World's Strongest Bank
Menu

Anda berada di Indonesia


Market Insight


Wealth Panel Video

Tayangan Video Mengenai Layanan OCBC NISP Wealth Panel

 
Khusus bagi Anda nasabah Premier Banking, kami sediakan tayangan video OCBC NISP Wealth Panel sebagai bagian dari layanan pengelolaan finansial.
 
Bank OCBC NISP yang selalu fokus kepada kebutuhan nasabah, senantiasa ingin memberikan layanan dan produk yang bernilai tambah, khususnya untuk segmen nasabah Premier Banking. Kondisi perekonomian dan market yang kerap bergejolak membuat nasabah harus semakin cermat dalam memilih produk produk investasi dan berhati-hati dalam mengelola pundi-pundi keuangannya. Berangkat dari hal inilah Bank OCBC NISP meluncurkan layanan OCBC NISP Wealth Panel, sebagai bagian dari layanan pengelolaan finansial.

Wealth Panel

Perspektif Eksklusif dari Jajaran Wealth Panel Kami

Wealth Panel OCBC NISP merupakan jajaran analis terpercaya di industri perbankan, yang perspektifnya diyakini berkualitas dalam pasar keuangan.

Dengan ulasan analisa dari para panelis OCBC NISP, Anda dapat mengoptimalkan pertumbuhan investasi Anda.

Tulisan maupun tayangan analisa dari para panelis dapat Anda akses melalui www.ocbcnisp.com.

Informasi lebih lanjut mengenai OCBC NISP Premier Banking hubungi Call OCBC NISP 500999/66999 (HP)

 

Ka Jit

Ka Jit

Senior Corporate Executive OCBC NISP Bank

Ka Jit memulai karirnya dalam dunia perbankan sejak tahun 1998. Sebelum bergabung dengan Bank OCBC NISP tahun 2011, Ka Jit berkarir di berbagai institusi multinasional seperti DBS, CITI, dan HSBC.

Saat ini sebagai Senior Corporate Executive Bank OCBC NISP, Ka Jit bertanggung jawab dalam proses pengembangan dan positioning produk consumer banking melalui pengkajian terhadap pasar, pengembangan sistem, dan desain proses untuk memenuhi kebutuhan finansial nasabah perorangan.

Ka Jit juga memimpin tim Segment Proposition yang berperan dalam pengembangan layanan OCBC NISP Premier Banking, tim Wealth Advisory yang bertugas membangun strategi pengelolaan portfolio dan perencanaan keuangan bagi individu, dan tim Distribusi yang tersebar di seluruh Cabang Bank OCBC NISP untuk melayani kebutuhan investasi, proteksi maupun pengelolaan keuangan Nasabah.


Juky Mariska

Juky Mariska

Wealth Advisory Head OCBC NISP Bank

Sebagai Head of Wealth Management Specialist, Juky berperan dalam melakukan analisa terhadap kondisi pasar sebagai referensi baik bagi tim Marketing maupun bagi nasabah dalam pengelolaan investasi.

Sebelum bergabung dengan OCBC NISP, Juky berpengalaman selama 12 tahun di Citibank. Berawal dari sebagai Personal Banker, Investment Consultant sampai menjadi Branch Manager. Jabatannya terakhir adalah sebagai Head of Sales di First State Investment Indonesia. Juky memulai karirnya di dunia perbankan & institusi keuangan tepat setelah kelulusannya dari The University of San Fransisco dengan gelar MBA in Finance, di tahun 2001.


Novelina Luciana

Novelina Luciana

Head of Treasury Advisory OCBC NISP Bank

Dalam posisinya saat ini, peranannya adalah dalam pertumbuhan bisnis Treasury di segmen Wholesale, Enterprise, Commercial, Emerging Business, Financial Institution dan Consumer. Sebelumnya, selama 1 tahun periode jabatan sebagai Head of FX and Derivative Advisory OCBC NISP Bank, dia bertanggung jawab dalam pertumbuhan Treasury Sales Business bagi nasabah perorangan maupun korporasi di seluruh cabang Bank OCBC NISP.


Richard Jerram

Chief Economist pada Bank of Singapore

Sebagai Chief Economist di Bank of Singapore, Richard melakukan analisa dan perumusan pertumbuhan global makro ekonomi. Karirnya sebagai analis selama lebih dari dua dekade, diawali di Jepang pada tahun 1980. Richard memperoleh gelar doktornya di London dan kembali ke Jepang pada tahun 1996 untuk bergabung dengan ING Securities. Tahun 2009, Richard ditunjuk sebagai Head of Asian Economics of Macquarie dan kemudian dimutasi ke Singapura. Richard yang merupakan pemilik gelar CFA, adalah lulusan dari University College London dengan gelar BSc dan London School of Economics dengan gelar MSc dan PhD.


Vasu Menon

Head, Content & Research Wealth Management Singapore - OCBC Bank

Vasu Menon memiliki pengalaman 23 tahun di industri investasi & wealth management. Figurnya cukup dikenal di media terkait dengan paparan analisa pasar. Sebelum bergabung dengan OCBC Singapura, dia merupakan head of investment research di sebuah perusahaan sekuritas dimana Vasu berhasil membangun reputasinya dalam memilih small-cap stocks. Di posisinya saat ini, Vasu memiliki peran besar dalam formulasi analisa investasi baik dalam penulisan artikel yang menarik terhadap isu-isu penting di pasar uang maupun sebagai pembicara dalam seminar dan event investasi lainnya.


Hou Wey Fook

Chief Investment Officer Bank of Singapore

Hou Wey Fook, CFA, adalah Managing Director and Chief Investment Officer di Bank of Singapore. Berpengalaman selama 24 tahun dalam pengelolaan portfolio, termasuk diantaranya saham, obligasi, reksadana & hedge funds. Sebelum bergabung dengan Bank of Singapore, Wey Fook merupakan bagian dari OCBC Bank Group selama 17 tahun sebagai Chief Investment


Wellian Wiranto

Wellian Wiranto

Economist - OCBC Bank

Wellian bergabung dengan OCBC Global Treasury di Desember 2013, sebagai ekonom yang bertanggung jawab di region Indonesia dan Malaysia. Analisanya telah dikutip secara rutin oleh media internasional, diantaranya Wall Street Journal, Financial Times, Bloomberg and Reuters, juga beberapa media di luar Singapura di antaranya the Edge, Business Times, Straits Times, Jakarta Globe and Jakarta Post. Wellian juga hadir sebagai pembicara di CNBC, Bloomberg TV dan Channel News Asia untuk memberikan perspektifnya terhadap kondisi ekonomi pasar global & pasar regional.

+ Show more details

 

 

For more information, call:

1500-999

(Press 1 for Premier Banking)


Handphone
66-999

(Press 1 for Premier Banking)

or contact us Online

 

Market Outlook

Informasi dan Ulasan Analisa Pasar Terkini

untuk mendapatkan ulasan pasar secara lengkap silakan menghubungi Premier Banking Manager anda.

Laporan Analisa Pasar Harian dan Bulanan

Tug of War

Sejumlah risk events mendorong kenaikan volatilitas pasar modal di bulan Oktober. Terkait perang dagang antara AS dan China, pemerintahan Trump pun menyatakan menolak diskusi dengan pihak China sampai tuntutannya dipenuhi oleh pihak China. Selain itu, IMF pun menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3.9% menjadi 3.7% seiring dengan meningkatnya risiko perang dagang serta tekanan terhadap beberapa negara berkembang.

Sementara itu dari dalam negeri, ekonomi Indonesia dilaporkan bertumbuh 3.09% di kuartal III yang lalu, atau 5.17% untuk setahunnya. Walaupun melambat dari kuartal sebelumnya, namun angka ini berada di atas ekpektasi pasar. Faktor pendukung pertumbuhan datang dari sektor jasa, informasi dan komunikasi. Di kuartal III, terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan perlambatan ekonomi seperti penurunan daya beli, stagnannya investasi serta defisit neraca perdagangan yang melebar, terutama akibat pelemahan Rupiah. Cadangan devisa di bulan Oktober sedikit meningkat ke US$115.2 milyar dibandingkan sebelumnya di US$114.85 milyar. Foreign Direct Investment kuartal III dirilis melemah 20.2%  menjadi Rp 89.1 triliun, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran investor akan pelemahan Rupiah dan pelebaran defisit neraca.

Dalam hal kebijakan suku bunga, Bank Indonesia masih menahan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate di 5.75%. Rilis data inflasi juga menunjukkan adanya kenaikan di bulan Oktober sebesar 0.28% atau 3.16% untuk setahun.

Di minggu ketiga Oktober, emiten mulai merilis musim laporan keuangan kuartal III. Pertumbuhan laba korporasi di kuartal III sedikit membaik dibandingkan kuartal II. Laba bertumbuh 10 persen dibandingkan estimasi 8 persen. Kenaikan ini didorong adanya perbaikan dari sektor properti, materi bangunan, dan telekomunikasi.

Beberapa indikator ekonomi ini memang tidak terlalu kuat, namun diatas ekspektasi pasar yang terlalu mendiskon dampak dari penguatan Dolar AS dan konflik perang dagang terhadap perekonomian Indonesia. Sehingga, kami menilai bahwa baik Rupiah maupun pasar modal akan bergerak lebih stabil memasuki 2019, seiring dengan adanya katalis domestik yang datang dari Pilpres dan Pileg di bulan April tahun depan. Secara keseluruhan, walaupun tekanan masih ada, perekonomian diperkirakan masih dapat tumbuh diatas 5 persen, namun sedikit melambat di 5.1% di 2019 dibandingkan 2018 sebagai dampak dari perang dagang dan pelemahan mata uang.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

IHSG melemah 2.42% selama bulan Oktober, menyentuh level terendah di 5702. Investor asing kembali membukukan nett sell di bulan Oktober sejumlah Rp 3.4 triliun. Secara historis, tahun politik berhasil membawa kinerja pasar saham meroket. Hal ini terlihat di tahun 2004, 2009 dan 2014. Aliran dana asing terlihat memasuki pasar modal sejak dimulainya masa kampanye di masing-masing tahun tersebut. Secara kinerja musiman historis, terlihat pula probabilitas bulan November membukukan kinerja negatif sebesar 58 persen.

Di bulan November ini, terdapat beberapa sentimen eksternal yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar saham seperti US Mid Term Election di awal bulan dan pertemuan Trump dan Xi Jin Ping di akhir bulan. Risiko seperti ini akan memberikan kesempatan bagi investor dengan profil risiko agresif untuk mengakumulasi kelas aset saham, terutama saham berkapitalisasi besar yang sudah terdiskon cukup tajam.



Obligasi

Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun melemah menyentuh level 8.88% di bulan Oktober lalu seiring dengan pelemahan Rupiah. Investor asing membukukan nett buy sebesar Rp 13 triliun di bulan Oktober, namun aksi beli ini tidak mampu menahan pelemahan yield hingga ke level tertingginya sejak awal tahun.

Di awal bulan November, imbal hasil obligasi menguat hingga 8.05% seiring dengan penguatan Rupiah dan aksi beli investor asing yang mencapai Rp 14.1 triliun. Tingginya real yield Indonesia dibandingkan negara-negara layak investasi di kawasan Asia, merupakan daya tarik bagi investor asing.

Ke depannya, seiring dengan tren penguatan Rupiah dan stabilnya inflasi, kami menilai pelemahan yield akan terbatas. Kisaran pergerakan yield obligasi pemerintah 10 tahun akan berada di antara 8.1 hingga 8.3% untuk tiga bulan ke depan. Investor dengan profil risiko agresif namun menginginkan adanya pendapatan tetap, dapat mengadopsi strategi barbel yang menyeimbangkan antara obligasi jangka panjang dan jangka pendek.



Currency

Bulan Oktober merupakan bulan yang penuh gejolak dengan pelemahan Rupiah yang cukup tajam hingga menyentuh level 15,238 per Dolar AS. Namun di awal bulan November, Rupiah bergerak menguat tajam hingga menyentuh level 14,539 per Dolar AS. Mulai November, pemerintah juga mulai memberlakukan NDF (non deliverable forward) domestik untuk Rupiah untuk menjaga stabilitas. Hingga akhir tahun, seiring dengan tren kenaikan suku bunga AS, Rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran 14,600 hingga 15,000.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Pertumbuhan Asia Tetap Kuat

“Pertumbuhan Asia tetap kuat, didukung dengan membaiknya manajemen ekonomi dala beberapa tahun terakhir. Penerapan tarif AS pada barang ekspor China dapat merugikan, namun beberapa negara justru mendapatkan keuntungan dari pengalihan arus perdagangan.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:
  • Perjanjian damai sejak berakhirnya Perang Dingin menyebabkan penurunan pengeluaran  pertahanan keamanan AS
  • Terdapat beberapa kekhawatiran bahwa sengketa AS-China dapat memicu perang dingin baru yang dapat menghilangkan perjanjian damai sejak tahun 1990 atau bahkan mendorong terjadinya konfrontasi militer. Sehingga, biaya fiskal dari belanja untuk bidang pertahanan dapat memicu kenaikan suku bunga, terutama ketika Fed menambahkan penawaran dengan menyusutkan neraca keuangannya. Hal tersebut dapat memperburuk keuangan AS, yang diakibatkan oleh pemangkasan pajak, dan dapat memperburuk ketahanan ekonomi AS pada saat siklus penurunan berikutnya.
  • Situasi ini akan menjadi lebih jelas di beberapa bulan mendatang, dengan adanya pertemuan Trump dan Xi Jin Ping, serta keputusan apakah aka nada kenaikan tarif terhadap barang impor dari China.
  • Asia merupakan pihak yang sangat diuntungkan saat selesainya perang dingin, ditopang dengan meningkatnya ekspor. Hal ini kemungkinan tidak terjadi apabila negara-negara tersebut dipaksa untuk memilih sisi antara AS dan China di era perang dingin yang baru, yang dapat mengganggu rantai perdagangan regional.
  • Sekarang ini, kita masih melihat bahwa pertumbuhan Asia akan tetap baik meskipun ada goncangan di pasar finansial.

