Buang Mindset Lama, Inilah Alasan Kenapa Sukses Bukan Privilege

1 Okt 2020 Ditulis oleh:Redaksi OCBC NISP

Arti kesuksesan bisa berbeda-beda bagi tiap orang, maka dar itu mari kita kenali apa itu kesuksesan

Kesuksesan menjadi topik yang tak pernah surut. Hampir setiap guru, mentor, motivator, hingga pebisnis membicarakannya. Namun, semakin berkembangnya zaman, berkembang pula pendapat-pendapat orang tentang kesuksesan. Tidak semua sepakat.

 

Beberapa tahun terakhir, menguat pendapat bahwa kesuksesan tidak mungkin bisa diraih semua orang. Hanya orang-orang dengan latar belakang tertentu yang bisa sukses. Pendapat ini sedikit pedih untuk orang-orang yang sedari kecil sudah diedukasi untuk sukses via kerja keras.

 

Faktanya, para milyuner seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg memang bisa sukses berkat dukungan orang tua mereka yang kaya. Sehingga, ditariklah kesimpulan bahwa sukses itu bergantung kepada latar belakang seseorang. Bukan kepada kerja keras.

 

Sekilas pernyataan ini benar, tetapi apakah 100% benar? Apakah ini berarti orang dengan kelas ekonomi menengah ke bawah tidak berhak sukses? Apakah “sukses” merupakan istilah diskriminatif untuk kasta ekonomi tertentu saja?

 

Tenang, gaes. Mari kita bahas dengan kepala dingin.


 

Definisi Sukses

 

Sebelum membahas lebih jauh, back to basic dulu, deh. Kita breakdown apa yang dimaksud dengan sukses.

 

Menurut KBBI, kesuksesan adalah keberhasilan. Menurut Oxford Languages, sukses adalah the accomplishment of an aim or purpose. Menurut Cambrige, sukses adalah the achieving of the results wanted or hoped for.

 

Dari ketiga definisi tersebut, intinya sama. Sukses adalah suatu kondisi ketika seseorang berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Apakah ada embel-embel “orang kaya” di situ? Tidak ada.

 

Keinginan Berbeda, Garis Finish pun Akan Berbeda

 

Berbicara masalah keinginan, tentu tidak semua orang punya keinginan yang sama. Sehingga, garis finish yang akan dicapai orang jelas juga akan berbeda-beda. Oleh karenanya, tidaklah bijak menyamaratakan standar kesuksesan seseorang.

 

Analogi sederhana saja, kera dan paus mungkin sama-sama mamalia, tetapi mereka berbeda. Tidak mungkin menukar peran antara kera dan paus. Kera tidak mungkin bisa dipaksa menyelam, paus pun tidak mungkin bisa dipaksa memanjat pohon.

 

Hal yang sama juga berlaku pada manusia. Kita sama-sama manusia, tetapi kita punya minat, bakat, kapabilitas, dan latar belakang yang berbeda-beda. Kalau dari akarnya sudah berbeda, jelas “pohonnya” juga akan berbeda. Tidak terlalu sulit memahaminya, kan?

 


 

Menerima Keterbatasan, Menjadikannya Kelebihan

 

Satu hal yang jarang dibahas dari motivasi-motivasi kesuksesan adalah soal keterbatasan diri. Daripada menuntut semua orang harus jadi kaya untuk bisa sukses, bukankah lebih baik mendukung orang untuk beradaptasi dengan kondisinya?

 

Bukan, ini bukan soal pasrah, tetapi soal realitas. Kalau pasrah itu menyerah tanpa usaha. Kalau realitas itu tetap kerja keras, tetapi menyesuaikan dengan kemampuan diri.

 

Tidak ada yang salah kok dari menurunkan ekspektasi dan standar, lalu menyesuaikannya dengan kemampuan kita. Siapa sih yang bilang itu salah? Sejak kapan itu salah? Berada di puncak rantai makanan itu memang bukan untuk semua orang, kok.

 

Kita pakai analogi petinju. Apakah semua petinju harus setara dengan Mike Tyson atau Muhammad Ali? Ya jelas tidak. Kalau memang kamu hanya bisa di kelas bulu karena bobotmu yang tidak memadai untuk jadi kelas berat, memangnya kenapa? Tidak ada yang salah, kok. Kamu tetap bisa berprestasi sesuai dengan kapasitasmu.

 

Setiap keterbatasan bisa jadi kelebihan. Harusnya ini yang kita bangkitkan.

 

Sukses itu Tentang Siapa Saya, Bukan Siapa Dia


 

Kalau kita bicara tentang kesuksesan, cerita-cerita yang dibawa selalu cerita-cerita besar, seperti hebatnya Facebook, Google, Microsoft, Go-Jek, Grab, dan lain-lain.

 

Ya, itu adalah kesuksesan. Akan tetapi, pernahkah kamu berpikir bahwa tidak semua orang menginginkan kebesaran semacam itu? Menjadi besar itu berarti lebih banyak tanggung jawab, beban, dan risiko yang harus diemban, lho. Nggak semua orang suka sama ini.

 

Sejumlah pebisnis di Amerika Serikat, seperti Chad Carson (pemilik situs coachcarson.com) dan David Finkel (CEO Maui Mastermind), mengungkapkan hal yang sama. Mereka ditanya, kenapa tidak ingin membesar? Jawabannya simpel, karena mereka ingin kenyamanan.

 

Oleh sebab itulah bisnis mereka tidak di-scale up. Mereka sudah puas dengan kondisinya. Yang penting dapat uang, bisnis terkontrol, bisa hidup nyaman, ya sudah. Kenapa harus ditambah kerepotan lainnya?

 

Bahkan buku “Company of One: Why Staying Small Is the Next Big Thing for Business” oleh Paul Jarvis, seorang konsultan digital di Amerika, membahas secara spesifik bahwa kunci kesuksesan tidak terletak pada growth, tetapi merancang sendiri formula suksesmu.

 

https://www.youtube.com/watch?v=Wdr5LP03Fw4

 

Carson dan Finkel adalah contoh bahwa sukses tidak punya batasan. Tidak terkekang oleh standar tertentu. Mereka menjadi diri sendiri, tidak harus ikut para milyuner yang sering jadi kiblat para motivator. Mereka adalah mereka, tidak menjadi orang lain.

 

Jadi, kesimpulannya, membangun bisnis unicorn memang merupakan kesuksesan besar, tetapi itu bukan satu-satunya jalan menjadi sukses.

 

Tukang roti yang berjualan hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya itu juga kesuksesan. Tukang jus yang bisa naik umroh itu juga kesuksesan. Membuka warung kelontong dan hidup tenang itu juga kesuksesan. Menjadi desainer freelance dan bisa membiayai kebutuhan diri sendiri itu juga kesuksesan.

 

Siapa bilang tidak? Sukses itu tidak rumit, mindset kita yang membuatnya kompleks.

Story for your Inspiration

Baca

Investasi, News Update - 4 Agt 2021

Rediscover your wealth journey with us

Baca

Investasi, News Update - 3 Agt 2021

Cek Lagi Top 5 Performance Reksa Dana di Bulan Ini

See All