang lebih baik dari estimasi membuat saham-saham teknologi ditinggalkan oleh investor, karena rilisan tersebut mensinyalkan bahwa pemulihan perekonomian AS sedang berlangsung. Sebaliknya, saham-saham yang diuntungkan dari pembukaan aktivitas ekonomi mencatatkan penguatan, mengimbangi penurunan saham teknologi.

     


    Departemen tenaga kerja AS mencatatkan penambahan jumlah tenaga kerja sebesar 1.37 juta pada bulan Agustus 2020, lebih baik dari estimasi sebesar 1.32 juta. Tingkat pengangguran pun mencatatkan penurunan hampir 2 poin persentase menjadi 8.4%, juga lebih baik dari estimasi sebesar 9.8%, dan merupakan level yang terendah sejak pandemi COVID-19 malanda pada Maret 2020. Gubernur The Fed, Powell turut menyambut positif rilis data ketenagakerjaan tersebut, namun beliau tetap mengingatkan bahwa jalan menuju pemulihan ekonomi dunia masih sangat panjang.

    Walaupun data pengangguran menunjukkan perbaikan, masih terdapat jutaan pengangguran dan bisnis yang tertekan akibat pandemi COVID-19. Rilisan tersebut memicu tekanan pada Gedung Putih dan Kongres untuk melanjutkan negosiasi yang masih belum menemukan kata sepakat mengenai perpanjangan paket stimulus. Para investor tetap mengharapkan hal tersebut terselesaikan untuk mengeluarkan AS dari resesi. Ketua DPR Nancy Pelocy mendesak partai demokrat dan republik untuk menyusun kembali anggaran hingga USD 2.2 triliun.

     

    Ketegangan antara AS – China yang masih berlanjut

    Setelah mengeluarkan perintah eksekutif bulan lalu yang melarang transaksi dengan ByteDance agar perusahaan tersebut melepas operasi TikTok dari AS, kini Pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan pembatasan ekspor pada SMIC, produsen semikonduktor terbesar di China. SMIC kemungkinan akan ditambahkan ke daftar entitas departemen perdagangan yang membatasi perusahaan tersebut menerima barang yang dibuat oleh AS.

    Tujuan pemerintah AS melakukan hal ini adalah untuk menekan perusahaan teknologi China. Menurut Reuters, penerapan kontrol ekspor ini akan berdampak pada perusahaan AS yang menjual teknologi pembuatan chip ke produsen China. Hubungan perdagangan antara AS dan China ini masih berpotensi memberikan sentimen negatif pada pasar.

     

    Pasar keuangan dan potensi ke depan

    Sepanjang pekan lalu, IHSG mencatatkan pelemahan sekitar 2% dan ditutup di level 5,239.85 pada hari Jumat. Bursa Efek Indonesia melaporkan penurunan kapitalisasi pasar seiring dengan pelemahan yang terjadi, dengan dana yang keluar sekitar Rp 117 triliun. Pergerakan selama sepekan cukup berfluktuatif. Hal ini diakibatkan oleh, pertama, adanya rebalancing pada indeks MSCI di awal pekan. Kedua, isu mengenai amandemen UU tentang Bank Indonesia menjadi perhatian para investor, dengan kekhawatiran bahwa Bank Indonesia dapat menjadi tidak independen jika berada dibawah Dewan Moneter yang dikepalai oleh Menteri Keuangan.

    Selanjutnya, sentimen negatif juga datang dari pemulihan ekonomi dunia yang mulai menunjukkan sinyal perlambatan. Ditambah dengan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III mendatang karena daya beli yang masih lemah, ditandai dengan deflasi sebesar 0.05% dan inflasi tahunan turun menjadi 1.32%. Seperti yang diketahui, penurunan daya beli sangat berpengaruh pada tingkat konsumsi masyarakat yang merupakan penopang pertumbuhan ekonomi.

    Para investor juga masih akan terus menantikan langkah-langkah pemerintah untuk memulihkan daya beli masyarakat, dengan insentif yang sudah diberikan dalam program pemulihan ekonomi nasional. Pekan ini akan dirilis beberapa data yang cukup penting seperti cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta penjualan ritel yang tentunya akan menjadi sentimen penggerak bagi IHSG selain pergerakan bursa global maupun regional.

    Sama dengan pasar saham, pasar obligasi juga mengalami pelemahan. Dalam sepekan, imbal hasil tenor 10 tahun meningkat dan berada di kisaran 6.94%. Sementara Rupiah ditutup di level 14,750. Tertekannya nilai tukar Rupiah dipicu oleh isu mengenai Revisi Undang-Undang Nomor 23 tentang Bank Indonesia dan berlanjutnya program burden sharing hingga tahun 2022. Hal ini membuat kekhawatiran akan memicu kenaikan inflasi dengan semakin banyaknya jumlah uang yang beredar dan membuat daya tarik investasi menurun karena real yield yang turun. Namun, berlanjutnya program burden sharing ini akan terjadi jika pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target 4.5% - 5.5% di tahun 2021. Hal tersebut diperkirakan hanya memberikan sentimen negatif sementara, seiring dengan minat investor yang masih cukup tinggi pada pasar obligasi Indonesia. 

    Sumber: Bloomberg, CNBC, Worldometer

     

    DISCLAIMER

    Dokumen ini dipersiapkan oleh OCBC NISP Wealth Advisory Workgroup. Informasi yang terdapat di dalam dokumen ini diambil dari narasumber terpercaya namun tidak ada jaminan terhadap akurasi dan kelengkapannya. Gambaran-gambaran, angka-angka dan seluruhinformasi yang dimuat dalam dokumen ini tidak dibuat sehubungan dengan keadaan keuangan perseorangan manapun. Informasi inibukan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu penawaran untuk menjual atau suatu ajakan untuk membeli suatu produk keuangandan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu nasihat investasi. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikasi kinerja masa depan. Dokumen penawaran atas produk terkait harus dipelajari secara lebih jauh. Setiap perkiraan, proyeksi, atau target yang ditampilkan disinihanya merupakan suatu indikasi dan tidak dijamin dalam bentuk apapun. Kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian baik langsung, tidak langsung ataupun sebagai konsekuensi yang timbul karena penggunaan dari dan ketergantungan atas informasi yang berasal dari dokumen ini. Opini-opini yang terdapat dalam dokumen ini mencerminkan keadaan saat ini, dan karenanya dapat berubah tanpa pemberitahuan. MER

     

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi, Nyala - 21 Okt 2021

Begini Cara Menghitung Tingkat Inflasi Paling Akurat

Baca

Edukasi, Nyala - 21 Okt 2021

Peluang Jadi Distributor Tanpa Modal Besar, Begini Caranya!

See All