Mengenal Impulsive Buying, Faktor Pemicu, & Tips Mencegahnya

23 Jul 2021 Ditulis oleh: Redaksi OCBC NISP

Ingin kondisi keuangan lebih sehat? Lindungi diri dari impulsive buying yuk!

Impulsive buying adalah kondisi yang makin populer dialami konsumen saat ini. Berkat perkembangan berbagai marketplace dan sarana pembayaran online, perilaku ini menjadi salah satu tren umum dalam masyarakat. Tapi, tahukah Anda kalau impulsive buying adalah aktivitas berisiko secara finansial? Di bawah ini OCBC NISP punya pembahasan lengkapnya.


Apa itu Impulsive Buying?

Impulsive buying adalah istilah bahasa Inggris berarti belanja impulsif. Dengan kata lain, impulsive buying adalah keinginan seseorang untuk membeli suatu produk dalam jumlah banyak secara tiba-tiba tanpa melalui pertimbangan dan proses berpikir panjang.

Dalam praktiknya, keputusan ini lebih menggunakan emosi perasaan daripada logika. Biasanya, kebiasaan ini muncul ketika diri dirangsang oleh sesuatu yang menarik. Misalnya seperti diskon atau promo sehingga membuat diri menjadi tertarik membeli, karena merasa kesempatan tersebut tidak akan bisa didapatkan di kemudian hari.

Faktanya, belanja impulsif membawa dampak negatif bagi pelakunya. Karena kebiasaan ini cenderung membeli produk sesuai keinginan bukan berdasar kebutuhan, maka hal tersebut dapat mengakibatkan pemborosan sehingga mengancam kesehatan finansial.


Faktor Pemicu Impulsive Buying

Impulsive buying adalah fenomena yang terjadi karena berbagai faktor. Selengkapnya tentang faktor-faktor pemicu belanja impulsif adalah sebagai berikut.

  1. Faktor Strategi Pemasaran
    Faktor pertama terjadinya impulsive buying adalah pengaruh strategi pemasaran dari penjual. Strategi pemasaran seperti promo, diskon, cashback dan pengaruh dari sales bisa mendorong perilaku impulsif. Karena hal-hal tersebut mampu menarik minat dan perhatian Anda sehingga muncul keinginan untuk membeli dan memilikinya.

  2. Faktor Kepribadian
    Faktor kepribadian dapat menjadi penyebab terjadinya pembelian impulsif. Aktivitas ini bisa terjadi karena diri merasa gengsi dan FOMO bila tidak mempunyai barang sedang tren masa itu. Sehingga demi meningkatkan citra dan popularitas, orang dengan sindrom belanja impulsif akan rela membeli apa saja yang menyokong tujuan tersebut.

  3. Faktor Jenis Produk
    Sifat intrinsik dan ekstrinsik produk juga mampu mendorong tingkah laku belanja impulsif. Dengan varian beragam, tampilan kemasan menarik, desain penataan, keterbatasan atau kelangkaan produk menimbulkan seseorang yang melihatnya menjadi tertarik dan berminat membelinya, bahkan meski sebenarnya tidak membutuhkannya.

  4. Faktor Geografis dan Aspek Budaya
    Faktor geografis dan budaya rupanya bisa mempengaruhi terjadinya aktivitas belanja impulsif. Faktanya, masyarakat dengan budaya mandiri tinggi cenderung mempunyai kebiasaan belanja impulsif dibandingkan masyarakat budaya kolektif.

    Salah satu alasan kenapa masyarakat berbudaya mandiri rentan terkena impulsive buying adalah karena tuntutan meredakan stres dengan bantuan orang lain seminim mungkin.