Amerika Serikat
  • Pertumbuhan ekonomi meningkat didorong oleh kebijakan fiskal. Pertumbuhan pekerjaan juga meningkat, PDB juga berada di posisi tertingginya dalam 4 tahun terakhir.
  • Upah tenaga kerja mulai memperlihatkan kenaikan, karena tenaga kerja mendapat keuntungan dari tingkat pengangguran terendah sejak 1960. Menyeimbangkan antara kenaikan upah tenaga kerja sembari mendorong produktivitas adalah hal yang cukup sulit, sehingga perusahaan akan dihadapkan pada pilihan untuk menaikkan harga atau menurunkan laba. Kenaikan tarif juga merupakan risiko tambahan lainnya, dimana perusahaan akan berupaya menaikkan harga konsumen.
  • Sejauh ini, Fed sudah menaikan suku bunga secara bertahap. Hal ini diperkirakan akan terus berlanjut, sehingga kami menilai Fed akan menaikan suku bunga empat kali pada tahun 2019, dan satu kali di bulan Desember. Hal ini akan membuat kebijakan menjadi sedikit terbatas, dan menimbulkan pertanyaan apakah beban dari kebijakan fiskal dan moneter akan mendorong ekonomi melemah di tahun 2020. Risiko resesi ini cukup jelas, namun masih jauh untuk mendapatkan dukungan yang kuat.

Eropa
  • Tingkat pengangguran di zona Eropa mendekati titik terendah pada periode pemulihan beberapa tahun lalu, dan mulai mendorong adanya peningkatan upah. Hal ini merupakan alasan bank sentral Eropa (ECB) bahwa target inflasi akan tercapai pada tahun mendatang, meskipun adanya sinyal kelesuan akhir-akhir ini.
  • Sehingga, hal ini meyakinkan ECB bahwa pembelian aset tidak lagi diperlukan. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan terjadi di kuartal III - 2019.
  • Masalah politik di Italia dan Inggris belum selesai. Adanya kerumitan jangka pendek pada ketentuan Brexit dapat mendorong masa transisi melewati tenggat waktu di bulan Maret 2019, namun hal tersebut masih harus disetujui.
  • Italia bertentangan dengan Komisi Eropa mengenai anggaran stimulus yang mengancam reformasi sebelumnya. Diharapkan kenaikan imbal hasil obligasi akan membatasi Italia dalam hal ini.

Jepang
  • Aktivitas ekonomi mengalami penurunan akibat bencana alam yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun hal ini seharusnya tidak mengganggu momentum pertumbuhan, ditopang oleh kenaikan laba korporasi, dengan rendahnya tingkat upah di tengah ketatnya pasar ketenagakerjaan.
  • Bank of Japan menginginkan target inflasi sebesar 2%, dan sulit melihat adanya perubahan kebijakan dengan rencana kenaikan pajak penjualan di bulan Oktober 2019.  Pemerintah sedang mengupayakan kebijakan baru yang akan mengimbangi kenaikan pajak penjualan sebanyak 2 poin ke 10% supaya tidak terlalu mempengaruhi permintaan.

China
  • Sektor manufaktur dirugikan oleh tarif AS terhadap US$250 milyar barang ekspor China, dan potensi ancaman berikutnya.
  • Namun, indikator keyakinan ekonomi masih berada di area positif, karena sejauh ini dampaknya tidak terlalu parah. Nilai ekspor adalah seperlima dari ekonomi secara keseluruhan, dan hanya seperlima dari barang-barang tersebut yang diekspor ke AS.
  • Menanggapi tarif yang dikenakan, pemerintah berupaya mendukung ekonomi domestik melalui berbagai kebijakan, dari pemotongan pajak pendapatan untuk mendorong kredit dan meningkatkan belanja infrastruktur. Dampak langsung dari kebijakan tersebut belum terlihat, namun stimulus lebih lanjut akan dilakukan jika diperlukan.
  • Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan kredit sedang ditunda, untuk mendorong pertumbuhan jangka pendek, dan untuk mencegah perlambatan
 
Asia
  • Pertumbuhan Asia tetap kuat, didukung dengan adanya perbaikan manajemen ekonomi di beberapa tahun terakhir. Tarif AS pada barang ekspor China dapat mengakibatkan perlambatan, namun beberapa negara justru mendapatkan keuntungan dari pengalihan arus perdagangan.
  • Secara umum, posisi fiskal kuat, inflasi masih terkendali dan ketidakseimbangan masih terbatas. Hal ini berarti bahwa perekonomian masih memiliki fleksibilitas untuk mengantisipasi tekanan eksternal dan mengurangi dampak negatif terhadap pertumbuhan.





 


Kesempatan di Asia

“Di pasar saham, kita lebih menyukai pasar saham Asia Ex-Japan, dengan menariknya keuntungan dibandingkan risiko, dan valuasi yang murah, diikuti oleh AS, Jepang, dan Eropa.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Kedepan nya, kami melihat adanya dua pendorong makro untuk pasar saham: lintasan pertumbuhan global dan laju inflasi AS. Dengan inflasi inti sudah mencapai target 2 persen, normalisasi kebijakan Fed akan berlanjut dengan laju yang sama. Adanya perubahan pada pandangan inflasi akan mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap laju normalisasi.
  • Sementara itu, ketidakpastian dari perkembangan geopolitik akan terus menghambat proyeksi pertumbuhan dan keyakinan investor. Dengan adanya ekspektasi kenaikan suku bunga, kami menilai bahwa valuasi saham global telah mencapai puncaknya.
  • Namun demikian, valuasi menjadi tidak terlalu mahal setelah adanya penjualan akhir-akhir ini sehingga memberikan ruang untuk kembali menanjak.


Amerika Serikat

  • Kekhawatiran yang meningkat akan proyeksi pertumbuhan laba korporasi di AS dan kenaikan suku bunga, merupakan pemicu utama untuk menghindari aset berisiko di AS. Tidak mengherankan, aset yang defensif berkinerja lebih baik. Hal ini terjadi walaupun rilis laba positif dan adanya kenaikan konsensus laba 2018 di bulan Oktober.
  • Seperti bulan lalu, dengan adanya kinerja yang kuat sejak awal tahun dan valuasi yang meningkat, ekspektasi pertumbuhan sangat sulit dilampaui. Konsensus pertumbuhan laba 2019 saat ini berada lebih rendah di 9.9% (dibandingkan 10.6% pada bulan lalu), hal ini mencerminkan adanya kenaikan proyeksi laba 2018 (sesuai dengan hasil laba kuartal III yang positif) namun proyeksi yang lebih rendah di 2019.
  • Selain adanya kenaikan biaya akibat tarif perdagangan, penguatan Dolar AS berpotensi memperlambat proyeksi pertumbuhan.


Zona Eropa

  • Kekhawatiran akan perdagangan, Brexit, dan anggaran Italia berdampak negatif pada kinerja pasar saham Eropa. Hal ini ditambah pula dengan adanya peringatan terhadap kinerja laba beberapa perusahaan ternama.
  • Hasil pendapatan perusahaan sejauh ini mengecewakan. Selama bulan Oktober, konsensus pertumbuhan laba perusahaan 2019 bergeser dari 9.6% ke 9.9%.
  • Secara fundamental, pemulihan ekonomi akan berlanjut dan valuasi juga berada di dekat level netral. Selain perang dagang AS, masalah geopolitik juga merupakan risiko utama yang dapat menghambat pemulihan ini.
 
Jepang
  • Pasar saham di Jepang tidak terhindar dari meningkatnya keraguan pada pertumbuhan global dan penguatan JPY juga tidak membantu. Hasil laba perusahaan yang positf sejauh ini memberi sedikit kelegaan.
  • Beberapa faktor seperti perbaikan proyeksi laba, dapat mendukung meskipun penilaian ulang pasar membutuhkan reformasi struktural yang lebih bermakna.

Asia ex-Japan
  • Namun, valuasi Asia Ex-Japan telah bergerak lebih rendah, diakibatkan karena adanya penjualan tajam sejak nilai tertingginya di bulan Januari. Dengan demikian, kami menilai adanya risk-reward yang lebih menarik untuk kawasan ini. Selain pengurangan stimulus, kenaikan suku bunga dan memburuknya hubungan AS dan China akan menjadi risiko utama bagi kawasan ini.
  • Kami percaya bahwa pasar saham Asia saat ini memberikan peluang investasi yang menarik diatas risiko, walaupun kinerjanya negative sejak awal tahun. Pasar saham Asia telah menderita cukup banyak seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang mencapai puncaknya.
  • Pasar negara berkembang telah terpukul karena goncangan di beberapa negara dan pengetatan keuangan juga memberikan tekanan terhadap negara dengan kerentanan yang tinggi.
  • Kami melihat adanya potensi pemulihan, terutama di pasar saham. Ekonomi China memiliki ketahanan yang baik, fundamental negara berkembang juga kuat,, dan saat ini kita mendekati puncak risiko. Sementara itu, valuasi pun terlihat cukup murah.
  • Kami belum kehilangan kepercayaan di Asia, dimana kekuatan ekonomi mulai terlihat dari hasil pertumbuhan laba yang kuat. Penjualan saham sudah mulai berkurang, dan negara berkembang sekarang diperdagangkan di harga yang sangat murah dibandingkan pasar saham negara maju.
  • Fundamental ekonomi dan rilis laba perusahaan di Asia cukup baik, dengan kuatnya ketahanan China walaupun terdapat pelambatan pertumbuhan kredit. Kami menyukai beberapa pasar Asia Tenggara namun kami juga menilai adanya risiko yang meningkat untuk kawasan ini jika ekonomi China melambat lebih buruk daripada pasar atau apabila terjadi gangguan pada perdagangan global.



Fokus pada obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi

“Untuk pendapatan tetap, kami lebih memilih obligasi dengan durasi pendek dan memiliki kualitas kredit yang baik. Kami lebih memilih obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi, dibandingkan negara maju, dikarenakan valuasi yang lebih menarik.”

- Eli Lee, Head of Investment Strategy, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Obligasi negara berkembang melemah di akhir bulan dengan tingginya sentimen negative sehingga menggerus kenaikan yang terjadi di awal bulan Oktober, walaupun terdapat reli pada obligasi US Treasury dan perkembangan positif di Brazil dan Turki
  • Bangkitnya pasar paska bebasnya pendeta Amerika, Andrew Brunson dan naiknya Jair Bolsonaro, kandidat presiden Brazil yang lebih pro-pasar, tertutup oleh kekhawatiran akan melemahnya data ekonomi China dan sentimen negatif investor terhadap hasil yang mengecewakan dari referendum Mexico City Airport.
  • Rentang kredit obligasi melebar terhadap semua obligasi emerging market (EM) di bulan Oktober, dengan valuasi obligasi EM kategori high yield lebih menarik, dibandingkan dengan EM Investmet Grade, dan US High Yield.
  • Kami menyarankan alokasi yang lebih besar di obligasi EM high yield. Valuasi yang lebih menarik di obligasi EM high yield dibandingkan EM investment grade dan US high yield, didukung dengan rendahnya tingkat gagal bayar di tahun ini, turut mendukung pandangan konstruktif kami EM high yield.
  • Terlepas dari pandangan positif kami terhadap obligasi EM, kami kembali menekankan pentingnya investor untuk tetap defensif di obligasi EM dengan durasi yang pendek, dan mengurangi durasi, untuk mengurangi dampak kenaikan suku bunga AS yang diperkirakan masih akan berlanjut.
  • Obligasi investment grade kembali tertekan selama bulan Oktober. Rentang kredit juga melebar di Eropa dan AS. Penurunan di pasar saham juga menjadi salah satu penyebabnya.
  • Situasi di Eropa tidak terbantu dengan adanya masalah Italia. Banyak bank yang masih memulihkan diri dari trauma Yunani dan dampak dari perlambatan pertumbuhan laba di zona Eropa yang berkepanjangan.
  • Terdapat tren kenaikan jumlah penerbitan obligasi di AS. Sesuai karakteristik di siklus puncak, maka kualitas kredit pun memburuk. Hal ini terlihat dengan meningkatnya jumlah penerbitan dengan rating BBB- dibandingkan dengan obligasi yang ratingnya lebih tinggi.
  • Kami menilai tidak akan adanya resesi di AS pada tahun 2019. Berita resesi akan berdampak negatif terhadap obligasi, karena akan mengancam kemampuan perusahaan untuk membayar kembali pokok dan bunga, serta meredam minat investor terhadap penerbitan baru. Sehingga akan  membuat perusahaan sulit untuk melakukan pembiayaan ulang.
  • Tanpa adanya dinamika ini dalam waktu dekat, maka kenaikan obligasi investment grade lebih akan didorong oleh jumlah penerbitan dan perkembangan di pasar keuangan yang berbasis suku bunga, daripada persepsi negatif terhadap perekonomian makro.
  • Pandangan terhadap investment grade belum berubah. Terkadang, hal tersebut bisa menjadi contoh bahwa tahun yang kurang bagus akan diikuti dengan tahun yang lebih baik. Saat ini, kami menilai bahwa rendahnya level imbal hasil dan potensi kenaikan rentang kredit akan membatasi kenaikan obligasi investment grade.


