Sepenting Apa Investasi ke Diri Sendiri?

1 Jan 2021 Ditulis oleh: Redaksi OCBC NISP

Sebelum masuk ke instrumen-instrumen investasi yang lebih nyata, ada satu hal krusial yang perlu kamu lakukan terlebih dahulu. Apa itu? Ya, investasi ke diri sendiri. Hal ini yang juga diterapkan oleh Fellexandro Ruby. Menurut beliau, investasi ke diri sendiri ini sama pentingnya dengan berinvestasi di instrumen keuangan.

Hal apa yang terlintas pertama kali di pikiranmu jika mendengar kata investasi? Pasti nggak jauh-jauh dari hal-hal seperti saham, emas, deposito, atau forex bukan? Tentu, ini nggak salah. Tapi, jika kamu masih belum memiliki cukup dana untuk melakukan investasi seperti di atas, bagaimana caranya?

Nah, sebelum masuk ke instrumen-instrumen investasi yang lebih nyata, ada satu hal krusial yang perlu kamu lakukan terlebih dahulu. Apa itu? Ya, investasi ke diri sendiri. Hal ini yang juga diterapkan oleh Fellexandro Ruby, seorang creativepreneur yang sudah malang melintang mengalami dunia investasi, profesional, dan bisnis. Menurut beliau, investasi ke diri sendiri ini sama pentingnya dengan berinvestasi di instrumen keuangan.

Apa saja yang pelajaran yang bisa dipetik?

Kerja Keras: Investasi Pertama Manusia

Menurut Ruby, usia 20-30 tahun merupakan masa-masa terbaik seorang manusia untuk mengerahkan kemampuannya secara maksimal. Sehingga, jika kita tidak memanfaatkan waktu tersebut untuk belajar dan mencari pengalaman, di usia-usia berikutnya kita akan sulit untuk merdeka secara finansial.

Meski banyak yang berkata bahwa tidak ada batas usia untuk mempelajari hal baru, tetapi semakin muda kita menggali pengalaman, maka kita akan mampu mendesain masa depan lebih awal.It gives you confidence to improve. Sederhananya, dengan begini, kamu sudah mengambil start lebih awal untuk merancang hidupmu 10 hingga 30 tahun kedepan.

Seperti yang dikutip dari tulisan seorang Senior Financial Officer di Shifo Foundation, Chomwa Shikati di medium.com, “Tanpa memperbaiki diri kita dan berusaha untuk berkembang, rasanya seperti tidak realistis jika kita mengharapkan banyak perubahan di masa depan kita. Dan tidak realistis juga jika kita berharap dapat menunjukkan performa yang lebih baik di masa depan, karena kita akan menjadi orang yang sama saja dari diri kita yang sekarang.

Selaras dengan pernyataan ini, Ruby pun mengutarakan hal yang serupa ketika ditanya pendapatnya mengenai masalah ini. “Prinsipnya sederhana, tabur dan tuai. Apa yang kita tabur hari ini, akan kita tuai hasilnya di masa yang akan datang.

Memang apa saja yang perlu diinvestasikan untuk diri sendiri di usia muda?

Banyak sekali. Pengetahuan baru, skill baru, pengalaman bekerja, networking dengan orang-orang berpengaruh, menjaga kesehatan, semuanya adalah bentuk investasi ke diri sendiri yang akan berdampak baik di masa depan.

Coba renungkan baik-baik. Dengan pengetahuan, skill, dan pengalaman yang ekstensif, peluang kita naik jabatan semakin tinggi. Dengan networking yang luas, peluang kita bekerja sama dengan orang lain meningkat. Dengan menjaga kesehatan, uang kita juga tidak boros untuk menanggulangi biaya dokter atau rumah sakit.

Jadi, kerja keras ini adalah modal pertama kita untuk berhasil mengarungi situasi sulit di masa yang akan datang. Inilah mesin uang pertama kita. Inilah yang menjadi jembatan kita untuk mengembangkan kemampuan tabungan kita lewat investasi.

Mengembangkan Kapasitas Tabungan dengan Investasi

Oke, katakanlah resource dan income kita sudah memadai, then what? Apa step berikutnya yang akan kita lakukan terhadap keuangan kita? Di sinilah pentingnya untuk mempelajari bentuk investasi finansial yang lebih hakiki, seperti saham, reksa dana, obligasi, emas, dan lain-lain. Agar apa? Agar uang yang telah kita hasilkan dari kerja keras tadi nilainya tidak tergerus oleh inflasi, justru malah bertambah.

