Barang Tiongkok Kian Mudah Diakses, Benarkah Membuat Kita Semakin Konsumtif?

8 Mar 2021 Ditulis oleh: Redaksi OCBC NISP

Tanpa kamu sadari, berbagai macam produk dari Tiongkok juga diam-diam menyerbu setiap jengkal kehidupan kita.

Pernahkah kamu merasa bahwa semakin hari kamu semakin mudah untuk membeli barang yang dulu terbilang mewah? Jika dalam beberapa dekade ke belakang hanya orang-orang tertentu yang bisa memiliki smartphone, kini bahkan orang-orang dari kalangan ekonomi bawah pun bisa memilikinya.

Tetapi, tidak. Bukan cuma smartphone. Barang-barang lain yang terkait dengan keseharian kita semakin lama semakin mudah untuk diakses. AC, televisi, aksesoris kendaraan, perabotan dapur, mesin cuci, furnitur, dan lain-lain. Beberapa barang itu terasa mewah di jaman dulu, tetapi entah mengapa saat ini menjadi lebih terjangkau. Padahal, penghasilan kamu mungkin tidak bertambah terlalu signifikan.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya mempermudah kita untuk mendapatkan akses kebutuhan-kebutuhan tersebut. Betul, ternyata Tiongkok. Xiaomi, Oppo, Vivo, Miniso, Wuling, Lenovo, Huawei, Alibaba, Tencent, Moonton, adalah beberapa perusahaan Tiongkok yang sudah tak asing di telinga kita, atau bahkan jadi bagian hidup kita.

Jadi, apakah secara tidak langsung kita telah menjadi ‘budak’ produk Tiongkok?

Fenomena Brand Smartphone Ternama vs Tiongkok

Kamu mungkin sudah familiar dengan brand-brand ternama seperti iPhone dan Samsung. Mereka bisa dibilang pemain besar dengan produk premium yang harganya selangit. Dulu, orang mengira bahwa hanya orang-orang kaya saja yang bisa memegang smartphone. Sebab, memang harganya tidak sesuai dengan kantong rakyat.

Namun, pada tahun 2011, anggapan itu lambat laun berubah. Masuklah brand asing seperti Xiaomi. Tak lama setelahnya, muncul lagi Oppo, Vivo, Huawei, ZTE, dan lain-lain. Semua ini datang dari Negeri Tirai Bambu, yakni Tiongkok.

Yang lebih mengejutkan adalah produk-produk smartphone yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan ini memiliki harga yang jauh lebih murah ketimbang iPhone dan Samsung, dengan kualitas yang bisa dibilang “bersaing”, dalam artian sudah cukup layak untuk dipakai masyarakat.

Harga yang terjangkau inilah yang membuat brand-brand Tiongkok kemudian menjalar di mana-mana dan akhirnya naik kelas menjadi kebutuhan primer masyarakat, bahkan oleh kalangan akar rumput sekalipun. Jangan salah, tukang roti bakar di pinggir jalan pun sekarang bahkan “harus” punya smartphone untuk mendukung aktivitas transaksi online.

Apa impact yang terjadi dari fenomena ini? Pola hidup orang berubah. Di titik inilah gaya hidup orang juga jadi naik kelas. Punya smartphone, berarti punya banyak peluang untuk mengekspresikan diri. Pemasukan bertambah, akses terhadap banyak hal terbuka, gaya hidup pun jelas akan berubah.

Supir ojol dan para pengguna layanan ojol adalah contoh nyata orang-orang yang mengalami perubahan gaya hidup ini. You feel it, don’t you?

Perubahan Gaya Hidup

Apakah dominasi produk dari Tiongkok hanya berhenti pada smartphone saja? Tentu tidak.

Tanpa kamu sadari, berbagai macam produk dari Tiongkok juga diam-diam menyerbu setiap jengkal kehidupan kita. Peralatan memasak seperti oven, standing mixer, hingga chopper dengan harga yang terjangkau kini jadi idaman ibu-ibu. Bagi bapak-bapak, ada banyak pula produk-produk pelengkap otomotif buatan Tiongkok. Urusan merk mah nomor dua, yang penting fungsionalitasnya.