Fokus pada kenaikan Dolar AS

“Ekonomi AS tetap mengungguli ekonomi dunia, dan memperkuat keyakinan bahwa Dolar AS akan tetap menguat dalam waktu dekat.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Hal-hal Utama:
  • Ketegangan geopolitik gagal mendukung harga minyak. Kritik Saudi Arabia yang meluas belum berdampak pada gangguan persediaan minyak.
  • Kenaikan harga akan terbatas. WTI akan terjebak di kisaran harga US$ 65-75 per barel, didorong oleh tingkat persediaan yang fleksibel, yang merefleksikan dinamika produksi minyak saat ini. Kisaran harga ini merupakan level yang menarik bagi produsen dan tidak akan berdampak negative pada pertumbuhan global, seiring dengan dampak terhadap inflasi yang mulai memudar.
  • Produksi yang efisien akan membuat harga menjadi turun, kecuali ketegangan geopolitik kembali mencuat.
  • Pembelian aset safe-haven seperti emas meningkat karena kekhawatiran mengenai penghasilan perusahaan-perusahaan di AS yang sudah berada di puncaknya, dan munculnya sinyal pelemahan di sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, seperti sektor perumahan.
  • Meskipun kami tidak menilai adanya kemungkinan Fed berhenti menaikkan suku bunga, namun apabila pasar saham di AS mengalami penurunan lebih lanjut, hal ini mungkin akan memicu diskusi yang lebih luas mengenai scenario tersebut, sehingga dapat mendorong kenaikan harga emas.
  • Meningkatnya volatilitas pasar saham AS dapat mendorong kenaikan harga emas untuk sementara, dengan batas atas berada di harga US$1265 per ounce.
  • Memasuki November, mata uang utama akan melanjutkan pelemahan terhadap Dolar AS.
  • Ke depannya, kami menilai kekhawatiran investor masih akan berlanjut sehingga akan mendorong permintaan Dolar AS sebagai aset safe-haven.
  • Selain itu, Fed juga bersikap tenang terhadap gejolak di pasar saham, dengan mempertahankan retorika yang tegas dalam komentar terbaru mereka. Sehingga, kami menilai bahwa terlalu dini untuk berpandangan bahwa Fed akan mengurangi laju kenaikan suku bunga AS.
  • Kami juga mencari kemungkinan munculnya kembali perbedaan suku bunga sebagai pendorong Dolar AS, dengan imbal hasil US Treasury 10-tahun yang berupaya menahan penurunannya pada Oktober.
  • Karena ekonomi AS terus mengungguli dunia, kami percaya bahwa Dolar AS masih akan terus menguat dalam waktu dekat.
  • Di bagian dunia lainnya, masalah politik dan melemahnya beberapa data ekonomi mempengaruhi kinerja mata uang Euro. Euro dan Pound sudah mulai mendekati titik terendah sejak awal tahun, dan masih adanya indikasi pelemahan lebih lanjut.
  • Di Asia, kami melihat investor mulai lebih waspada dengan adanya penjualan besar di pasar saham dan ketegangan perdagangan antara China dan AS. Sehinga, Dolar AS akan tetap menguat terhadap mata uang Asia.
  • Selain itu, Renmimbi (RMB) juga mengalami tekanan, berharap akan ada sedikit dukungan untuk mata uang Asia dari mata uang China. Sementara retorika resmi dari China sudah tegas, kami menilai adanya tindakan yang terbatas untuk membalikkan pelemahan RMB terhadap Dolar AS. Dengan lemahnya data ekonomi China, terdapat sedikit ruang untuk pembalikan RMB pada saat ini.

Changing of Seasons

Menjelang akhir 2018, pasar mendapatkan angin segar terkait perang dagang antara AS dan China, serta arah kebijakan suku bunga Fed. Di akhir November, baik Presiden Trump maupun Presiden Xi menyetujui adanya gencatan senjata, yang akan memberikan tenggang waktu 90 hari hingga akhir Februari bagi kedua negara untuk menemukan resolusi terkait ketegangan yang telah berjalan hampir sepanjang tahun ini. Selain itu, komentar dari Gubernur Fed, Jerome Powell yang tidak lagi agresif untuk menaikkan suku bunga, membuat ekspektasi kenaikan suku bunga di 2019 turun menjadi satu kali. Analis pun mulai memprediksi bahwa Fed bahkan akan mulai memangkas suku bunga di 2020. Hal ini dikemukakan oleh Fed menyikapi pelemahan beberapa data fundamental ekonomi AS dan ekspektasi di 2019. Hal ini mendorong kenaikan minat risiko di pasar keuangan terutama negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Baik pasar saham, obligasi serta mata uang menguat akibat kedua hal ini. Ketidakpastian mengenai Brexit tidak lagi menjadi perhatian pasar, di tengah eforia ini.

Memasuki 2019, penting bagi investor untuk kembali mencermati data-data fundamental terkait pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Di tengah ekspektasi pelemahan ekonomi AS, perekonomian negara berkembang di Asia di luar China dan Jepang, diperkirakan bertumbuh 6.5%. Hal ini jauh diatas perekonomian negara maju yang diestimasikan di 2.1% pada tahun 2019. Untuk Indonesia sendiri, APBN 2019 memasang angka pertumbuhan ekonomi di 5.3% dan inflasi stabil di kisaran 3.5%. Terlihat dalam APBN 2019 ini, adanya kenaikan pada belanja pemerintah pusat dan transfer dana desa. Belanja pemerintah pusat di tahun depan akan berfokus pada peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), penguatan infrastruktur, peningkatan efektivitas program perlindungan sosial, pelaksanaan agenda demokrasi, penguatan birokrasi yang efisien dan efektif, serta antisipasi ketidakpastian termasuk mitigasi risiko bencana alam.

Pergeseran retorika Fed menjadi dovish juga akan mendorong Bank Indonesia menahan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate, dengan stabilnya inflasi serta berhentinya laju pelemahan Rupiah. Tak kalah pentingnya, di 2019 ini kita akan memasuki periode pesta politik lima tahunan. Secara historis dalam 3 kali masa Pemilu terakhir, pasar saham Indonesia selalu membukukan kinerja positif terutama dalam masa kampanye. Hal ini tentunya didorong oleh meningkatnya konsumsi serta berputarnya roda ekonomi dari sektor-sektor seperti media dan telekomunikasi.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Angin segar dari perang dagang mendorong kinerja IHSG hingga 3.77% di akhir bulan November. Sentimen positif ini berhasil mendorong harga IHSG bertahan diatas level 6100 di awal bulan Desember. Desember merupakan bulan dengan probabilitas kinerja positif terbesar sejak paska krisis moneter Asia. IHSG hanya mencatatkan kinerja negatif sekali di bulan Desember 2000, dan selanjutnya positif. Hal ini umumnya disebut dengan istilah window dressing ataupun Santa Claus Rally. Valuasi Desember yang umumnya diatas 16.8 kali, saat ini berada di kisaran 16.3 kali yang mencerminkan undervalue pada pasar saham Indonesia. Investor asing tercatat membukukan net sell Rp 48.6 Triliun sejak awal 2018 yang diakibatkan oleh potensi pertumbuhan ekonomi AS dan ketegangan perang dagang. Di 2019, dengan earnings diperkirakan bertumbuh 11%, potensi perlambatan ekonomi AS, dan gencatan senjata perang dagang, maka diperkirakan akan mendorong kembalinya minat risiko ke pasar saham Indonesia. Investor dengan profil risiko agresif dapat mengakumulasi investasi pada pasar saham, terutama saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah terdiskon cukup banyak paska koreksi sejak awal kuartal II – 2018.


Obligasi

Selain pasar saham, obligasi pun menguat di tengah eforia perang dagang dan Fed yang dovish. Lelang terakhir di bulan November mencatatkan adanya permintaan yang oversubscribed. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun menguat hingga level 7.8% dari sebelumnya di 8.2%. Di minggu ketiga bulan November, pemerintah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan jadwal lelang Surat Utang Negara (SUN) hingga akhir tahun, terutama dengan telah terpenuhinya target penerbitan SUN di 2018. Berkurangnya suplai di akhir tahun, di tengah penurunan imbal hasil obligasi global serta Bank Indonesia menahan suku bunga, maka hal ini akan mendorong pasar obligasi kembali bergairah memasuki 2019. Investor dengan profil risiko moderat ke agresif dapat mempertimbangkan untuk memperpanjang durasi investasi obligasi diatas 10 tahun, serta memanfaatkan koreksi sebagai entry window.


Currency

Paska melewati bulan yang penuh gejolak di Oktober, di bulan November hingga awal Desember, Rupiah terus melanjutkan penguatan hingga menyentuh Rp 14,244 per Dolar AS. Untuk tiga bulan ke depan, Rupiah diprediksi untuk berada di kisaran 14,500 hingga 14,800. Ke depannya, walaupun Dolar AS diperkirakan akan melemah, namun nilai Rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Aiming For A Soft Landing

“Tantangan utama bagi para pembuat kebijakan di 2019 adalah menuntun ekonomi global dalam menghadapi perlambatan. Seiring dengan memuncaknya siklus ekonomi, prioritas utama adalah menghindari adanya pemanasan ekonomi dan memperpanjang masa pertumbuhan.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore


Hal-hal utama:
  • Sejarah dasar dari siklus ekonomi (dan pasar) adalah “pertumbuhan dan pelemahan”, yang disebabkan oleh perbedaan informasi dan keterlambatan waktu. Keadaan yang baik mengakibatkan keyakinan yang berlebih, sehingga pembuat kebijakan lambat untuk bereaksi, dan ketika mereka bertindak – entah sengaja atau tidak - justru membawa ekonomi ke dalam resesi. Pertumbuhan ekonomi seringkali dinyatakan sebagai “kali ini berbeda”, namun kemudian menghilang di tengah perlambatan.
  • Mungkin, kunci utama menuju perlambatan adalah ekspansi yang kuat, kebijakan harus cukup ketat untuk mengontrol laju pertumbuhan di bawah tren (atau normal), tetapi tidak menekan karena dapat menyebabkan penurunan dalam kegiatan.­­
  • Perlambatan adalah berita buruk bagi marjin perusahaan, seiring menurunnya permintaan bahkan  sebelum terjadinya penurunan upah dengan menurunnya daya tawar karyawan. Hal ini terjadi terutama pada emiten, yang memiliki kecenderungan untuk mempercantik laba di puncak siklus ekonomi dan memangkas biaya di saat siklus menurun.
  • Jika para pembuat kebijakan tidak dapat mengontrol laju perlambatan, kita berpotensi memasuki resesi (mungkin di tahun 2020 atau 2021) dibandingkan krisis satu dekade lalu. Dengan adanya peraturan yang lebih ketat, ekspansi saat ini tidak diikuti dengan ketidakseimbangan yang terjadi saat kejatuhan di 2008. Resesi mengakibatkan ketidaknyamanan, mahal dan merupakan pemborosan sumber daya, tetapi tidak berarti akhir dari dunia.
Amerika Serikat
  • Di 2019, pertumbuhan AS akan terus didukung oleh stimulus fiskal. Tetapi, dampaknya terhadap ekonomi akan memudar seiring berjalannya waktu. Mulai tahun 2020, hal ini diperkirakan akan mulai memberatkan ekonomi, kecuali Presiden Trump dapat mendapat dukungan dari Partai Demokrat (mungkin dengan adanya insentif bagi peningkatan belanja inffrastruktur), yang sepertinya sulit terjadi.
  • Dengan tingkat pengangguran terendah selama 50 tahun terakhir dan akan terus turun, maka tidak mengejutkan untuk melihat pertumbuhan upah yang sangat cepat. Perusahaan merespon kekurangan tenaga kerja dengan cara menaikkan upah. Hal ini mendorong kenaikan inflasi dan berkurangnya profit, meskipun perubahan terjadi secara bertahap.
Eropa
  • Pertumbuhan di tahun 2018 tertahan akibat isu sementara (di sektor otomotif Jerman) dan isu fundamental (dengan adanya tekanan pada Italia karena kenaikan imbal hasil obligasi dan ketidakpastian politik). Prospek untuk 2019 adalah laju pertumbuhan yang sama, seiring kelebihan kapasitas mulai langka dan Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menuju kebijakan lebih ketat.
  • Inflasi inti masih berada di sekitar level 1%, namun ECB cukup yakin bahwa inflasi akan meningkat, sehingga dapat mengakhiri stimulus pembelian aset di akhir 2018. Kenaikan suku bunga yang pertama diperkirakan terjadi di kuartal III - 2019 saat terjadi kenaikan inflasi. Sentimen penting lainnya adalah pergantian Presiden ECB Draghi di Oktober 2019, yang dapat mengakibatkan arah kebijakan yang jauh lebih ketat.
Jepang
  • Dibandingkan negara lain, tingkat upah dan harga terbukti kurang sensitif terhadap kekurangan kapasitas di Jepang, mencerminkan dampak dari deflasi selama hampir dua dekade. Hal ini diakibatkan oleh perusahaan ragu-ragu untuk menaikkan harga, melakukan investasi untuk meningkatkan produktivitas sektor jasa, dibandingkan memperebutkan jumlah tenaga kerja yang terus menurun.
  • Kenaikan pada pajak konsumsi yang direncanakan di Oktober 2019, tentu akan menimbulkan kekhawatiran. Namun pemerintah berencana mengambil langkah untuk menyeimbangkan kebijakan ini sehingga dapat menghindari terjadinya penurunan permintaan. Bank of Japan diperkirakan akan menunda perubahan kebijakan hingga kenaikan pajak dan inflasi, sehingga hal ini dapat mengakibatkan Bank of Japan sebagai bank sentral terakhir yang mengetatkan kebijakan.
China
  • China akan tetap berada di bawah tekanan akibat tarif AS, dan kekhawatiran berkurangnya akses terhadap teknologi AS berpotensi menurunkan pertumbuhan lebih jauh. Kerapuhan berasal dari adanya penggelembungan kredit yang buruk selama bertahun-tahun, sehingga faktor eksternal dapat mengakibatkan instabilitas pada ekonomi domestik.
  • Hal ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk mendorong permintaan. Sebuah kombinasi antara pelonggaran kredit, pemangkasan pajak, peningkatan belanja infrastruktur dan nilai tukar Renminbi yang melemah, telah memberikan dukungan dan terdapat komitmen jelas bahwa masih ada stimulus lebih lanjut jika diperlukan. Upaya untuk mengatasi penggelembungan kredit menjadi prioritas yang kurang penting dibandingkan upaya untuk mendorong pertumbuhan yang solid.
Emerging Markets & Asia
  • Kenaikan suku bunga AS dan pembatasan pada perdagangan global adalah kombinasi yang buruk bagi negara berkembang. Akan tetapi, beberapa negara yang memiliki defisit eksternal yang demikian besar sehingga menghadapi ancaman yang serius (seperti Turki atau Argentina), diuntungkan dengan adanya pelemahan mata uang yang justru mendorong perbaikan manajemen ekonomi. Ketidakseimbangan dari periode krisis negara berkembang yang lalu, saat ini hampir tidak ada, sehingga hal ini memberikan harapan bahwa ancaman bersifat sementara dan terbatas di beberapa negara saja.
  • Konflik perdagangan akan memberikan tekanan pada jaringan produksi global, tetapi akan terdapat kompensasi di Asia seiring beralihnya perdagangan dari Tiongkok. Kawasan Asia ini juga didukung oleh stabilnya perbaikan manajemen kebijakan domestic, seperti yang dikemukakan di survei daya saing internasional. Perekonomian lima negara terbesar di ASEAN diperkirakan akan tetap tumbuh di sekitar 5 persen.





