Paritas Daya Beli: Pengertian, Cara Kerja, Rumus & Contohnya

19 Jan 2023

Paritas daya beli adalah konsep untuk membandingkan kesejahteraan negara.

Purchasing power parity atau paritas daya beli adalah konsep ekonomi makro yang seringkali digunakan untuk membandingkan produktivitas serta standar hidup antar negara.

Konsep ini berhubungan erat dengan keseimbangan mata uang dan harga suatu barang yang identik dari dua negara berbeda.

Yuk, simak ulasan berikut untuk memahami apa itu paritas daya beli dan cara menghitungnya secara mendalam.

Apa Itu Paritas Daya Beli?

Paritas daya beli adalah suatu teori ekonomi untuk menyetarakan harga sekumpulan barang yang identik di berbagai negara.

Teori paritas daya beli adalah mengharuskan barang-barang tersebut memiliki harga yang setara pada negara satu dan lainnya.

Dasar yang mendasari konsep paritas harga adalah hukum satu harga. Di mana perbedaan harga di dua negara seharusnya ditentukan berdasarkan nilai tukar nominal keduanya.

Jadi, ketika Anda menyesuaikan nilai tukar kedua mata uang tersebut, maka harga di kedua negara akan setara.

Namun, hukum satu harga tersebut diasumsikan tanpa adanya biaya transportasi, biaya transaksi, ataupun hambatan perdagangan.

Hal tersebut menyebabkan paritas daya beli adalah sebuah teori yang kurang realistis untuk diterapkan secara nyata.

Sehingga, nilai tukar purchasing power parity dapat berbeda dengan harga yang ada di pasaran karena beberapa faktor di atas.

Baca juga: Pengertian Kurs, Jenis-Jenis & Faktor yang Memengaruhinya

Cara Kerja Paritas Daya Beli

Teori paritas daya beli seringkali digunakan untuk menetapkan nilai tukar suatu negara baru dan memprediksi nilai tukar riil di masa mendatang.

Seorang ekonom menggunakan teori paritas daya beli untuk membandingkan keadaan ekonomi di berbagai negara.

Hal ini memungkinkan untuk mereka mengetahui negara mana yang memiliki tingkat kesejahteraan ekonomi paling baik di dunia.

Dengan menggunakan nilai tukar paritas daya beli pada selain Produk Domestik Bruto (PDB) bisa membantu menunjukkan gambaran yang lebih jelas terkait kesehatan ekonomi suatu negara.

Selain itu, nilai teoritis paritas daya beli adalah metode yang bisa digunakan oleh perdagangan mata uang asing dan investor saham atau obligasi asing.

Hal ini disebabkan karena paritas daya beli bisa membantu mereka untuk memprediksi fluktuasi mata uang internasional dan risiko terburuknya.

Rumus Menghitung Paritas Daya Beli

Berdasarkan konsep, pengertian paritas daya beli adalah menunjukkan bahwa harga suatu barang yang berada di pasar dengan perekonomian terbuka akan setara dengan di negara lain setelah dikonversikan melalui suatu nilai tukar.

Menurut Pilbeam (2006) terdapat dua pendekatan pada teori paritas daya beli, yaitu secara absolut dan relatif.

Dalam paritas daya beli absolut, nilai tukar ditentukan dengan membandingkan harga sekelompok produk di suatu negara dengan barang identik di negara lain.

Secara sistematis, rumus paritas daya beli absolut yaitu:

S = P/P*

S = nilai tukar yang ditetapkan dalam mata uang domestik dibandingkan dengan mata uang negara lain

P + harga beberapa barang dalam mata uang domestik

P* = harga beberapa barang di negara lain dalam uang asing

Berdasarkan rumus tersebut, dapat diketahui bahwa kenaikan harga di pasar domestik yang relatif terhadap harga luar negeri sehingga bisa menyebabkan terjadinya depresiasi.

Sedangkan, pada teori paritas daya beli relatif Pilbeam (2006) menyatakan bahwa nilai tukar juga ditentukan berdasarkan perbedaan tingkat inflasi di dua negara yang saling bertransaksi.

Adapun rumus untuk jenis relatif paritas daya beli adalah:

%ΔS = %ΔP - %ΔP*

%ΔS = persen perubahan nilai tukar

%ΔP = persen perubahan inflasi domestik

%ΔP* = persen perubahan inflasi negara mitra dagang

Baca juga: Apa itu Money Changer? Pengertian, Kurs, dan Contohnya

Contoh Paritas Daya Beli

Paritas daya beli adalah suatu teori ekonomi yang banyak digunakan dalam menentukan kesehatan ekonomi negara serta membantu investor untuk membuat keputusan investasi asing.

Nah, berikut ada beberapa contoh paritas daya beli yang dibuat berdasarkan dua jenis pendekatannya.

1. Contoh Paritas Daya Beli Absolut

Misalnya, harga sekelompok barang di Indonesia adalah Rp15.000 dan produk yang sama di Amerika Serikat berharga USD1.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai tukar yang terjadi adalah Rp15.000/USD1 = Rp15.000/USD1.