Indikator Impulsive Buying

Sebenarnya, tidak semua kegiatan berbelanja dalam jumlah banyak dapat dikategorikan sebagai belanja impulsif. Terdapat beberapa indikator impulsive buying, di antaranya:

  1. Suka Mencari Kepuasan Instan
    Suka mencari kepuasan instan merupakan indikator impulsive buying yang pertama. Ketika Anda merasa jenuh, bosan, atau stress dan membutuhkan kepuasan instan, maka Anda melakukan kegiatan berbelanja secara impulsif sebagai kepuasan diri.

  2. Membeli Barang Tanpa Berpikir Dua Kali
    Poin berikutnya indikator impulsive buying adalah melakukan pembelian barang tanpa pertimbangan. Ketika Anda tertarik pada suatu produk, kemudian langsung membelinya tanpa berpikir dua kali terkait manfaat dan kemampuan finansial, maka Anda masuk dalam kategori belanja secara impulsif.

  3. Beli Barang Berlebihan dengan Dalih Self-Reward
    Bekerja keras demi mencapai tujuan pribadi memunculkan keinginan melakukan self-reward sebagai apresiasi diri sendiri. Sebenarnya hal tersebut tidak salah bila kita menempatkan secara bijak. Namun jika Anda terus membeli barang dengan dalih self-reward maka Anda memiliki karakteristik sindrom belanja impulsif dalam diri Anda.


  4. Baca Juga:

  5. Menjadikan Window Shopping Sebagai Penghilang Stres
    Poin berikutnya indikator impulsive buying adalah menghilangkan stress melalui window shopping. Window shopping merupakan kegiatan yang menyenangkan sehingga sering dijadikan sebagai penghilang stress. Namun, aktivitas ini membuat Anda sangat rentan melakukan terjebak dalam belanja impulsif.

  6. Suka Membeli Barang Sesuai Tren Terbaru
    Kebiasaan membeli barang sesuai tren terbaru merupakan indikator impulsive buying yang mudah dikenali. Demi memenuhi kebutuhan sosial, gengsi, dan menghindari FOMO, Anda menuntut diri untuk berbelanja produk sesuai update perkembangan zaman. Padahal barang tersebut belum tentu sesuai kebutuhan Anda.

  7. Gampang Tergoda Promo dan Diskon
    Terakhir, indikator impulsive buying adalah mudah tergiur promo dan diskon. Saat orang melihat penawaran promo dan diskon dari suatu produk, mereka berpikir bahwa hal tersebut merupakan kesempatan untuk mendapatkan harga lebih murah. Oleh karena itu, pembeli memanfaatkan peluang tersebut dengan membeli barang dalam jumlah banyak dengan dalih kesempatan tersebut bisa saja tidak terulang kembali.


Dampak Negatif Impulsive Buying

Kebiasaan ini sangat tidak baik jika terus dibiarkan dalam diri sendiri. Karena hal tersebut mampu mengganggu kesehatan finansial Anda. Tak hanya itu, masih ada dampak negatif belanja impulsif antara lain:

  1. Menjadikan Diri Makin Boros
    Pertama, dampak negatif impulsive buying adalah membuat diri sendiri semakin boros. Kegiatan berbelanja seperti ini banyak menghabiskan uang untuk barang-barang yang tidak terlalu penting. Sehingga pengeluaran utama harus rela dikorbankan demi memuaskan nafsu pribadi saja.

  2. Menumpuk Barang Tidak Terpakai di Rumah
    Dampak berikutnya yaitu membuat rumah penuh dengan barang tidak terpakai. Karena tingkah laku ini cenderung membeli barang tidak sesuai kebutuhan, akibatnya banyak barang menganggur dan tidak terpakai di rumah.

  3. Rentan Terjebak Kredit Terlalu Banyak
    Pelaku menjadi rentan terjebak kredit terlalu banyak karena kegiatan belanja impulsif memerlukan dana yang tidak sedikit. Bila pelaku tidak mempunyai kemampuan finansial yang cukup, maka mereka akan berhutang sehingga kredit menumpuk.