Sebagaimana yang dipaparkan oleh sebuah artikel di Forbes, investasi adalah aktivitas membeli keamanan. Keamanan apa? Keamanan keuangan atau financial security. Kita beli surat-surat atau aset berharga, dengan harapan kita bisa mendapatkan selisih keuntungan dari situ. Singkatnya, uang yang kita investasikan akan berkembang jadi profit.

Banyak bentuk investasi yang bisa kamu pilih sesuai keadaanmu. Di antaranya adalah reksa dana, ini adalah instrumen investasi yang paling cocok bagi kamu-kamu yang baru belajar berinvestasi. Hal ini karena reksadana merupakan bentuk investasi yang aman, sebab dikelola oleh ahli yang disebut manajer investasi, sehingga risiko gagal menjadi sangat kecil. Kekurangannya, return of investment yang kamu dapatkan tidak akan setinggi instrumen lain.

But, hey. We start from somewhere, right?

Jenis instrumen kedua yang semakin populer belakangan ini adalah saham, merupakan jenis investasi dengan return terbaik. Profitnya besar. Namun, return yang besar ini juga punya risiko yang besar. Fluktuasi pada investasi saham bisa sangat tak terduga, kamu harus mempelajarinya terlebih dahulu.

Sebelum mulai berinvestasi saham, pastikan kamu sudah paham cara menghitung valuasi harga saham perusahaan. Hal ini bisa dilakukan dengan mempelajari performa perusahaan lewat analisa laporan keuangan dan cashflow perusahaan sekian tahun terakhir. Kamu juga bisa menilai dari Good Corporate Governance atau tata kelola perusahaan yang sehat yang pastinya akan berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan.

Apakah hanya itu? Tentu tidak. Selain jenis-jenis investasi seperti di atas, masih ada lagi berbagai jenis investasi lain dengan tingkat risiko yang berbeda-beda pula. Ada yang namanya investasi obligasi, ada investasi bitcoin, ada investasi properti, forex, deposito, dan lain-lain. Banyak banget, deh.

Sebenarnya, semua investasi itu punya dampak yang positif, tergantung kepada user-nya. Jangan melakukan investasi secara sembarangan hanya karena ingin ikut-ikutan tren. Pastikan untuk mempelajari terlebih dahulu mengenai jenis investasi yang ingin kamu tanamkan, sehingga kamu sudah siap dengan risikonya dan menyiapkan antisipasi ketika terjadi fluktuasi yang akan merugikanmu.

Pesan Sakral Investasi: Tidak Ada yang Instan

Hal yang juga sangat penting sebelum memutuskan untuk memulai investasi adalah kamu harus menyadari bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat diraih secara instan. Tidak ada. Semua butuh modal, baik berupa modal uang, tenaga, waktu, hingga pengalaman.

Investasi ke diri sendiri, investasi ke instrumen keuangan, keduanya sama. Hasilnya tidak akan bisa kamu tuai secara instan. Kamu perlu menunggu, kadang merugi, kadang lelah, kadang repot menyiapkan antisipasi, tetapi memang begitulah seni berinvestasi. Sama seperti menanam pohon, ada step-by-step yang perlu kita lalui supaya pohonnya berbuah.

Ada satu prinsip bagus mengenai investasi. Investasi itu sejatinya memang tidak didesain untuk menyenangkan kita di hari ini, tetapi melegakan kita di masa depan.

Sebagaimana pesan Ruby saat ditanyai masalah menabung dan investasi, “Saat kita menabung, semua itu ada titipan dari diri kita di masa depan, ada titipan dari orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan.” Artinya, yang kita tanam di hari ini sebenarnya merupakan hadiah untuk kita di masa yang akan datang.

Untuk mencapai suatu kualitas hidup yang baik, diperlukan kerja keras, kesabaran, keluar uang, penantian, dan kedisiplinan. Jadi kalau kamu masih memiliki mindset yang pengen instan untuk mencapai suatu hal, mending perbaiki mindset-nya dulu, ya. Jangankan berbicara investasi keuangan, bahkan kamu mungkin tidak akan lolos saat berinvestasi untuk diri sendiri. Mie instan saja mesti dimasak, masa kamu mau langsung matang?

Individu Nyala Life Series Investasi

Story for your Inspiration

Baca

Announcement, News Update - 9 Jun 2021

Solid jobs won't sway dovish Fed

Baca

Education - 9 Jun 2021

Jastip adalah Usaha Tanpa Modal, Ini Cara Memulainya agar Untung

See All