 


Balancing Act    

“Koreksi pasar yang terjadi dan gencatan senjata perang dagang AS-Cina memberikan ruang bagi pasar saham untuk sementara waktu. Untuk 2019, keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan laju kenaikan tingkat suku bunga tetap menjadi pendorong utama bagi pasar saham.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore
 

Hal-hal utama
  • Ekuitas global masih akan membukukan keuntungan moderat di 2019. Aksi penjualan pada bulan Oktober dan November telah mengembalikan valuasi ke level wajar dan investor juga kembali menyesuaikan dan mengatur tingkat risiko portofolio mereka.
  • Namun, secara keseluruhan, kombinasi dari perlambatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan inflasi, dan suku bunga yang naik secara bertahap akan memberikan tantangan tersendiri bagi aset-aset berisiko, termasuk pasar saham, seiring menuju 2019.
Amerika Serikat
  • Setelah awal yang kuat, pasar saham AS mengakhiri 2018 dengan pelemahan, karena investor mulai mengantisipasi puncak dari pertumbuhan pendapatan. Selain itu, kombinasi dari suku bunga yang tinggi, penguatan Dolar AS, dan tingginya valuasi diekspektasikan akan membatasi pertumbuhan laba di tahun 2019. AS masih yang paling mahal di antara pasar negara maju, namun berkurangnya penilaian akhir-akhir ini telah membuat valuasi lebih rendah dalam jangka pendek. Nada dovish dari Fed yang diakibatkan oleh ketidakpastian proyeksi pertumbuhan, telah memberikan sedikit kelegaan, namun laju inflasi AS masih akan menjadi faktor risiko utama.
Eropa
  • Dengan tidak adanya resolusi yang jelas untuk Brexit dan anggaran Italia, sentimen politik yang telah mengganggu pasar saham Eropa selama tahun 2018 akan terus berlanjut. Penurunan pada Euro Area Purchasing Manager Index (PMI), mencakup manufaktur dan jasa, juga tidak membantu kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan dalam jangka pendek.
  • Pada dasarnya, pemulihan ekonomi yang sedang terjadi masih akan berlanjut, namun konsensus pertumbuhan laba 2019 di sekitar 10% terlihat optimis. Nilai valuasi mendekati level wajar.
  • Selain adanya peristiwa geopolitik, termasuk perang dagang yang dipimpin AS, sikap moneter yang kurang dovish akan menjadi risiko kejutan tersendiri.
Jepang
  • Pasar saham Jepang tidak terhindar dari naiknya skeptisisme pada pertumbuhan global, dan penguatan Yen juga tidak membantu. Ke depannya, survei dan ekspektasi bisnis untuk kuartal IV-2018 mendukung pandangan bahwa pemulihan ekonomi sedang berlanjut seiring memudarnya dampak bencana alam seperti gempa dan topan. Sementara itu, valuasi berada di level yang menarik dan telah mengantisipasi ekspektasi yang lebih rendah. Risiko penting lainnya termasuk kenaikan pajak konsumsi yang direncanakan pada Oktober 2019.
Asia ex-Japan
  • Karena aksi penjualan yang cukup tajam, valuasi Asia ex-Japan bergeser menuju zona yang murah. Ditambah dengan harapan pertumbuhan yang lebih moderat, kami melihat faktor risk-reward yang lebih menarik. Dengan jauhnya perbedaan valuasi antara pasar saham Asia ex-Japan dan global, perlambatan pertumbuhan laba AS di 2019 akan mempersempit perbedaan rentang ini.
  • Stimulus China yang lebih agresif untuk mencegah perlambatan pertumbuhan ekonomi domestic dapat menjadi alasan utama untuk penilaian ulang bagi kawasan ini. Hasil perundingan Trump – Xi di Buenos Aires, dengan AS setuju untuk menunda pemberlakuan tarif dagang baru, memberikan kelegaan untuk pasar dalam jangka pendek. Selain pengurangan stimulus kuantitatif, kenaikan suku bunga dan skenario perang dingin AS dan China menjadi risiko utama bagi kawasan ini.
China
  • Momentum laporan keuangan mereda dalam empat bulan terakhir dan kami mengestimasikan bahwa tren untuk berlanjut ke 2019 seiring dengan ketatnya pengucuran kredit serta ketegangan perdagangan antara AS-China yang mulai terlihat. Kami mengharapkan dampak dari pengetatan kredit akan memudar sesuai dengan rilis laporan kebijakan moeneter dari bank sentral yang mengutamakan kestabilan pertumbuhan, dukungan kebijakan terhadap sektor swasta serta diskusi yang mereda tentang pengurangan tingkat utang. Dukungan kebijakan pun membutuhkan waktu lebih lama untuk merasakan dampaknya. Di sisi moneter, pemangkasan giro wajib minimum dan menguatkan stimulus kredit bagi sektor swasta akan mendukung kenaikan di tingkat pertumbuhan kredit. Di sisi fiskal, kami menilai bahwa reformasi pajak dan percepatan belanja infrastruktur juga akan mendukung pertumbuhan.
  • Kami menilai konsensus pertumbuhan pendapatan MSCI China di 2019 yang berada di 14%, terlalu optimis karena dampak pendapatan dari perang dagang belum sepenuhnya tercermin dan penurunan pendapatan akan terus berlanjut sampai 1H 2019.
  • Sehingga, kami memperkirakan bahwa peluang untuk penurunan penilaian lebih lanjut akan terbatas karena valuasi forward MSCI China ex-ADR 12 bulan berada di level 9.3, mendekati valuasi terendah di 8.3 kali saat terjadi periode penurunan di 2015 hingga 2016.



Menyukai Obligasi High Yield

“Kami tetap positif pada obligasi negara berkembang High Yield dan menetralkan posisi underweight sebelumnya ada pada obligasi negara maju High Yield, seiring meningkatnya sentimen positif kami terhadap aset berisiko dalam jangka pendek.”

- Eli Lee, Head of Investment Strategy, Bank of Singapore
 

Hal - hal utama
  • 2018 menandai berakhirnya kenaikan pada obligasi. Kenaikan suku bunga, penguatan Dolar AS yang berkesinambungan, perang dagang AS-China dan kekacauan pada beberapa negara tertentu-Argentina, Turki, Rusia- yang memberatkan kinerja.
  • Memasuki 2019, data-data yang kurang baik mengenai keadaan makro tetap akan ada, tetapi dampaknya akan mulai mereda. Peningkatan suku bunga merupakan hal yang wajar, namun Fed berbalik menjadi lebih dovish.
  • Pada kondisi kenaikan suku bunga yang bagaimanapun, kami menilai akan adanya kenaikan 30 hingga 40 basis poin di imbal hasil US treasury 10Y. Sementara itu, penguatan Dolar AS berpotensi tertahan.
  • Selain itu, skenario terburuk bagi hubungan AS dan China telah tercermin pada valuasi kelas aset, walaupun terjadi gencatan senjata akhir-akhir ini.
  • Kami mempertahankan posisi overweight pada obligasi negara berkembang High Yield dan menurunkan obligasi EM Investment Grade.
  • Pandangan kami didasarkan pada faktor-faktor berikut: 1) Valuasi Obligasi negara berkembang High Yield lebih menarik dibandingkan dengan obligasi pemerintah AS dan obligasi negara berkembang Investment Grade 2) Negara berkembang akan terimbas dari hasil politik yang positif (dan rentang kredit yang lebar setelah mengalami penurunan di 2018) di beberapa negara utama
  • Selain pandangan yang konstruktif terhadap obligasi negara berkembang, kami mengingatkan pesan kami dari kuartal sebelumnya, kami menyarankan investor untuk tetap memiliki posisi di negara berkembang dengan fokus pada kualitas kredit dan mengurangi durasi, untuk memitigasi risiko kenaikan suku bunga terhadap kinerja obligasi, terutama dengan tren kenaikan suku bunga AS ke depannya.
  • Federal Reserve mensinyalkan akan mengambil jeda dalam pengetatan kebijakan siklus suku bunga yang berada di kisaran level netral – setelah kenaikan lebih dari dua atau tiga kali. Namun, dengan inflasi yang sudah berada di target 2%, dan akan tetap meningkat, serta tingkat pengangguran berada di bawah level netral, jeda akan sulit dilakukan
  • Namun demikian, kenaikan inflasi yang cukup lambat dapat memberikan ruang untuk Fed untuk mengurangi laju kenaikan, dan keinginan Fed untuk menghindari prediksi kenaikan suku bunga setiap kuartal sebanyak tiga kali di 2019 (selain satu kali pada bulan Desember), dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya yang sebanyak empat kali. Hal ini akan membuat suku bunga berada diatas level netral di akhir tahun 2019.
  • Tidak seperti obligasi high yield, obligasi investment grade cenderung memiliki tingkat gagal bayar yang rendah terlepas dari keadaan siklus ekonomi.
  • Meskipun demikian, pelebaran rentang kredit dapat menjadi suatu pertanda. Saat krisis Lehman, pelebaran yang tajam pada IG menandakan resesi. Di level sekarang ini, rentang masih sangat jauh dari signal yang mendekati tekanan sistemik.
  • Secara historis, tahun yang buruk untuk obligasi investment grade cenderung diikuti dengan tahun yang baik.  Namun, hal tersebut akan menjadi awal yang lebih tinggi baik untuk imbal hasil maupun rentang. Level saat ini akan mengindikasikan adanya kenaikan yang moderat dari rentang kredit.


Dolar AS berpotensi melemah

“Dolar AS sudah menguat banyak, tetapi berpotensi melemah di tahun 2019 seiring dengan pertumbuhan ekonomi AS yang akan melambat dan ekspansi ekonomi yang moderat di negara-negara lain.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank

Hal - hal utama
  • Harga minyak turun cukup banyak di akhir 2018, padahal fundamental tidak banyak mengalami perubahan, hal ini lebih banyak disebabkan oleh adanya perubahan posisi yang ekstrim di pasar futures.
  • Di saat yang sama, harga tembaga dan bahan material industri lainnya cukup stabil, yang mengindikasikan bahwa pelemahan harga minyak tidak diakibatkan oleh kekhawatiran akan permintaan global.
  • Kami melihat adanya potensi kenaikan yang moderat pada harga minyak, karena fleksibilitas suplai yang membatasi kenaikan harga di kuartal III – 2018 akan juga membatasi risiko penurunan. OPEC diperkirakan akan menekan produksi, dan produsen minyak AS akan membatasi titik pengeboran minyak yang baru.
  • Sehingga, kami mempertahankan pandangan 12-bulan di US$ 60 per barel untuk West Texas Intermediate (WTI) dan US$ 65 untuk Brent.
  • Kami telah meningkatkan ekspektasi harga emas 12 bulan menjadi US$1280/oz dari US$1240/oz. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dapat mendukung harga emas, yang sebelumnya tertekan oleh kenaikan suku bunga Fed. Emas merupakan tolok ukur perekonomian AS. Harga emas tertekan sepanjang 2018, terutama diakibatkan oleh penguatan ekonomi AS yang mendorong penguatan Dolar AS dan suku bunga, sehingga menyebabkan kenaikan biaya dari menyimpan emas. Emas diperkirakan memiliki batas bawah di US$1175/oz di kuartal III – 2018, akibat rendahnya posisi di pasar futures.
  • Menjelang akhir tahun, pergeseran yang terjadi pada arah kebijakan Federal Reserve telah membuat beberapa kalangan terkejut. Penilaian ulang terhadap kenaikan suku bunga AS di 2019 sedang terjadi, dan akan terus berlanjut sampai Desember, dan berpotensi menekan Dolar AS.
  • Ke depannya, pertemuan FOMC di bulan Desember diperkirakan akan berjalan lebih kompleks. Secara keseluruhan, kami mengestimasikan Dolar AS untuk bergerak stabil range-bound, terutama dengan pasar yang masih mencerna pergeseran retorika dari Fed sebelum pertemuan FOMC di bulan Desember
  • Pasar mulai menyadari risiko pelemahan dari perekonomian global dan dampak dari perubahan ekspektasi kenaikan suku bunga. Diskusi Fed bergeser secara mengejutkan dari sejauh apa kenaikan suku bunga melebihi level netral menjadi senyaman apakah kondisi perekonomian saat dekat dengan level netral.
  • Ke depannya, kami mengharapkan Fed untuk lebih fleksibel dengan langkahnya di 2019, dan menyatakan pesan yang tidak sekonsisten scenario “kenaikan secara bertahap”. Penurunan laju Fed ini, sesuai ekspektasi direspon oleh pasar dengan penurunan imbal hasil US Treasury dan penguatan pasar saham. Kedua hal ini merefleksikan proyeksi pelemahan Dolar AS di masa yang akan datang.
  • Selain dari penyesuaian ulang Fed, kami meliat akan ada kelanjutan perkembangan dari mata uang utama. Drama Brexit dapat berkelanjutan bahkan paska pemungutan suara Parlemen di bulan Desember, dan banyak ketidakpastian yang akan mendorong Pound melemah.
  • Sementara itu, isu mengenai anggaran Italia-Uni Eropa perlahan mulai mereda karena sifat Italia yang mulai lunak. Dalam G10, kami lebih memilih Dolar Australia, dengan harapan sebagai penerima manfaat utama dari ketegangan perdagangan AS-China, meskipun adanya kekhawatiran tentang pertumbuhan global. Kami juga memprediksi Yen Jepang tetap tertahan di level support seiring membaiknya sentimen risiko.