Sedangkan jika harga produk di Indonesia naik menjadi Rp30.000 sementara di Amerika Serikat tetap, maka nilai tukarnya menjadi:

Rp30.000/USD1 = Rp30.000/USD

Perubahan nilai tukar tersebut menyatakan bahwa nilai rupiah mengalami depresiasi atau penurunan.

2. Contoh Paritas Daya Beli Relatif

Dengan menggunakan rumus sistematisnya, maka apabila tingkat inflasi Indonesia meningkat 10% sedangkan Amerika Serikat naik 4%, maka nilai tukar Rupiah per Dollar akan terdepresiasi sebesar 6%.

Jika pada paritas daya beli absolut menunjukkan bahwa nilai tukar adalah Rp14.000/USD, maka bisa saja sebenarnya ialah Rp13.000/USD jika memperhitungkan tingkat inflasi.

Selanjutnya, dengan terjadinya perubahan inflasi akan menyebabkan nilai tukar rupiah bisa terdepresiasi sebesar 6% menjadi Rp14.840.

Baca juga: Apa Itu Imported Inflation? Pengertian, Jenis, dan Contohnya

Kelebihan Teori Paritas Daya Beli

Setelah mengetahui penjelasan tentang teori dan rumusnya, berikut ada beberapa kelebihan dari teori paritas daya beli.

1. Membuat Data Ekonomi Lebih Relevan

Kelebihan teori paritas ekonomi adalah dapat membuat perbandingan data-data ekonomi antar negara menjadi lebih relevan, misalnya pada PDB setiap periode atau per kapita.

Sehingga, Anda bisa menggunakan data tersebut untuk mengetahui gambaran akurat tentang standar hidup suatu negara.

2. Mempermudah Menentukan Tren Nilai Tukar

Nilai tukar paritas daya beli adalah suatu tolok ukur untuk menentukan tren dalam jangka waktu panjang.

Umumnya, nilai tukar pasar akan cenderung bergerak menuju nilai tukar paritas daya beli.

3. Nilai Tukar Paritas Daya Beli Lebih Relevan

Dalam hal ini, nilai tukar paritas daya beli lebih mudah dibandingkan terutama apabila suatu negara memanipulasi nilai tukarnya atau saat terjadi serangan spekulatif terjadi.

Kemungkinan-kemungkinan tersebut akan membuat nilai tukar pasar menyimpang dari keseimbangan dalam jangka panjang.

Kelemahan Teori Paritas Daya Beli

Meskipun cukup menguntungkan untuk berbagai kepentingan negara, namun ada beberapa kelemahan di dalam teori paritas daya beli, di antaranya:

1. Tidak Memperhatikan Kualitas Barang

Nilai tukar paritas daya beli tidak mempertimbangkan perbedaan kualitas suatu barang yang dianggap serupa di negara satu dan lainnya.

Misalnya, suatu produk sabun cuci bisa saja memiliki tingkat kualitas yang berbeda di setiap negara.

Hal ini membuat Anda akan kesulitan dalam menentukan barang atau jasa mana yang bisa dikatakan identik.

Masalah lainnya dari paritas daya beli adalah selera dan preferensi konsumen antara negara akan cenderung bervariasi.

Bahkan, seringkali perusahaan menggunakan pendekatan diferensiasi daripada memenuhi standarisasi produk.

Mereka menyesuaikan penawaran berdasarkan selera masyarakat di masing-masing negara. Sehingga, meskipun produknya sama, bisa saja kualitasnya akan berbeda.

Baca juga: Apa itu Capital Budgeting? Arti, Manfaat, Metode, & Contoh

2. Tidak Realistis

Asumsi hukum satu harga merupakan teori yang kurang realistis karena tidak mempertimbangkan kendala dalam perdagangan internasional, seperti transportasi dan hambatan perdagangan lainnya.

Padahal, kedua faktor tersebut sangat memengaruhi biaya pengiriman barang antar pasar yang ada di berbagai negara.

3. Tidak Akurat

Jumlah barang yang didistribusikan dalam perekonomian sangat beragam. Selain itu, beberapa produk hanya tersedia di negara tertentu.

Hal ini membuat nilai tukar paritas daya beli adalah suatu tolok ukur yang tidak akurat karena ketersediaan produk kurang merata.

Itulah penjelasan tentang pengertian paritas daya beli, cara kerja, rumus, contoh, serta kelebihan dan kelemahannya.

Paritas daya beli adalah teori yang bisa digunakan untuk memperkuat data kesejahteraan setiap negara, namun penerapannya kurang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini disebabkan karena perhitungannya tidak memperhatikan beberapa faktor penting dalam distribusi dan produksi barang, seperti kualitas, transportasi, serta kendala perdagangan.

Semoga informasinya bisa membantu! Temukan lebih banyak artikel seputar tips keuangan dan bisnis hanya di Blog OCBC NISP.

Baca juga: 5 Metode Penyusutan Aktiva Tetap, Faktor & Contohnya

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Cara Jadi Trendsetter untuk Branding Bisnis, Ini Manfaatnya!

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Inilah 8 Jenis Usaha Ekonomi di Indonesia, Simak Contohnya!

See All

Produk Terkait

Trade Finance

Trade Finance

Kelola bisnis jadi lebih mudah dan nyaman

Download ONe Mobile