  4. Susah Merencanakan Keuangan
    Dampak negatif terakhir dari impulsive buying adalah Anda menjadi susah merencanakan keuangan. Karena transaksi pembelian terlalu banyak, Anda akan mengalami kesusahan finansial jangka pendek. Selain itu, Anda juga akan susah merencanakan keuangan ke depannya, karena tidak punya tabungan.


Tips Mencegah Impulsive Buying Bagi Diri Sendiri

Agar Anda tidak terjebak dalam masalah finansial serius atau terkena dampak negatif dari belanja impulsif, berikut beberapa tips mencegah terkena sindrom belanja impulsif yang bisa diterapkan dalam kehidupan Anda.

  1. Bedakan Antara Keinginan (Wants) dan Kebutuhan (Needs)
    Tips yang pertama yakni Anda harus bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan dalam hidup. Dengan mengetahuinya, maka keuangan Anda akan teralokasi secara tepat. Sebab Anda akan menghindari barang-barang yang tidak penting dan tidak diperlukan.

  2. Susun Skala Prioritas Barang Sebelum Membeli
    Menyusun skala prioritas barang sebelum membeli adalah tips mencegah belanja impulsif berikutnya. Dengan mengetahui prioritas, maka Anda bisa mengontrol diri untuk membeli barang-barang sesuai kebutuhan saja, dan menunda barang kurang prioritas untuk pembelian-pembelian berikutnya.

  3. Hindari Pasang Terlalu Banyak Aplikasi Marketplace
    Menghindari aktivitas aplikasi marketplace bisa membuat Anda terhindar dari kegiatan belanja impulsif. Sebaiknya Anda tidak memasang aplikasi belanja online terlalu banyak di ponsel. Sebab hal tersebut bisa memunculkan impulsif diri Anda untuk membeli produk.

  4. Batasi Penggunaan Kartu Kredit dan Pembayaran Online
    Membayar secara digital atau kartu kredit membuat Anda sulit mengontrol transaksi karena Anda tidak merasa esensi kehilangan uang seperti uang tunai. Oleh karena itu, untuk menghindari aktivitas impulsif, sebaiknya Anda banyak melakukan pembayaran secara tunai.

  5. Tahan Diri untuk Tidak Terlalu Sering Memakai Fitur Paylater
    Tips berikutnya yang harus dilakukan yakni berusaha menahan diri untuk tidak sering memakai fitur paylater. Sebaiknya manfaatkan layanan ini secara bijak, seperti menggunakan ketika dalam keadaan mendesak.

  6. Lindungi Diri Dari Jebakan Strategi Marketing Psikologis
    Melindungi diri dari jebakan strategi marketing psikologis juga penting dilakukan agar tidak mudah terpengaruh sehingga terjebak dalam belanja impulsif. Anda bisa menjauhi sales yang menawarkan sesuatu kepada Anda atau ketika terbesit keinginan untuk membeli, segera menjauh dari tempat perbelanjaan tersebut.

  7. Tetapkan Batas Saat Melakukan Self-Reward
    Tips terakhir dalam mencegah impulsive buying adalah menetapkan batas saat melakukan self-reward. Anda harus mengetahui kapan self-reward dilakukan dan batasi setiap bulannya. Sehingga Anda tidak terjebak dalam aktivitas impulsif berkedok self-reward.


Demikian pembahasan dari OCBC NISP tentang indikator impulsive buying, faktor pemicu, dampak negatif, serta tips mencegahnya! Impulsive buying adalah salah satu tren berbahaya bagi keamanan finansial Anda, sehingga cegah hal ini terjadi pada diri Anda dan keluarga ya!


Baca Juga:

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi, Nyala - 20 Sep 2021

Perjanjian Pra Nikah: Proses, Fungsi, Isi dan Cara Membuat

Baca

Edukasi, Nyala - 20 Sep 2021

Cek! Ini Dia Daftar Biaya Rontgen Lengkap dan terbaru

See All