Mengenal Apa itu Retained Earning, Cara Hitung & Contohnya

8 Des 2022

Retained earning adalah bagian dari modal perusahaan. Simak cara hitungnya!

Apa itu retained earning? Sederhananya, retained earning adalah laba bersih suatu perusahaan yang ditahan dan laba tersebut sudah dikurangi dengan dividen.

Dengan kata lain, retained earning adalah laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham melalui dividen.

Nah, agar tidak bingung, OCBC NISP akan menjelaskan lebih detail tentang pengertian, penggunaan, fungsi, contoh, dan cara menghitung retained earning di bawah ini. Yuk simak baik-baik!

Pengertian Retained Earning

Sebagai laba bagi pemegang saham yang pembagiannya ditunda, retained earning adalah salah satu bagian dari modal suatu perusahaan.

Retained earning adalah suatu kegiatan operasional sekaligus non-operasional perusahaan.

Walaupun laba perusahaan ditahan, dana tersebut masih diperlukan di waktu mendatang.

Dana dari laba yang ditahan masih bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis atau membagikannya ke pemegang saham di kemudian hari.

Oleh karena itu, menahan sebagian laba merupakan hal yang penting sebagai simpanan untuk pembiayaan kegiatan operasional.

Contoh retained earning adalah untuk dana membayar utang, kegiatan operasional, hingga pengembangan bisnis perusahaan di masa mendatang. 

Faktor-faktor retained earning adalah transaksi, yaitu adanya pembagian dividen dan pembukuan laporan laba rugi bersih.

Secara umum, retained earning adalah bagian dari laba rugi di dalam laporan keuangan suatu perusahaan.

Singkatnya, rumus retained earning adalah (laba ditahan pada periode awal + laba bersih) - (dividen tunai + dividen saham).

Baca juga: Income Statement (Laporan Laba Rugi), Ini Contoh & Cara Buat

Unsur-unsur Retained Earning

Sesuai penjelasan di atas, pengertian retained earning adalah laba perusahaan yang pembagiannya kepada pemegang saham dilakukan penundaan atau ditahan.

Lantas, bagaimana retained earning itu diperoleh perusahaan? Berikut ini ada dua unsur yang memengaruhi retained earning perusahaan.

1. Dividen Perusahaan

Retained earning berkaitan dengan dividen perusahaan (bagian dari laba bersih yang akan dibagikan pada para pemegang saham).

Retained earning adalah penahanan laba sesuai dengan nilai dividen yang dibagikan.

Besarnya retained earning dipengaruhi oleh keputusan pembagian laba bersih, perusahaan akan memutuskan apakah dividen tersebut dibagikan atau tidak.

Nah, yang menentukan besaran dividen adalah keputusan dari Rapat Umum Pemegang Saham secara berkala.

Jika dividen dibagikan, maka nominal retained earning berkurang, berlaku sebaliknya. Bentuk dividen terbagi menjadi dua jenis, yaitu tunai dan saham.

Intinya, salah satu unsur yang memengaruhi besaran retained earning adalah dividen.

2. Laba Rugi Perusahaan

Ketika perusahaan mendapatkan keuntungan besar, maka nilai retained earning ikut bertambah pula.

Retained earning mengalami pertumbuhan jumlah ketika perusahaan mendapatkan laba bersih. Laba bersih adalah keuntungan yang sudah dikurangi pajak dan bunga.

Oleh karena itu, besaran jumlah retained earning dari laba bersih akan mengurangi rugi yang diterima perusahaan.

Rugi bersih dapat mengurangi jumlah penahanan retained earning pada perusahaan.

Anda dapat mengetahui retained earning yang bertambah dan berkurang di saat perusahaan melaksanakan tutup buku pada laba rugi melalui jurnal penutup.

Baca juga: Laporan Laba Rugi Komprehensif, Langkah Awal Kesuksesan Bisnis

Fungsi Retained Earning

Retained earning adalah salah satu hal yang penting di kegiatan operasional perusahan. Untuk itu, Sobat OCBC NISP perlu tahu fungsi dari retained earning.

Berikut ini beberapa fungsi penahanan laba (retained earning) bagi perusahaan, yaitu:

1. Sebagai Dana untuk Pembayaran Utang

Dengan melakukan penahanan laba, maka peluang perusahaan dalam membayar utang yang memiliki tempo jangka pendek akan besar.

