Pasar Uang Syariah, Ini Pengertian dan Mekanisme Lengkapnya

12 Apr 2021 Ditulis oleh: Redaksi OCBC NISP

Ingin investasi tapi khawatir riba? Pasar uang syariah solusinya!

Pasar uang telah terbagi menjadi dua, yaitu pasar uang syariah dan konvensional. Di era yang serba mahal seperti sekarang, kebutuhan untuk meningkatkan kondisi finansial telah dirasakan oleh banyak orang.

Investasi menjadi salah satu opsi terbaik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, karena sebagian orang ingin berinvestasi dengan risiko kecil sekaligus berprinsip syariah. Maka investasi berbasis syariah mulai muncul.

Jika begitu, apa pengertian pasar uang syariah? Apa perbedaan pasar syariah dan konvensional? Bagaimana mekanismenya? Temukan jawaban dari pertanyaan di atas pada artikel ini.


Pengertian Pasar Uang Syariah

Secara konvensional, pengertian pasar uang adalah sebuah sistem untuk yang digunakan untuk melakukan perdagangan dana jangka pendek atau dana dengan jangka waktu kurang dari setahun.

Contohnya, pihak pertama kekurangan dana jangka pendek, sedangkan pihak kedua kelebihan dana dalam jangka waktu yang pendek juga, kemudian kedua pihak dipertemukan dalam pasar uang untuk bekerjasama. Pihak penerima mendapatkan suntikan dana dari pihak kedua, sedangkan pihak kedua sebagai investor mendapat keuntungan dari investasi.

Jika ditilik dari definisi pasar uang di atas, maka pengertian pasar uang syariah adalah sistem pertukaran modal yang berbasis prinsip Islami. Sobat OCBC NISP tidak akan menemukan riba ataupun spekulasi yang bertentangan dengan syariat Islam. Sehingga, proses bagi hasil didasarkan pada pembagian yang rata dan adil, sesuai kesepakatan.


Perbedaan Pasar Uang Syariah dan Konvensional

Agar semakin paham dengan perbedaan pasar uang syariah dan konvensional, sobat OCBC NISP bisa mempelajari 4 perbandingannya di bawah ini:

  1. Instrumen investasi
    Sesuai dengan namanya, perbedaan uang syariah dan konvensional yang pertama ada pada ketersediaan jenis instrumen investasi. Pasar uang dengan prinsip syariah tentu hanya menyediakan instrumen pasar uang syariah. Sebaliknya, pasar uang konvensional menawarkan instrumen investasi tanpa menggunakan prinsip syariah.

  2. Proses perjanjian
    Perbedaan pasar uang syariah dan konvensional berikutnya adalah dari segi proses perjanjiannya.

    Pasar uang konvensional biasanya akan menggunakan kontrak seperti biasa dan terdapat beberapa spekulasi keuntungan yang dijabarkan kepada investor.

    Sebaliknya, proses perjanjian dalam pasar uang berprinsip syariah selalu menggunakan akad. Akad adalah sebuah perjanjian antara pihak investor dan penerima investasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam.

    Dalam hal ini, terdapat aturan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang perlu diperhatikan:
    • Tadlis adalah tindakan menyembunyikan/menyimpan suatu kecacatan objek akad yang dilakukan oleh penjual agar bisa mengelabui pembeli. Sehingga seolah-olah objek akad yang dibicarakan tidak cacat.
    • Taghrir merupakan sebuah usaha dari oknum untuk mempengaruhi orang lain, baik secara lisan maupun tindakan yang berisi kebohongan, agar mau untuk melakukan perjanjian.
    • Gharar adalah sebuah ketidakpastian di dalam akad, baik terkait kualitas atau kuantitas objek akad, serta tentang penyerahannya.

    Aturan-aturan di atas merupakan panduan umum yang dibuat oleh MUI agar tidak melaksanakannya saat bertransaksi dalam pasar uang syariah.

    Selain itu, agar tetap menjalankan prinsip Islam, perusahaan yang bergerak dalam pasar uang syariah biasanya tidak berbisnis pada produk perjudian, alkohol, barang berbahan baku babi, pornografi, serta asuransi konvensional dan jasa konvensional.

  3. Mekanisme transaksi
    Perbedaan pasar uang syariah dan konvensional selanjutnya adalah dari mekanisme transaksi.

    Mekanisme transaksi pasar uang konvensional tidak akan pernah mempermasalahkan haram atau tidaknya uang yang didapatkan. Selama proses investasi dalam pasar uang sesuai dengan aturan dan mendapatkan keuntungan yang diinginkan, maka tidak perlu khawatir.

    Walaupun harusnya mengikuti aturan yang berlaku, pada pasar konvensional tersebut sebenarnya tetap rentang terjadi beragam manipulasi. Jadi, meskipun sebuah instrumen merugikan orang, tapi jika bisa menguntungkan investor, maka biasanya tidak akan dipikirkan.

    Nah, kalau mekanisme pasar uang syariah lebih ketat dari segi peraturannya. Setiap transaksi yang berjalan dalam pasar wajib menggunakan prinsip-prinsip Islami. Kehalalan suatu transaksi harus diperhatikan dengan detail. Jika ada yang haram dalam sebuah transaksi, maka bisa saja transaksi tersebut tidak sah dan dibatalkan.

    Setiap transaksi juga harus dibarengi dengan akad. Akad atau perjanjian tersebut harus dilakukan secara sadar, tanpa paksaan, tanpa penipuan, dan didatangi secara langsung oleh penerima investasi dan si investor. Sehingga, aturan yang ketat tersebut tetap bisa menegakkan syariat Islam serta memberikan keuntungan halal.

  4. Keuntungan
    Seperti berbagai transaksi keuangan syariah lainnya, dalam pasar uang syariah, sobat OCBC NISP bisa mendapatkan keuntungan berupa nisbah atau bagi hasil. Tidak akan ada keuntungan bunga dan keuntungan spekulatif yang didapatkan oleh investor.

    Sebaliknya, pasar uang konvensional hanya akan menjalankan proses investasi seperti biasanya. Jika ada keuntungan bunga yang berhasil dibuat, keuntungan tersebut akan diberikan kepada investor secara langsung. Tidak ada status halal-haram yang perlu diverifikasi terlebih dulu.

Bagaimana, sobat OCBC NISP? Itulah penjelasan tentang pengertian pasar uang syariah serta perbedaan antara pasar uang syariah dan konvensional. Apabila sobat OCBC NISP masih ada pertanyaan yang mengganjal, Anda bisa segera mendatangi kantor cabang OCBC NISP terdekat untuk mendapatkan pencerahan. Selamat berinvestasi!

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi - 24 Apr 2022

Cara Membayar Fidyah dengan Uang, Begini Perhitungannya

Baca

Edukasi - 21 Apr 2022

Zakat Fitrah Online - Cara Bayar & Perhitungan Zakatnya

See All

Produk Terkait

Nyala

Nyala

ONe Mobile

ONe Mobile

Download ONe Mobile