Charting the Uncertain Water

Memasuki awal tahun 2019, pasar mendapatkan angin segar terkait perang dagang antara AS dan China yang terlihat hampir menemukan kesepakatan, serta arah kebijakan suku bunga Fed. Dalam hal perang dagang, baik delegasi AS maupun delegasi dari pihak China menyepakati memorandum yang berisi tentang perjanjian perdagangan antara kedua belah pihak dan diharapkan akan rampung sebelum batas waktu yang ditentukan.

Selain itu, komentar dari Gubernur Fed, Jerome Powell yang tidak lagi agresif untuk menaikkan suku bunga atau bahkan cenderung dovish, membuat ekspektasi kenaikan suku bunga di 2019 turun menjadi satu kali. Analis pun mulai memprediksi bahwa Fed bahkan akan mulai memangkas suku bunga di 2020. Hal ini dikemukakan oleh Fed menyikapi pelemahan beberapa data fundamental ekonomi AS dan ekspektasi di tahun 2019 ini. Hal ini mendorong kenaikan minat risiko di pasar keuangan terutama negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Baik pasar saham, obligasi serta mata uang menguat akibat kedua hal ini.

Sementara itu di belahan dunia lainnya, proses Brexit masih berlangsung dan terlihat perdana Menteri Inggris Theresa May masih mencari solusi untuk permasalahan ini, sehingga keputusan dapat berujung pada “No-Deal Brexit” ataupun “No Brexit”.

Sementara itu dari dalam negeri, beberapa data fundamental telah dirilis. Pertumbuhan ekonomi di kuartal IV – 2018 dilaporkan mengalami kontraksi 1.69%, namun secara setahun tetap bertumbuh 5.17%. Angka ini cukup baik mengingat Rupiah tertekan selama 3 kuartal di tahun lalu, yang berimbas pada meningkatnya defisit perdagangan hingga -3.02% di kuartal IV – 2018.

Meningkatnya arus investasi, penguatan Rupiah dan penerbitan surat berharga berdenominasi Dolar AS, mendorong kembalinya cadangan devisa yang sempat menyentuh US$ 114.8 milyar di 2018, kembali ke level US$120.1 di bulan Januari 2019.

Ketidakpastian akan perlambatan ekonomi global telah mendorong investor kembali melirik negara berkembang, seperti Indonesia. Hal ini berimbas pada penguatan Rupiah dan pasar modal. Sentimen positif di tahun politik menjadi salah satu daya tarik pasar saham Indonesia. Penguatan Rupiah di awal tahun merupakan kinerja terbaik kedua di Asia, sehingga Bank Indonesia tidak perlu menaikkan suku bunga, terutama dengan inflasi yang terjaga tetap rendah.

Dari sisi fundamental, APBN 2019 yang menekankan pada belanja infrastruktur dan peningkatan kualitas SDM diperkirakan akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 yang diperkirakan bertumbuh di kisaran 5.2 – 5.4%.


- Ka Jit, Head of Strategy & Innovation, Bank OCBC NISP


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Sentimen positif dari membaiknya hubungan perang dagang mendorong kinerja IHSG hingga 5.11% pada sepanjang tahun 2019 ini. Sentimen positif ini berhasil mendorong harga IHSG bertahan diatas level 6400 di awal bulan Februari. Investor asing tercatat telah membukukan net buy Rp 11.4 Triliun di awal tahun 2019. Kenaikan dipimpin oleh saham-saham second liner, terutama dengan valuasi yang lebih menarik dibandingkan saham berkapitalisasi besar. Sementara itu, potensi pertumbuhan laba emiten yang dapat mencapai 12 persen di 2019, kestabilan nilai tukar, suku bunga rendah, serta sentimen positif tahun politik diperkirakan akan mendorong kembalinya arus modal asing ke pasar saham, yang telah membukukan outflow senilai Rp 52 Trilyun di 2018.

Akan tetapi, dengan adanya beberapa risiko geopolitik di beberapa negara berkembang seperti India-Pakistan, Venezuela, serta risiko kesepakatan nuklir antara AS-Korut yang membayangi, hal ini dapat menyebabkan adanya koreksi secara teknikal terutama dengan valuasi saat ini di 15.5 kali, yang mendekati rata-rata valuasi 5 tahun di 15.8 kali. Investor dengan profil risiko agresif dapat memanfaatkan momentum koreksi ini sebagai kesempatan untuk mengakumulasi kelas aset saham dengan valuasi yang lebih murah.



Obligasi

Selain pasar saham, obligasi pun menguat di tengah eforia perang dagang dan Fed yang dovish. Imbal hasil surat utang AS, US Treasury 10Y, menguat hingga ke 2.55% di awal Januari 2019. Rendahnya imbal hasil ini mendorong penurunan imbal hasil surat utang negara berkembang. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia 10 tahun mencapai level 7.7% dari sebelumnya di 8.1%. Penguatan obligasi ini juga ditopang oleh kembali masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi Indonesia dengan jumlah sebesar Rp. 35 Trilyun, terhitung sejak awal tahun 2019. Lelang terakhir di bulan pertengahan bulan Februari mencatatkan adanya permintaan yang oversubscribed. Penguatan Rupiah dan real yield yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara dengan peringkat layak investasi lainnya, menjadi daya tarik tambahan bagi investor asing. Hal ini didukung pula oleh kebijakan Bank Indonesia yang pro-growth dan menahan suku bunga di 6% setelah menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali di tahun lalu. Investor dengan profil risiko moderat ke agresif dapat mempertimbangkan untuk memperpanjang durasi investasi obligasi diatas 10 tahun, serta memanfaatkan koreksi sebagai entry window.



Currency

Terlihat dengan komentar the Fed yang cukup dovish dalam beberapa bulan terakhir, Rupiah terus melanjutkan penguatan hingga menyentuh Rp 14,000 per Dolar AS. Untuk tiga bulan ke depan, Rupiah diprediksi untuk berada di kisaran 14,200 hingga 14,300. Nilai Rupiah juga masih akan dipengaruhi oleh sentimen terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Melambat namun bukan penurunan

“Walaupun pasar dilanda kekhawatiran, kami melihat adanya perlambatan namun kami tidak melihat kondisi saat ini dapat menyebabkan resesi di 2019, walaupun disaat siklus ekonomi di Amerika Serikat mendekati tahap puncak.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:
  • Ekspansi ekonomi mendekati tahun kesepuluh dan dalam dekade terakhir ini kita sudah menyaksikan beberapa kali secara periodik adanya kekhawatiran bahwa resesi akan terjadi.
  • Sinyal yang paling sering menjadi acuan akan terjadinya resesi adalah imbal hasil obligasi milik pemerintah Amerika Serikat yang mendekati kondisi inversion (terbalik). Akan tetapi, saat stimulus trilyunan Dolar telah menurunkan suku bunga jangka panjang, akan masuk akal untuk mempertanyakan apakah membandingkan suku bunga jangka pendek dan suku bunga jangka panjang buatan, akan menjadi sinyal yang dapat diandalkan.
  • Walaupun pasar dilanda kekhawatiran, kami tidak menilai kondisi saat ini akan memicu terjadinya resesi di 2019, walaupun di AS saat ini siklus ekonomi di AS mendekati puncaknya. Bahkan risiko di 2020 mulai memudar disebabkan rendahnya inflasi, dan konsekuensinya adalah Fed yang lebih dovish. Memang terdapat ekspektasi akan perlambatan, namun hal ini perlu disambut sebagai kesempatan untuk menahan pelemahan siklus ekonomi yang lebih menyakitkan.
  • Kami sangat berharap bahwa resesi dapat dihindari di 2019. Pertama, kebijakan tetap akomodatif di beberapa negara maju. Suku bunga juga berada di level relatif rendah di beberapa negara dan bahkan suku bunga AS masih di bawah level netral.
  • Kedua, ketidakseimbangan seperti halnya yang terjadi pada resesi sebelumnya, seperti meningkatnya utang rumah tangga yang mendorong kenaikan sektor perumahan AS di tahun 2004 -2006, hal ini tidak terlihat saat ini. Pembiayaan umum terlihat lemah di beberapa negara utama, namun rendahnya suku bunga mengindikasikan rendahnya potensi gangguan.

Amerika Serikat
  • Penutupan aktivitas pemerintahan di AS akan membayangi di bulan–bulan mendatang, yang akan mulai tercermin dalam beberapa aktivitas perekonomian, yang akan membaik setelah penutupan ini berakhir.
  • Dihadapkan pada ketidakpastian dari potensi perlambatan dan sinyal pelemahan dari beberapa pelemahan pasar finansial, Fed menunjukkan adanya kesiapan. Dengan perubahan arah kebijakan yang lebih “sabar”, suku bunga diperkirakan akan tetap ditahan hingga inflasi terbukti bergerak di atas target 2%. Hal ini merupakan perubahan yang cukup signifikan, sebelumnya Fed memiliki pandangan bahwa rendahnya tingkat pengangguran sudah cukup untuk menjadi alasan kenaikan suku bunga, yang saat itu terlihat cukup terpercaya.
  • Awalnya kami memprediksi akan ada kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali di 2019, namun hal ini menjadi kurang realistis. Pandangan Fed yang lebih “sabar” diperkirakan akan menjadi tema untuk sebagian besar tahun 2019. Estimasi terbaik kami adalah adanya kenaikan suku bunga sebanyak satu kali tahun ini, di kuartal IV-2019. Sehingga, ekonomi yang memanas akan dengan sendirinya mendorong inflasi di atas target dan mendorong Fed untuk menaikkan suku bunga di atas level netral, namun hal ini akan menjadi isu di tahun 2020

Eropa
  • Pertumbuhan kawasan Eropa yang mengecewakan menjadi jelas terlihat, didukung oleh beberapa faktor jangka pendek yang bersifat sementara, namun hal ini tidak dapat menghindarkan kecurigaan bahwa kawasan Eropa memiliki permasalahan fundamental yang lebih besar. Setidaknya, kondisi tersebut mencegah kenaikan tingkat inflasi, yang saat ini bertahan di kisaran 1%.
  • Bank Sentral Eropa terus memberikan proyeksi yang positif, konsisten dengan keputusannya untuk mengakhiri stimulus di 2018, namun antusiasme untuk menaikan suku bunga sebelum akhir 2019, sangat sulit untuk dipahami.

Jepang
  • Aktivitas ekonomi meningkat setelah beberapa kejadian bencana alam menyebabkan penurunan pada PDB di kuartal III – 2018. Tantangan utama di 2019 adalah rencana kenaikan pajak dari 8% hingga 10%, namun dampaknya akan diimbangi oleh stimulus kesejahteraan bagi kelompok berpenghasilan rendah.
  • Bank Sentral Jepang belum akan merubah kebijakan ini sebelum cukup yakin bahwa kenaikan pajak penjualan tidak akan menyebabkan gangguan yang besar. Tingkat inflasi tetap berada di level yang rendah, walaupun sinyal dari kenaikan pertumbuhan upah menjadi indikasi awal bahwa tren yang bertahan selama beberapa dekade mulai mengalami perubahan.

China
  • Data perdagangan Cina sangat jelas menunjukan dampak dari perang dagang dengan AS, dengan ekspor awal yang tinggi mengalahkan kenaikan tarif, dan turun setelahnya. Sejauh ini, pukulan terhadap perekonomian yang lebih luas lagi lebih terbatas, di beberapa bagian hal ini sudah diimbangi oleh beberapa kebijakan stimulus perekonomian, seperti pelonggaran kredit, pemotongan pajak, dan belanja infrastruktur. Namun, hal ini tidak cukup untuk mencegah pertumbuhan yang melambat.
  • Penyesuaian perekonomian belum selesai, walaupun gencatan senjata dalam perdagangan sementara akan terus berlanjut. Memindahkan jaringan produksi membutuhkan waktu dan akan terus membebani pertumbuhan, sementara itu akan ada pengalihan investasi baru ke negara lain seperti Vietnam dan Meksiko. Sebagai hasilnya, kami berharap dukungan kebijakan akan terus berjalan, untuk menghindari perlambatan yang berlebihan

Negara Berkembang
  • Kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan pembatasan perdagangan global merupakan kombinasi yang buruk di 2018 bagi negara berkembang. Ada beberapa potensi yang melegakan di 2019, Fed yang akan lebih “bersabar” dan harapan akan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Cina. Asia merupakan tempat yang relatif baik, dengan beberapa kebijakan untuk merespon perkembangan yang merugikan, sementara reformasi struktural telah meningkatkan daya saing dari beberapa negara


 


Aksi untuk menyeimbangkan

“Setelah penguatan yang tajam di bulan Januari dari level terendah di Desember, keseimbangan antara prospek pertumbuhan laba dan laju kenaikan suku bunga masih menjadi kunci utama untuk pergerakan saham hingga akhir tahun ini.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Tanpa diduga Fed yang lebih dovish, stimulus kebijakan yang agresif di China dan kemajuan negosiasi dagang AS-China mendorong pemulihan yang kuat.
  • Dalam jangka pendek, ekspektasi pertumbuhan yang lebih realistis dan valuasi yang relatif rendah, akan tetap mendukung pergerakan saham
  • Namun, di tengah kenaikan suku bunga, kami mempertahankan pandangan bahwa puncak valuasi bursa saham global saat ini telah berlalu.
  • Seperti halnya, pandangan terhadap pertumbuhan laba masih menjadi fokus. Masalah geopolitik, terutama permasalahan dagang antara AS-China, akan terus membayangi potensi pertumbuhan dan akan mendorong volatilitas pasar. Sebagai tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi global, laju inflasi AS akan menjadi kunci dorongan makro yang perlu diperhatikan.


