Aggregate Demand: Pengertian, Komponen, Faktor & Cara Hitung

29 Des 2022

Aggregate demand adalah permintaan barang dan jasa dalam suatu periode tertentu.

Pernahkah Anda mendengar istilah aggregate demand? Dalam dunia ekonomi, aggregate demand adalah konsep yang menggambarkan perputaran uang produsen dan konsumen.

Biasanya, konsep ini dimanfaatkan untuk menghitung pendapatan dalam negeri sebuah negara setiap tahunnya.

Agar tidak bingung, Anda bisa simak apa itu aggregate demand hingga cara hitung dan komponen-komponennya di artikel berikut!

Apa itu Aggregate Demand?

Dalam bidang ekonomi makro, aggregate demand adalah salah satu istilah yang umum digunakan.

Secara harfiah, istilah ini merujuk pada nilai seluruh permintaan barang dan jasa dalam suatu periode tertentu.

Dalam hal ini, beberapa hal yang termasuk dalam agregate demand adalah seluruh barang konsumsi, barang modal untuk proses produksi, kegiatan ekspor impor dan program pembelanjaan pemerintah negara.

Jika dihitung dalam jangka waktu yang panjang, aggregate demand juga bisa disebut dengan PDB atau Permintaan Domestik Bruto.

Lantas, mengapa aggregate demand penting? Alasannya adalah karena ia dapat digunakan untuk membantu para profesional menilai kondisi ekonomi suatu negara secara keseluruhan.

Dengan perhitungan ini, kita bisa mengetahui progress perlambatan sebuah negara menuju resesi atau bahkan cara untuk keluar dari resesi.

Bagi para ekonom, aggregate demand adalah hal yang penting untuk mengukur pengaruh harga pada produktivitas.

Misalnya, ketika terdapat perubahan teknologi smartphone, biasanya pelanggan akan cenderung menginginkan versi terbaru.

Karena hal ini, akhirnya permintaan smartphone pun meningkat. Dampaknya, perusahaan akan memproduksi lebih banyak smartphone untuk memenuhi permintaan konsumen.

Ketika produksi meningkat, tentunya perusahaan akan mempekerjakan lebih banyak karyawan.

Secara tidak langsung, bertambahnya lowongan kerja inilah yang akan membantu meningkatkan keadaan ekonomi secara keseluruhan.

Baca juga: Apa Itu Imported Inflation? Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Komponen Aggregate Demand

Dalam menilai permintaan agregat, terdapat beberapa variabel komponen yang perlu diperhatikan. Antara lain seperti investasi, ekspor bersih, pengeluaran pemerintah dan konsumsi.

1. Investasi

Komponen pertama dalam aggregate demand adalah investasi. Hal-hal yang termasuk dalam pengeluaran investasi adalah pembelian barang dan jasa oleh bisnis.

Pembelian ini biasanya digunakan untuk modal fisik atau produksi.  Tentunya, keputusan investasi tergantung pada biaya pendanaan dan keuntungan yang diharapkan.

Menurut para ekonom, menggunakan PDB riil sebagai proksi dapat memberikan keuntungan yang diharapkan.

Pasalnya, ketika PDB riil berekspansi, return yang diharapkan bisa mencapai nilai yang cukup tinggi.

Akan tetapi jika terjadi kontraksi, investasi ini juga kurang menguntungkan. Alasannya adalah karena permintaan barang dan jasa cenderung lemah saat kontraksi.

2. Ekspor Bersih

Istilah ekspor merujuk pada permintaan asing untuk output dalam negeri.

Dalam perdagangan internasional, sebuah negara akan melibatkan mata uang yang berbeda. Dampaknya, nilai tukar akan mempengaruhi tingkat harga.

Karena hal inilah, dalam menilai aggregate demand para ekonom akan menggunakan nilai tukar riil daripada nilai tukar nominal.

3. Pengeluaran Pemerintah

Komponen selanjutnya dalam aggregate demand adalah pengeluaran pemerintah. Dalam hal ini, pengeluaran pemerintah dianggap sebagai variabel eksogen.

Sebab, variabel seperti pertumbuhaan ekonomi, nilai tukar mata uang dan suku bunga tidak mempengaruhi keputusan pengeluaran.

Baca juga: Mengenal Dampak Resesi Ekonomi & Ciri-Ciri Terjadinya

4. Konsumsi

Selain pengeluaran pemerintah, komponen aggregate demand yang selanjutnya adalah konsumsi.

Konsumsi meliputi pengeluaran rumah tangga untuk barang dan jasa. Dalam hal ini, pendapatan disposabel adalah penentu utama dari komponen ini.

Karena pendapatan disposabel tergantung pada pajak, maka komponen ini perlu dipertimbangkan pengaruhnya dalam analisis konsumsi rumah tangga.

Faktor yang Memengaruhi Aggregate Demand

Di dalam praktiknya, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi aggregate demand, yaitu:

1. Penghasilan & Tingkat kesejahteraan Masyarakat

Faktor pertama yang mempengaruhi nilai aggregate demand adalah penghasilan masyarakat.

Ketika pendapatan nasional meningkat, penghasilan setiap rumah tangga juga akan turut meningkat.

Hal seperti inilah yang akhirnya berimbas pada penurunan nilai aggregate demand. Selain penghasilan, resesi juga bisa menjadi faktor lain yang mempengaruhi nilai aggregate demand.

Ketika suatu negara hampir masuk dalam jurang resesi, biasanya masyarakat akan cendrung meningkatkan jumlah tabungan dan mengurangi pengeluaran.