Adanya retained earning tentu memudahkan dan melancarkan pembayaran utang bagi perusahaan.  

2. Sebagai Dana Operasional bagi Perusahaan

Kegiatan operasional perusahaan yang maksimal tentu memerlukan dana penunjang. Nah, peran retained earning adalah sebagai dana cadangan atau pembantu.

Laba yang ditahan ini dapat digunakan untuk mengelola pembiayaan dalam menambahkan jumlah produk atau sumber daya lain.  

3. Sebagai Dana untuk Melakukan Ekspansi

Dalam mengembangkan bisnisnya, perusahaan tentu memerlukan modal yang banyak. Ekspansi yang lebih besar dan luas akan membutuhkan banyak dana.

Nah, laba yang ditahan dapat digunakan untuk pembiayaan ekspansi dan pengembangan operasional perusahaan.

Cara Menghitung Retained Earning

Ada beberapa cara menghitung retained earning yang perlu Sobat OCBC NISP ketahui. Biasanya perhitungan ini dilakukan untuk menemukan hasil dari data mentah yang dimiliki perusahaan.

Berikut cara menghitung retained earning atau laba yang ditahan, yaitu:

1. Mengumpulkan Data dari Laporan Keuangan

Cara menghitung retained earning yang pertama adalah menggunakan metode pengumpulan data berdasarkan laporan keuangan perusahaan. Anda dapat mengecek laba yang ditahan di laporan ini.

Setelah itu, perhitungannya dapat menggunakan rumus keuntungan bersih dikurangi dividen, lalu hasilnya adalah laba yang ditahan.

2. Menghitung Keuntungan Kotor

Jika Anda bingung dalam menemukan laporan laba bersih, maka bisa dengan cara menghitung laba kotor. Laba kotor dihasilkan dari total pendapatan dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP).

3. Menghitung Keuntungan Operasi

Untuk mengetahui retained earning, dapat menggunakan laba operasi ini. Laba operasi didapatkan dari operasional perusahaan.

Cara perhitungannya, yaitu laba kotor dikurangi dengan jumlah pengeluaran perusahaan untuk biaya operasional.

4. Laba Bersih sebelum Dilakukan Pengurangan Pajak

Anda perlu mengetahui laba bersih sebelum pajak dengan cara amortisasi, depresiasi, dan bunga. Secara sederhana, Anda bisa mengurangi nilai aset yang mengalami penurunan fungsi.

5. Laba Bersih setelah Dilakukan Pengurangan Pajak

Pada tahap penghitungan ini, Anda dapat melihat jumlah nominal pajak yang harus dibayar oleh perusahaan.

Caranya sederhana, yaitu lakukan pengurangan antara laba bersih sebelum pajak dengan nominal tax yang harus disetor perusahaan.

6. Menghitung Pengurangan Hasil dengan Dividen yang Disetorkan

Setelah mendapatkan hasil laba bersih termasuk pajak, maka Anda dapat menghitung pengurangannya dengan dividen yang telah disetor pada pemegang saham.

7. Lakukan Perhitungan pada Saldo Akhir

Hitung jumlah saldo akhir dengan cara menambahkan laba ditahan pada periode tersebut.

Retained earning adalah akumulasi dari jumlah laba ditahan sejak perusahaan berdiri. Jika sudah terhitung, maka itulah retained earning pada suatu perusahaan.

Retained earning adalah laba yang ditahan perusahaan, namun tidak sembarangan.

Penahanan laba ini diputuskan dengan pertimbangan matang dan ditujukan untuk keuntungan bersama.

Perhitungan retained earning adalah hak bagi perusahaan dalam memutuskannya. Tidak menutup kemungkinan jika laba yang ditahan memiliki nilai minus akibat perusahaan mengalami kerugian.

Apabila terjadi demikian, maka perusahaan akan fokus untuk penyelesaian masalah finansial dan melakukan penundaan dalam membagikan dividen.

Nah, itulah pembahasan tentang retained earning, semoga bermanfaat!

Baca juga: Net Income (Laba Bersih) dan Bedanya dengan Gross Profit

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi - 31 Jan 2023

Bank Milik Campuran: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Cara Jadi Trendsetter untuk Branding Bisnis, Ini Manfaatnya!

See All

Produk Terkait

Wealth Management

Wealth Management

Download ONe Mobile