Amerika Serikat

  • Pasar saham AS menguat di bulan Januari sebagai pembalikan arah dari pandangan Fed yang tanpa diduga lebih dovish, mendorong kenaikan minat risiko investor.
  • Kekhawatiran akan bayangan resesi AS juga mereda. Tidak sejalan dengan kekecewaan dari para pelaku pasar, musim laporan keuangan telah mengejutkan secara positif.
  • Pertumbuhan global yang moderat, suku bunga yang lebih tinggi, dan basis yang tinggi akan membatasi pertumbuhan laba saham di 2019.
  • Walaupun valuasi lebih rendah, valuasi AS masih menjadi yang paling mahal di antara pasar global dan kami melihat potensi kenaikan yang terbatas. Dengan Fed saat ini lebih fleksibel dalam normalisasi kebijakan moneter, memberikan kelegaan dalam siklus akhir, laju pertumbuhan inflasi merupakan faktor kunci yang akan dilihat.


Zona Eropa

  • Aset saham kawasan Eropa diuntungkan dari meningkatnya minat risiko. Dan juga, pandangan pertumbuhan yang lebih lemah mendorong pemikiran investor bahwa ECB akan lebih dovish.
  • Akan tetapi, kondisi politik di beberapa kawasan Eropa masih membebani performa dari kawasan ini.
  • Walaupun valuasi tidak mahal, kawasan ini tidak banyak memiliki katalis positif. Selain geopolitik, termasuk perang dagang yang diinisiasi oleh AS, kebijakan moneter yang tidak lebih dovish akan menjadi penentu.
 
Jepang
  • Pasar saham Jepang tidak luput dari kekhawatiran akan pertumbuhan global, dan penguatan Yen juga tidak menolong.
  • Ke depannya, survei aktivitas dan ekpektasi bisnis untuk kuartal IV – 2018 mendukung pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi akan tetap berjalan, seiring dampak dari bencana alam yang memudar.
  • Sementara itu, valuasi masih terlihat menarik dan mengantisipasi ekspektasi yang lebih rendah. Risiko utama termasuk rencana pajak konsumsi di Oktober 2019.

Asia ex-Japan
  • Dipimpin oleh China dan Korea, Asia ex-Japan menguat dengan kelas aset yang berisiko lainnya. Komentar dovish dari pejabat Fed mendorong kenaikan minat risiko investor.
  • Hasil yang baik dari pertemuan Trump - Xi di Buenos Aires juga menambah optimisme bahwa kedua negara akan mendapatkan kesepakatan dari perdagangan, dan terlebih penting lagi, skenario perang dingin kemungkinan tidak akan terjadi. China diuntungkan dari rencana stimulus yang agresif untuk mendorong pertumbuhan domestik.
  • Melanjutkan perbaikan yang cepat, diskon valuasi untuk Asia ex-Japan dibandingkan negara-negara global lainnya, telah mengerucut. Ekspektasi pemangkasan laba lebih lanjut juga tidak membantu. Seperti halnya, kami menilai adanya kinerja yang terbatas untuk kawasan ini.
  • Tambahan stimulus dari China untuk mendorong ekonomi domestik akan tetap memberikan dukungan. Namun, even geopolitik, terutama negosiasi dagang AS -China, akan membayangi pertumbuhan regional dan akan berdampak terhadap volatilitas.


China

  • Sentimen pasar telah meningkat di latar belakangi negosiasi dagang antara AS dan China. Di antara data makro yang telah dirilis, pelemahan pada indeks harga konsumen dan indeks harga produsen telah meningkatkan risiko akan terjadinya deflasi. Melemahnya aktivitas dan tingkat harga yang berkepanjangan juga dapat menekan laba korporasi. Dengan valuasi saham China yang murah, fokus selanjutnya adalah pertumbuhan laba.
  • Sementara momentum laba telah mereda dalam beberapa bulan terakhir, kami menilai estimasi pertumbuhan laba 13.5% di 2019 terlalu optimis. Kami memprediksi tekanan terhadap penurunan laba akan berlanjut di kuartal I – 2019. Sehingga, pasar saham China akan tetap berfluktuasi di kuartal I – 2019. Investor dapat menunggu akan adanya pelemahan dan mencermati posisi yang baik untuk kembali masuk.
  • Kami berharap pemerintah akan maju untuk menerapkan kebijakan untuk menstabilkan pertumbuhan. Namun, kami tidak mengharapkan stimulus dalam skala besar. Sebaliknya, kami berharap pemerintah akan mengalihkan kepada reformasi dan stimulus yang ditargetkan untuk mendukung konsumsi dan menjamin tingkat likuiditas untuk memudahkan investasi swasta.


Strong start to the year

“Seiring dengan the Fed yang dovish, kami meningkatkan pandangan kami ke pasar obligasi negara maju dengan imbal hasil tinggi ke level yang netral, menetralkan pandangan underweight kami pada obligasi layak investasi negara maju, serta menahan pandangan overweight pada obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi.”

- Rajeev de Mello, Chief Investment Officer, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Berbeda dengan tahun sebelumnya, 2019 dimulai dengan penguatan tajam untuk pasar surat utang. Obligasi negara berkembang menguat 2.1% pada bulan Januari (tertinggi sejak semester 1 - 2016), dipimpin oleh obligasi imbal hasil tinggi yang mengalami kenaikan 3.2% dan obligasi layak investasi naik 1.3%.
  • Selain negara berkembang, obligasi imbal hasil tinggi di AS naik 4.5%, yang merupakan bulan terbaik sejak 2009, sementara itu, obligasi layak investasi AS naik 1.5%, bulan terbaik sejak 2016.
Aliran modal yang meningkat ke pasar obligasi negara berkembang di awal tahun
  • Pada bulan pertama tahun ini, arus modal ke obligasi negara berkembang sebesar US$ 8.76 milyar, didominasi oleh mata uang utama (US$7.57 billion) namun mata uang lokal juga berada di wilayah positif. Hal ini berbanding terbalik dengan 2018, dimana kelas aset obligasi mengalami arus modal keluar US$ 36.1 milyar dalam setahun.
Rekomendasi posisi overweight di obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi
  • Kami tetap menyarankan untuk mengambil posisi overweight pada obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi dan mengurangi posisi pada obligasi layak investasi negara berkembang. Pandangan kami didasarkan oleh faktor-faktor berikut:
    • Obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi memiliki valuasi yang lebih menarik dibandingkan surat utang AS memiliki peringkat yang setara dengan obligasi layak investasi negara berkembang;
    • Obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi diuntungkan oleh meningkatnya minat risiko investor, sebagai dampak fundamental ekonomi yang lebih positif;
    • Obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi akan (yang sejauh ini terjadi di awal 2019) lebih diuntungkan dari potensi dampak politik yang positif di beberapa negara utama.
Lebih optimis terhadap obligasi Asia dengan imbal hasil tinggi
  • Di antara negara berkembang, kami lebih konstruktif pada obligasi Asia dengan imbal hasil tinggi. Setelah menunjukkan kinerja yang buruk di wilayah lain selama dua tahun terakhir, kami cukup optimis bahwa situasi akan mulai berbalik.
  • Pertama, latar belakang ekonomi global telah berubah menjadi lebih positif, dengan pandangan Fed yang lebih dovish, ditambah dengan berkurangnya tantangan dari penguatan Dolar AS. Selanjutnya, di Asia, neraca perusahaan juga membaik, dan sementara pemerintah China telah memberlakukan sejumlah kebijakan dalam beberapa pekan terakhir ini untuk menahan penurunan ekonomi; pasar mengantisipasi adanya stimulus lebih lanjut dan pelonggaran kebijakan makro jika diperlukan. Sehingga, kami menilai suplai obligasi neto di 2019 secara keseluruhan akan lebih rendah dibandingkan dengan 2018, terutama untuk obligasi Asia dengan imbal hasil tinggi.
Meningkatkan obligasi layak investasi negara maju menjadi netral
  • Sama seperti aset berisiko lainnya, obligasi layak investasi negara maju mengalami kesulitan menavigasi kuartal terakhir tahun 2018. Rentang kredit melebar untuk semua peringkat utang.
  • Sebelumnya, kombinasi dari rentang dan imbal hasil rendah membuat obligasi ini kurang menarik. Kenaikan rentang kredit yang melonjak memberikan valuasi yang lebih menarik.
  • Mengikuti berkurangnya minat risiko  dari bulan Desember hingga Januari, rentang kredit untuk obligasi layak investasi negara maju melebar dengan tajam.
  • Kami meningkatkan pandangan obligasi negara maju dengan predikat layak investasi dari underweight menjadi netral.


Kembalinya daya tarik emas

“Kami meningkatkan estimasi harga emas 12 bulan menjadi US$1,350/ounce dari US$1,280/ounce – Kenaikan ini bersifat moderat karena belum terdapat ekspektasi ataupun keyakinan yang kuat bahwa resesi akan terjadi.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Hal-hal Utama:

Minyak
  • Kami memperkirakan pertumbuhan global yang melambat di 2019, tetapi bukan perlambatan ekstrim yang akan memangkas permintaan minyak
  • Kami menilai adanya potensi kenaikan yang moderat untuk harga minyak, seiring dengan OPEC yang telah menunjukkan keberhasilan dalam mengendalikan persediaan. Di saat yang sama, harga yang lebih rendah (dan suku bunga yang lebih tinggi) akan membatasi produsen minyak shale AS. Sebagai hasilnya, kami mempertahankan target 12 bulan kami di US$60/barel untuk jenis minyak WTI dan US$65 untuk jenis minyak Brent.
Emas
  • Setelah cukup terabaikan pada 2018, emas kembali menemukan jalannya. Peran emas sebagai diversifikasi portofolio dan pengalihan risiko, menjadi semakin menarik dengan adanya ketidakpastian akan pertumbuhan dan kebijakan moneter. Emas memiliki jumlah penggemar yang meningkat, yang berpikir bahwa dengan sikap Fed yang dovish, berarti ancaman akan kenaikan suku bunga AS dan penguatan Dolar AS akan menjadi netral. Dengan USD/CNY yang secara umum berkorelasi negatif dengan permintaan emas China, harga emas juga menguat seiring dengan penguatan CNY, walaupun pertumbuhan konsumsi China yang lambat dan ekspektasi inflasi yang rendah menjadi penghambat permintaan emas.
Proyeksi Mata Uang
  • Pada pertemuan kebijakan Federal Reserve bulan Januari, bank sentral AS secara efektif mengabaikan kenaikan suku bunga yang tidak diperlukan. Hal ini mengakibatkan menurunnya dukungan untuk Dolar AS.
  • Kami memperkirakan akan adanya pergerakan positif untuk jangka pendek (namun sementara) pada kelas aset di pasar, dengan mata uang siklikal dinilai memiliki kinerja yang lebih baik. Euro dan Pound akan tetap tertinggal dengan banyaknya isu di kawasan ini.
  • Hasil dari pertemuan kebijakan Fed bulan Januari akan mendorong minat positif untuk pasar saham regional dan juga dukungan untuk mata uangnya.
  • Dengan Fed yang lebih dovish di 2019, maka perilaku bank sentral di Asia akan lebih netral. Jika netralitas ini berujung pada petunjuk penurunan suku bunga, maka hal ini akan menjadi hambatan bagi mata uang regional. Akan  tetapi, kami tidak berharap hal ini akan menurunkan minat risiko investor terhadap aset pasar negara berkembang, termasuk mata uangnya.
  • Sementara itu, dengan fundamental makro yang lebih rendah di Asia, kami memperkirakan bank sentral Asia akan berusaha untuk menahan apresiasi yang terlalu tinggi terhadap mata uang domestik mereka.
  • Untuk Dolar Singapura, NEER (nilai tukar nominal efektif) diperkirakan akan tetap kuat, terutama jika keraguan akan pengetatan lebih lanjut oleh bank sentral Singapura pada bulan April terus meningkat.
  • Kami tetap bullish pada Renminbi, dan untuk USD/CNH, support di 6.7 akan tetap menjadi level support, dan jika tertembus, support berikutnya akan berada di kisaran pergerakan 200-minggu di 6.6099.
  • Secara relatif, kami tetap menyukai CNH, Rupiah Indonesia, Baht Thailand, dan Dolar Singapura  dibandingkan Rupee India.

Dapatkah penguatan ini berlanjut?

Di awal 2019, pasar modal negara berkembang melanjutkan eforia seiring dengan perubahan nada Federal Reserve menjadi lebih dovish. Pasar modal negara berkembang melanjutkan kenaikan baik di pasar saham maupun obligasi seiring dengan penurunan yield US Treasury. Para pelaku pasar pun mulai mengantisipasi potensi penurunan suku bunga Fed terutama di tengah berita susutnya neraca keuangan Fed.