2. Nilai Tukar Mata Uang yang Berubah

Faktor selanjutnya yang dapat mempengaruhi aggregate demand adalah nilai tukar mata uang.

Jika nilai mata uang dalam suatu negara sedang anjlok, tentunya harga barang impor pun akan semakin mahal.

Sebaliknya, jika nilai mata uang meningkat, tentunya harga barang impor pun akan semakin murah.

Baca juga: Demand Pull Inflation: Definisi, Contoh dan Cara Mengatasi

3. Suku Bunga yang Berubah

Naik turunnya suku bunga sangat berdampak pada biaya pinjaman untuk barang berharga seperti kendaraan dan rumah.

Tentunya, hal ini juga mempengaruhi keputusan individu atau pebisnis dalam mengajukan pinjaman.

Saat suku bunga turun, perusahaan dapat menaikkan jumlah pinjaman tanpa khawatir.

Sebaliknya, saat suku bunga meningkat, jumlah kredit dan pengeluaran pun akan cenderung menurun.

4. Ekspektasi Inflasi yang Berubah

Umumnya, ketika suatu negara sedang mengalami peningkatan inflasi, maka harga barang dan jasa pun akan meningkat.

Dalam kondisi ini, biasanya masyarakat setempat akan melakukan pembelian dalam jumlah besar sebelum harga komoditas melonjak tinggi. Alhasil, nilai aggregate demand pun akhirnya meningkat.

Sebaliknya, jika terjadi perkiraan penurunan harga komoditas dalam waktu dekat, biasanya mereka akan menunggu hingga harganya turun.

Aktivitas ekonomi ini akhirnya membuat aggregate demand menjadi menurun juga.

Rumus dan Cara Menghitung Aggregate Demand

Cara menghitung aggregate demand adalah dengan mengambil jumlah kurva permintaan individu dari berbagai macam sektor yang membentuk perekonomian.

Untuk menghitung aggregate demand, rumus yang digunakan adalah:

C + I + G + (X - M)

Keterangan

C = Pengeluaran Konsumsi

I   = Pengeluaran Investasi

G = Belanja Pemerintah

Nx = Ekspor Bersih

Dalam hal ini, utang memiliki peranan penting dalam menentukan tinggi atau rendahnya nilai aggregate demand.

Karena pada dasarnya, aggregate demand adalah mengeluarkan mata uang dengan tujuan konsumsi, investasi dan lain sebagainya.

Pengeluaran ini tentunya akan sangat bergantung dari pendapatan yang diperoleh. Berikut ini contoh gambaran singkatnya.

Pendapatan – Pengeluaran = Jumlah Tabungan

Atau

Pengeluaran = Pendapatan – Tabungan = Pendapatan + Utang.

Dalam penggambarannya, jika si X mengeluarkan uang 5 juta dengan pendapatan 4 juta, maka ia pasti akan meminjam kepada pihak lain untuk memenuhi sisanya.

Sebaliknya, jika si X memiliki penghasilan 4 juta dan hanya mengeluarkan 3 juta, maka tentunya ia masih memiliki tabungan 1 juta.

Nantinya, apabila masyarakat banyak mengajukan pinjaman, itu artinya tingkat kepercayaan publik terhadap kondisi keuangan negara sedang baik. Dampaknya, nilai aggregate demand pun juga akan meningkat.

Sebaliknya, jika kondisi ekonomi ternyata sedang menurun, maka konsumen tentu akan menahan diri untuk membeli barang dan menghindari kredit.

Jika sudah begini, nilai aggregate demand pun akan menurun.

Baca juga: Cost Push Inflation: Pengertian, Faktor Penyebab dan Contoh

Keterkaitan Aggregate Demand dengan Situasi Ekonomi

Aggregate demand adalah sebuah indikator yang dapat digunakan untuk membantu para profesional menilai kondisi ekonomi suatu negara secara keseluruhan.

Dalam skala internasional maupun nasional, kondisi ekonomi yang terjadi akan turut memberikan dampak terhadap aggregate demand di suatu negara.

Misalnya, dalam kondisi resesi, umumnya konsumen dan produsen akan cenderung menekan pengeluaran.

Secara tidak langsung, hal tersebut akhirnya berdampak pada pengeluaran produksi dan instrumen investasi.

Akan ada banyak pebisnis yang juga mengalami kerugian. Baik itu karena kekurangan modal atau penjualan yang menurun drastis.

Alhasil, perusahaan terpaksa mengurangi jumlah karyawan. Jika ada banyak orang kehilangan pekerjaan atau pengangguran, tentunya kondisi ekonomi suatu negara akan memburuk.

Inilah mengapa, situasi ekonomi di suatu negara sangat berdampak pada nilai aggregate demand.

Demikian penjelasan tentang apa itu aggregate demand beserta faktor-faktor yang memengaruhinya.

Kesimpulannya, aggregate demand adalah suatu konsep perhitungan untuk mengukur permintaan pelanggan, baik barang maupun jasa dari aktivitas ekonomi.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda, ya. Jika ingin mendapatkan informasi lain tentang dunia finansial, silakan kunjungi blog OCBC NISP.

Baca juga: Begini Cara Menghitung Tingkat Inflasi Paling Akurat

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Cara Jadi Trendsetter untuk Branding Bisnis, Ini Manfaatnya!

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Inilah 8 Jenis Usaha Ekonomi di Indonesia, Simak Contohnya!

See All

Produk Terkait

Trade Finance

Trade Finance

Kelola bisnis jadi lebih mudah dan nyaman

Download ONe Mobile