Produk-produk ini kemudian digabungkan dengan kemampuan smartphone, lengkap sudah. Dari hulu ke hilir, kita beli barang buatan Tiongkok. Smartphone buatan Tiongkok, mengakses toko online yang di-invest perusahaan Tiongkok, kemudian beli produk yang diproduksi di Tiongkok. Kurang mantap apalagi, coba?

Itu baru produk fisik. Bagaimana dengan produk digital? Lebih dahsyat lagi. Mangatoon dan Webnovel, misalnya. Dua platform ini adalah platform menulis online yang kini sudah mendapatkan banyak perhatian pembaca di Indonesia. Siapa pemilik perusahaan Mangatoon dan Webnovel? Tiongkok.

TikTok? Mobile Legend? Dua hiburan utama anak-anak Indonesia saat ini kan juga buatan negeri Tirai Bambu. Jadi jelas sudah, dari orang tua hingga anak-anak kini hampir semuanya menggunakan produk buatan Tiongkok.

Pertanyaan berikutnya adalah, salahkah kita terlalu banyak menggantungkan gaya hidup dari produk Tiongkok? Lantas, apakah fenomena ini secara tak sadar membuat kita menjadi semakin konsumtif?

It’s Not About Who Made It, But How We Use it

Sebenarnya tidak ada yang salah dari memanfaatkan produk atau teknologi buatan Tiongkok. Undang-undang kita juga tidak melarang. Pasar kita terbuka terhadap produk dan perkembangan teknologi selama tidak bertentangan dengan nilai moral.

Permasalahannya adalah bagaimana cara kita memanfaatkannya. Ini yang terkadang sulit untuk dikendalikan. Barang semakin murah, akses semakin mudah, itu berarti akan membuka peluang kita menjadi lebih tidak terkendali, salah satunya menjadi amat konsumtif.

Harga yang terjangkau memang menjadi salah satu alasan mengapa produk Tiongkok bisa begitu laris. Namun ini juga tidak boleh menjadi alasan supaya kita bisa menjadi semakin konsumtif dan pada akhirnya membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu.

Contohnya seperti perilaku bergonta-ganti gadget atau impulsif berbelanja hanya karena ada diskon atau membeli skin di Mobile Legend hanya untuk pamer. Hal ini secara tidak disadari dapat membuat keuangan seseorang bocor tidak terkendali. Bukan Tiongkoknya yang salah, tetapi penggunanya.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, maka kamu juga harus belajar untuk menjadi pembeli yang cerdas. Jangan sampai meme ponselnya smart, orangnya tidak menjadi kenyataan. Waduh, bahaya betul.

Be a smart buyer. Rencanakan setiap pengeluaran dan jangan mudah tergoda tekanan sosial di sekitarmu. Apalagi situasi pandemi seperti saat ini, jangan sampai keuangan bocor gara-gara gaya hidup yang tidak terkendali.

Gantilah gadget-mu ketika memang benar-benar sudah butuh. Belanjalah jika memang ada yang dibutuhkan. Belilah skin di gim favoritmu sesekali saja, kurangi gacha berbayar (mengundi). Ini adalah basic pengelolaan finansial yang harus kita pahami. Gaya hidup harus disesuaikan dengan kapasitas keuangan masing-masing.

Kamu bisa membuka rekening NYALA Individu di OCBC NISP untuk mengatur kepemilikan uang yang kamu punya. Di sini, uangmu bisa dikelola dan dimaksimalkan pada produk-produk investasi, bahkan nilainya bisa bertambah.

Diintegrasikan dengan aplikasi ONe Mobile, NYALA Individu ini cocok banget untuk orang yang sehari-harinya memang berinteraksi di depan smartphone. Kamu bisa mengamati pergerakan uangmu dan memanfaatkan fitur-fitur lain yang bisa jadi solusi jangka panjang untuk menghadapi situasi pascapandemi, seperti Tabungan Berjangka (TAKA).

Kalau tertarik membuka rekening NYALA Individu, kamu bisa cek di sini.

Individu Life Series

Story for your Inspiration

Baca

Education, Investasi - 22 Jun 2021

Biaya Pendidikan Anak dengan SBR010

Baca

Education - 22 Jun 2021

Piutang: Pengertian, Jenis, Ciri, & Bedanya dengan Hutang

See All