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia pada bulan Februari dirilis meningkat menjadi US$123,3 milyar, setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Peningkatan ini dikontribusi dari penerbitan surat utang atau sukuk global di bulan Februari.

Berkurangnya tekanan terhadap mata uang, turut mengurangi tekanan terhadap defisit eksternal yang melebar pada tahun lalu untuk beberapa negara berkembang. Hal ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk mendorong pertumbuhan melalui pelonggaran kebijakan moneter, di tengah rendahnya inflasi. Inflasi bulan Februari dirilis turun 0,08% atau mengalami deflasi. Inflasi setahun tercatat pada 2,57%. Kesenjangan yang cukup jauh antara suku bunga dan tingkat inflasi, di tengah penguatan Rupiah mendorong Bank Indonesia untuk tetap menahan suku bunga 7 Days Reverse Repo di 6%, namun tidak menutup kemungkinan untuk memangkas suku bunga di paruh kedua tahun 2019. Dengan hitungan hari menjelang pemilihan presiden dan legislatif, kami menilai hal ini masih dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan tingkat konsumsi yang menjadi backbone dari perekonomian Indonesia.


- Ka Jit, Head of Strategy & Innovation, Bank OCBC NISP


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Di bulan Februari 2019, Indeks Harga Saham Gabungan melemah 1,37% dan indeks saham small-caps melemah tajam 4,55%. Pelemahan diakibatkan meningkatnya valuasi di awal tahun yang mencapai rata-rata PER dan sentimen negatif dari melebarnya defisit neraca perdagangan di kuartal IV – 2018. Dengan valuasi yang berada di 15,3x di bawah rata-rata 6 tahun di 15,9x serta potensi pertumbuhan laba (earnings per share) di 11,9% untuk 2019, maka saat terjadi koreksi, investor dengan profil risiko agresif dapat mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah melemah cukup banyak.


Obligasi

Lelang surat utang negara di akhir bulan Februari menghasilkan permintaan tertinggi sepanjang sejarah, yang mencapai Rp 93 Trilyun. Rendahnya yield obligasi global yang menaikkan daya tarik obligasi negara berkembang, serta Fed yang lebih dovish mendorong kenaikan permintaan obligasi ini. Selain itu, komentar dari Gubernur Bank Indonesia yang menyatakan bahwa kebijakan suku bunga saat ini sudah hampir mencapai puncaknya, mengindikasikan bahwa suku bunga sudah tidak lagi melanjutkan tren kenaikannya, yang dimulai dari semester II di 2018 yang lalu. Yield obligasi pemerintah 10 tahun turun mencapai 7,8%. Secara keseluruhan, kami cukup optimis bahwa obligasi berpotensi melanjutkan kenaikannya, dan yield obligasi pemerintah 10 tahun berpotensi berada di kisaran 7,6 hingga 7,7% di 2019. Investor dapat mempertimbangkan untuk memperpanjang durasi portfolio obligasi untuk mendapatkan potensi kenaikan atas modal.


Currency

Pelemahan Dolar AS akan mendorong aliran modal kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Akan tetapi beberapa risiko geopolitik seperti risiko eskalasi perang dagang AS – China, Brexit, serta potensi risiko lonjakan inflasi di AS berpotensi membuat permintaan Dolar AS meningkat. Sehingga, kami menilai nilai tukar Rupiah akan berada di kisaran 14,100 hingga 14,300 dalam tiga bulan ke depan.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Tidak ada potensi resesi

“Pada 2019 ini, kami memperkirakan adanya pertumbuhan yang lebih melambat secara moderat, dibandingkan kemungkinan terjadinya resesi, dan rendahnya inflasi dan kebijakan bank sentral yang lebih “sabar” dapat memperpanjang siklus ekonomi hingga ke dekade berikutnya.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:
  • Para pembuat kebijakan mengalami kesulitan untuk mengetahui dengan jelas sejauh mana pertumbuhan telah melambat. Perang tarif, penutupan pemerintahan AS, dan distorsi tahun baru China telah membuat data menjadi sulit untuk dibaca. Hal ini mengindikasikan adanya perlambatan, yang sebenarnya dapat diakibatkan oleh volatilitas pasar keuangan. Hal ini lebih bersifat jangka pendek, dan akan terlihat jelas pada kuartal II – 2019.
  • Berita yang ada selama sebulan ini cukup positif. Tingkat keyakinan AS meningkat, pertumbuhan kredit China juga meningkat (dengan adanya dampak dari kebijakan), dan data perdagangan Asia Timur bulan Januari telah berjalan di atas ekspektasi.
  • Cara lain untuk melihat data adalah untuk mengetahui apakah data ekonomi yang dirilis kuat atau lemah dibanding ekspektasi. Indikator kejutan ini telah menunjukkan kekecewaan di Eropa, tetapi tidak di negara maju lainnya.

Amerika Serikat
  • Gejolak pasar keuangan dan penutupan pemerintahan AS mengakibatkan volatilitas dalam beberapa rilis data ekonomi, namun tidak menimbulkan ancaman resesi. Kebijakan fiskal masih longgar – dengan tambahan pemotongan pajak ke depannya – sementara Fed telah menjamin tidak akan menekan aktivitas melalui kenaikan suku bunga. Meskipun pertumbuhan upah meningkat, inflasi tetap stabil, yang memberikan keyakinan kepada para pembuat kebijakan untuk terus mengejar kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan.
  • Kebijakan perdagangan tetap berisiko, karena sulit diprediksi. Defisit perdagangan AS terus melebar – sebuah tren yang sulit untuk berbalik arah walaupun China berkomitmen untuk menambah impor di beberapa sektor – dan sebagai akibatnya, gesekan perdagangan tetap berpotensi akan timbul sewaktu-waktu.

Eropa
  • Ekonomi zona Eropa masih tetap stagnan di awal 2019, setelah menunjukkan pertumbuhan yang menurun dibawah 1% pada akhir 2018. Kekacauan politik di Perancis dan Italia tampaknya telah merusak kepercayaan bisnis, walaupun diimbangi dengan kebijakan fiskal yang longgar seiring dengan usaha pemerintah untuk mengendalikan keadaan. Sinyal pelemahan ini bersifat sementara, sehingga pertumbuhan pada bulan-bulan mendatang diperkirakan akan membaik.
  • Pengganti Presiden ECB Draghi berpotensi terjadi di kuartal II – 2019, menjelang akhir masa jabatannya di Oktober. Hal ini dapat menentukan ekspektasi akan kapan suku bunga naik untuk pertama kali, terutama dengan kebijakan “selonggar mungkin” sudah tidak diperlukan lagi. ECB lebih hawkish dibandingkan dengan Fed, meskipun demikian kenaikan suku bunga tahun ini akan sulit dilakukan, terutama dengan inflasi inti yang stagnan di kisaran 1%.
  • Inggris terhambat oleh ketidakpastian Brexit, namun sejauh ini, dampak terhadap perekonomian tidak signifikan. Risiko jangka pendek akan datang dari hasil “no deal” pada akhir Maret, tetapi Parlemen mampu (dan mau) untuk menghindari hasil ini, dengan memperlambat proses jika diperlukan.

Jepang
  • Industri otomotif memegang hampir 40 persen dari ekspor ke AS, sehingga Jepang akan terus memantau risiko dari tarif, terutama karena beberapa daerah sudah mengalami kerusakan akibat perselisihan AS-China. Di sisi lain, proyeksi tetap solid, seiring dengan pulihnya kegiatan setelah berbagai kejadian bencana alam di kuartal III – 2018. Kenaikan 2 persen pada pajak penjualan yang direncanakan bulan Oktober akan menjadi rintangan berikutnya, akan tetapi dengan adanya berbagai stimulus talangan, maka hal ini hanya menyebabkan lebih dari fluktuasi jangka pendek.
  • Inflasi tetap rendah dan Bank of Japan cenderung lebih "sabar" dibandingkan dengan bank-bank sentral di negara maju lainnya.

China
  • Tanda-tanda awal dari dampak kebijakan stimulus mulai jelas pada belanja infrastruktur dan pertumbuhan kredit, tapi sejauh ini belum cukup untuk mengimbangi dampak negatif perang dagang. Penafsiran yang lebih optimis adalah bahwa beberapa data yang rilis berhasil mencegah hambatan pertumbuhan, dengan indikator manufaktur nyaris di bawah 50, sementara sisi non-manufaktur tetap berada di level positif.
  • Hambatan perdagangan tetap merupakan ancaman yang besar. Hal ini bukan hanya tarif ekspor China ke AS, tetapi juga hilangnya akses ke teknologi Barat dan berpotensi mengurangi kemampuan untuk mensubsidi industri tertentu. Dengan asumsi diskusi sekarang ini tidak tereskalasi, risiko tegangan baru akan tetap membayangi terutama dengan AS yang lebih tidak kooperatif.

Negara Berkembang
  • Selain risiko menjadi pengganti yang disebabkan oleh eskalasi perang dagang, prospek untuk pasar negara berkembang lebih baik. Dengan pandangan Fed yang lebih dovish, akan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar dan memungkinkan beberapa bank sentral di negara berkembang untuk melonggarkan kebijakan. Pemilihan Umum akan selalu menjadi perhatian – di India dan Indonesia dalam beberapa bulan mendatang – tetapi sinyal menunjukkan adanya kelanjutan dari kepemimpinan yang ada.


 


Kurang Bullish di Asia

“Setelah adanya pemulihan tajam, valuasi untuk pasar saham Asia Ex-Japan menjadi mahal jika dibandingkan dengan negara lainnya. Dengan demikian, kami melihat performa yang lebih terbatas untuk wilayah ini. “

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Didukung oleh optimisme akan Fed yang dovish, dan gencatan senjata perang dagang AS-China, pasar saham global melanjutkan penguatan hingga Februari. Pasar saham global saat ini hanya 5 persen di bawah puncak tertinggi bulan September. Untuk jangka pendek, Fed yang dovish dan ekspektasi pertumbuhan yang realistis akan mendukung pasar saham, bahkan saat valuasi sudah tidak lagi murah. Proyeksi pertumbuhan laba dan laju inflasi AS akan tetap menjadi perhatian. Kami mempertahankan pandangan bahwa valuasi pasar saham global tidak lagi tinggi. Sementara China dan AS diharapkan untuk mencapai kesepakatan baru, perbedaan akan bertahan dan dapat mendorong volatilitas pada pasar.  Kami menilai adanya penguatan terbatas untuk Asia Ex-Japan. Di sisi lain, pasar Eropa terlihat lebih menarik.


Amerika Serikat

  • Pasar saham AS masih memimpin penguatan di bulan Februari. Selain dari pembicaraan AS-China yang membaik, meningkatnya ekspektasi akan susutnya neraca keuangan Fed meningkatkan minat para pelaku pasar. Meskipun laporan keuangan dirilis positif, para analis memangkas ekspektasi pertumbuhan laba di tahun 2019. Dengan tingginya laba di tahun lalu, maka pertumbuhan laba tahun ini menjadi lebih moderat. AS tetap merupakan yang termahal di antara pasar saham utama. Dengan pasar keuangan yang mengantisipasi akhir dari siklus pengetatan, maka proyeksi inflasi AS akan menjadi risiko utama.


Eropa

  • Pasar saham Eropa menguat meskipun prospek pertumbuhan mulai melemah. Namun demikian, pelemahan yang berkelanjutan ini didorong oleh beberapa faktor sementara, sehingga pertumbuhan akan mulai pulih dalam beberapa bulan mendatang. Ditambah dengan valuasi yang murah, zona Eropa dapat mulai mengejar ketertinggalannya. Tarif otomotif dari AS dan pemilihan Parlemen Eropa yang dapat memperkuat partai populis akan tetap menjadi risiko
 
Jepang
  • Pasar saham Jepang kembali tertinggal pada bulan Februari. Dalam jangka pendek, rencana untukmerilis stimulus sebelum peningkatan pajak konsumsi di bulan Oktober, dapat meningkatkan pertumbuhan. Sementara itu, valuasi masih menarik dan mengantisipasi adanya pertumbuhan yang melemah. Selain itu, tata kelola perusahaan yang membaik tidak mencerminkan valuasi. Pertumbuhan jangka panjang tetap menjadi isu dikarenakan kurangnya kapasitas dan terbatasnya pilihan kebijakan.

Asia ex-Japan
  • Keyakinan pertumbuhan akan stimulus China yang lebih aktif akan membantu pertumbuhan domestik, didorong oleh minat investor yang berkelanjutan. Selanjutnya, ketegangan perang dagang yang mereda juga turut membantu. Perpanjangan tenggat waktu setelah 1 Maret akan kenaikan tarif terhadap US$200 milyar impor China memberikan dorongan yang kuat. Dengan hal ini, pasar Asia Utara seperti Hongkong, Taiwan dan China, menggungguli pemulihan pasar saham pada Februari. Dalam jangka pendek, Fed yang dovish dan pembuat kebijakan China yang suportif akan mendorong kelanjutan penguatan. Ekspektasi akan neraca keuangan Fed yang menyusut turut memberikan sentimen yang positif.
  • Di sisi lainnya, menyusul dari penguatan tajam, kesenjangan valuasi antara pasar saham Asia Ex-Japan dan negara global sangat tipis. Dengan demikian, kita akan melihat performa yang lebih terbatas dari wilayah ini. Di saat yang sama, terkait dengan optimisme negosiasi dagang AS-China, hambatan sekecil apapun dapat mengakibatkan kembalinya volatilitas.


China

  • Arah kebijakan Fed yang lebih dovish dan negosiasi perdagangan AS-Cina yang terus berlangsung telah mendukung kinerja aset berisiko, dengan MSCI HK dan MSCI China naik 5,9% dan 3,5%, selama sebulan terakhir. Saham China A-shares (Shanghai Composite Index) menguat 13,8%, didorong oleh data kredit bulan Januari yang jauh melebihi ekspektasi, dengan keseluruhan pertumbuhan kredit naik 10,3% dalam setahun, setelah mengalami penurunan selama 18 bulan
  • MSCI mengumumkan keputusan untuk meningkatkan bobot indeks China A-share pada akhir Februari. Menurut perkiraan MSCI, bobot A-shares dalam MSCI Emerging Market Index akan dinaikkan dari 0,7% menjadi 2,8% di Agustus 2019, dan akan menjadi 3,4% pada Mei 2020. Sejak awal tahun, pasar saham A-share telah mencatatkan aliran dana asing yang kuat, sebanyak RMB 112 milyar melalui Northbound Stock Connect (dibandingkan RMB294 milyar di 2018, dan RMB200 milyar di 2017).



Penguatan Obligasi Tetap Berlanjut

“Kami telah meningkatkan pandangan underweight kami menjadi netral pada obligasi layak investasi negara berkembang, untuk mencerminkan ekspektasi kami dalam mengejar performa negara berkembang, seiring dengan stabilnya pertumbuhan China.”

- Rajeev de Mello, Chief Investment Officer, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Pasar obligasi global memulai kinerja terbaiknya di awal tahun sejak 2012, dengan obligasi negara berkembang naik 3,6%, imbal hasil obligasi high yield AS naik 6,3% dan obligasi layak investasi AS naik 2,3%. Di negara berkembang, imbal hasil obligasi high yield naik 5%, sementara obligasi layak investasi telah menguat lebih dari 2,7%.
Tetap konstruktif pada obligasi negara berkembang
  • Sikap Fed yang lebih dovish, menekankan kesabaran pada suku bunga dan neraca keuangan yang fleksibel, menghilangkan hambatan pada pasar obligasi global, termasuk pasar negara berkembang. Dengan demikian, kami tetap konstruktif pada kelas aset ini hingga beberapa bulan mendatang.
  • Dolar AS yang stabil dan meningkatnya harga komoditas dan minyak telah meningkatkan fundamental makro menjadi positif. Kinerja perusahaan juga tetap suportif, dengan neraca keuangan yang membaik dalam beberapa kuartal terakhir, dan rasio indikasi gagal bayar yang lebih moderat ke depannya. Sementara pasar telah menunjukkan penguatan yang tajam dalam beberapa minggu ini, rentang kredit tetap berada diatas level terendah di 2018. Akhirnya, secara teknis, hal ini mendukung kembalinya aliran modal terutama dengan penerbitan baru yang diproyeksikan lebih rendah tahun ini dibandingkan dengan 2018.
Overweight pada obligasi negara berkembang high yield dan netral pada obligasi negara berkembang investment grade
  • Kami tetap merekomendasikan untuk mengambil posisi overweight pada obligasi negara berkembang high yield dan menetralkan pandangan kami pada obligasi layak investasi. Pandangan kami didasarkan oleh faktor-faktor berikut:
    • Obligasi negara berkembang high yield memiliki valuasi yang lebih menarik dibandingkan obligasi AS dengan peringkat yang setara dengan obligasi negara berkembang investment grade
    • Obligasi negara berkembang high yield diuntungkan oleh meningkatnya minat risiko investor, seiring dengan nada Fed yang lebih dovish
    • Obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi diuntungkan dari dampak politik yang positif di beberapa negara utama.
  • Terlebih lagi, dengan latar belakang pasar obligasi negara berkembang secara keseluruhan, kami menilai bahwa posisi netral pada obligasi investment grade adalah tepat.
Diantara negara berkembang, pilihlah Asia
  • Dengan imbal hasil negara berkembang yang tinggi, kami mempertahankan preferensi kami untuk Asia, terutama dengan dominasi China yang menyumbang hampir dua pertiga dari obligasi yang beredar di wilayah tersebut. Seiring dengan sengketa perdagangan AS-China yang sedang berlangsung, kedua belah pihak tampaknya telah mundur dari kebijakan yang saling merugikan, setidaknya untuk saat ini. Meskipun demikian, hasil dari pertempuran ini, program stimulus pemerintah China tetap agresif dan proaktif, serta mulai terdapat tanda-tanda awal perbaikan
  • Rentang telah reli cukup banyak sehingga  potensi untuk kenaikan lebih lanjut akan terbatas. Perekonomian negara penerbit sedikit lebih rendah daripada ekspektasi; dan penurunan imbal hasil lebih dikarenakan oleh penurunan imbal hasil di obligasi US Treasury
  • Dengan tidak adanya perubahan signifikan di pasar, kami memanfaatkan kenaikan ini dengan kembali mengurangi obligasi negara maju investment grade..


Emas untuk mengimbangi inflasi

Potensi perubahan terhadap target inflasi Fed untuk mengantisipasi peningkatan inflasi yang berlebihan akan meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Hal-hal Utama:

Minyak
  • Kami menilai adanya potensi kenaikan harga yang moderat seiring dengan keberhasilan OPEC yang cukup mengejutkan dalam mengendalikan pasokan minyak.
  • Di saat yang sama, harga yang lebih rendah akan menahan produsen minyak shale dari AS. Sebagai hasilnya, kami mempertahankan target 12 bulan kami sebesar US$ 60 / barel untuk WTI dan US$ 65 / barel untuk Brent.
Emas
  • Kenaikan harga emas akan cukup terbatas untuk saat ini meskipun emas cenderung kuat, seiring dengan para investor yang mencari perlindungan pada emas saat terjadi gejolak di pasar, dan potensi resesi yang biasanya terkait dengan siklus akhir.
  • Kemungkinan perubahan target inflasi Fed untuk mengantisipasi kenaikan inflasi yang berlebihan akan meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Sehingga kami meningkatkan estimasi harga emas dalam 12 bulan menjadi US$ 1.380/ounce.
Mata Uang
  • Posisi bank sentral relatif akan menjadi tajuk utama memasuki Maret. Fed secara efektif telah menetapkan untuk bersabar, sikap netral - dovish. Pada titik ini, kami berpikir mungkin sulit bagi Fed untuk memicu harapan dovish lebih lanjut, kecuali untuk secara eksplisit mengisyaratkan penurunan suku bunga, sebuah langkah yang kami pikir masih terlalu dini untuk saat ini. Dengan demikian, maka fokus pasar akan bergeser ke bank sentral lain, dengan fokus utama adalah ECB.
  • Retorika ECB seputar pelambatan momentum ekonomi Eropa baru-baru ini, menjadikan bulan Maret menjadi bulan yang sangat penting. Dengan demikian, kami tidak mengesampingkan adanya potensi akan pandangan dovish lebih lanjut dari ECB dalam beberapa bulan mendatang.
  • Kami melihat bahwa perbedaan kurs antara AS dan ekonomi utama lainnya bergerak tanpa arah untuk beberapa minggu ke depan, menghasilkan pergerakan dan rentang perdagangan yang liar terhadap Dolar AS. Kami memperkirakan hal ini akan berlanjut sampai kami melihat penurunan lebih lanjut dari indikator makro dan/ atau perubahan signifikan dalam pandangan dovish di antara bank sentral global.
  • Sementara itu, minat risiko secara keseluruhan telah meningkat secara signifikan di belakang kemajuan dalam negosiasi perdagangan China-AS, memberikan dukungan untuk mata uang komoditas (khususnya Dolar Australia). Dampak dari peristiwa geopolitik lainnya tetap terbatas pada saat ini.
  • Ke depannya, perkembangan perdagangan China-AS akan terus menuntun sentimen. Kami berharap perkembangan akan segera terjadi, dengan KTT Trump-Xi akan dijadwalkan untuk pertengahan Maret.
  • Di wilayah lainnya, pemerintah dan parlemen Inggris berupaya untuk mengesampingkan Brexit dengan hasil “no deal”, dan menyetujui untuk mempertimbangkan penundaan batas waktu Brexit. Hal ini berpotensi mengakibatkan ketidakpastian terhadap Poundsterling dalam waktu dekat.

GLOBAL OUTLOOK

Tidak Ada Resesi  


Untuk beberapa saat, kekhawatiran investor akan terjadinya resesi meningkat, disebabkan terjadinya pembalikan kurva imbal hasil obligasi 10 th milik pemerintah AS. Secara historis hal ini terjadi di 2008, dan menyebabkan kekacauan yang memicu krisis finansial. Namun, kekhawatiran tersebut telah memudar karena beberapa hal, termasuk pandangan Fed yang dovish, data ekonomi yang kuat, dan isu perang dagang antara AS-Cina yang terlihat akan dapat menemukan kesepakatan dalam waktu dekat. Kekhawatiran akan resesi tidak lagi menjadi suatu hal yang membayangi para pelaku pasar, akan tetapi masih ada beberapa hal yang tidak bisa dihindari seperti perlambatan perkonomian global dan isu Brexit yang masih membuat ketidakpastian. Seiring dimulainya musim laporan keuangan, para analis berharap akan melihat dampak negatif dari pergerakan pasar financial pada semester kedua tahun 2018.

Aliran dana asing telah mendorong penguatan pasar Emerging Markets dimana para investor percaya akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, terutama dengan Cina yang dalam beberapa bulan ini menunjukan sinyal kestabilan dalam perekonomian. Hal ini tercermin pada indeks MSCI Emerging Markets yang telah mencatat kenaikan sebesar 9.6% di kuartal 1 2019, dan 13.5% year-to-date.

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia telah meningkat ke level US$ 124,54 miliar dari US $123,3 miliar di bulan Februari. Angka ini setara dengan 7 bulan pembiayaan import dan hutang luar negri pemerintah. Inflasi berada di level  2.48%, mencatatkan level terendah sejak akhir 2009, namun  masih berada di kisaran target Bank Indonesia sampai akhir taun. Untuk mengantisipasi Fed yang dovish,  Bank Indonesia memberikan pandangan bahwa memungkinkan untuk menurunkan tingkat suku bunga jika diperlukan demi menstabilkan nilai tukar rupiah. Namun, fokus saat ini tertuju pada pemilihan umum yang akan diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019.

Melihat kedepan, akan baik untuk tetap memperhatikan permasalahan twin deficit negara. Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara menuyatakan, “Sebagai negara yang bergantung pada import, deficit neraca berjalan saat ini berada di sekitar 2.5% dan diperkirakan dapat turun ke kisaran 2% pada akhir taun”. Jika hal ini terjadi, Rupiah akan mendapatkan bantuan untuk menguat terhadap dollar AS. Defisit fiscal pada Februari 2019 adalah Rp 54.6 triliun atau 0.34% dari produk domestik bruto, masih lebih tinggi dibanding tahun lalu. Namun , pengeluaran pemerintah saat ini juga lebih tinggi 9.2% dibandingkan tahun lalu. Oleh karena itu, ada pelebaran deficit budget yang dapat membuat pemerintah untuk menerbitkan lebih banyak obligasi yang dapat membebani pergerakan rupiah.
 


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksadana & Saham

Pada bulan Maret, IHSG melemah tipis di angka -0.48%, indeks MSCI jatuh -8.21%, sementara indeks LQ-45 meningkat +0.85%. Sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa kondisi pasar modal sangat rentan di bulan Maret, namun aliran dana asing masih mencatat netbuy Rp 15.2 triliun. Negosiasi dagang dan pandangan Fed yang dovish mendorong para pelaku pasar beralih pada pasar obligasi untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. Ditambah lagi, Forward PE ada di angka 15.6 x yang berada di Fair Value, dan ekspektasi pertumbuhan pemasukan ada di kisaran 13% untuk 2019. IHSG diperkirakan akan mencapai level 6800-6900 pada akhir tahun. Melihat kedepan, para investor akan lebih berhati-hati dikarenakan adanya Pemilu, bulan Puasa dan Ramadhan.

Obligasi

Pemerintah menerbitkan obligasi sebesar Rp 3,774 triliun sejak awal tahun, ini menyatakan bahwa obligasi pemerintah masih menarik untuk investor lokal dan asing. Dengan tingkat inflasi yang rendah, bank sentral tidak akan mempertimbangkan untuk segera menaikan tingkat suku bunga acuan. Imbal hasil 10 tahun obligasi pemerintah ditarik turun di bulan Maret dengan pembukaan awal bulan di 7.85 persen dan ditutup di level 7.63 persen. Ini membuktikan bahwa selera para investor di pasar obligasi umumnya masih tinggi dan aliran dana asing secara besar masuk ke dalam pasar obligasi Indonesia; Rp 65,5 triliun yang melebihi pasar saham Indonesia sebanyak 4.3 kali. Secara keseluruhan, kami cukup optimis bahwa harga obligasi akan tetap stabil dan pergerakan harga tidak akan bergerak volatile seperti bulan sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun berada di kisaran 7.5 persen yang dapat memberikan keuntungan kepada pemegang obligasi pemerintah Indonesia.

Pasar mata uang

Melihat mata uang Indonesia, Rupiah menguat terhadap US Dollar sebanyak 1.74 persen dari level 14,390 ke level 14,140 secara ytd dan sepertinya saat ini stabil di level tersebut. Akan tetapi, beberapa risiko geopolitik seperti perkembangan ketidakpastian perang dagang AS dan China dan Brexit masih akan berpotensi terhadap kenaikan permintaan untuk US Dollar dan potensi tekanan terhadap Rupiah. Tetapi di sisi lain, the Fed yang dovish akan memberikan tekanan terhadap penguatan US Dollar yang mana akan menjadi keuntungan bagi mata uang domestik kita. Maka dari itu, kami melihat pertukaran harga Rupiah akan berada di kisaran 14,100 sampai 14,250 di beberapa minggu ke depan. Sangat penting untuk dicatat dengan baik bahwa penguatan dan volatilitas akan mata uang domestik mungkin akan berdampak signifikan oleh pemilihan umum presiden pada tanggal 17 April, Rupiah kemungkinan akan dihadapkan dengan bagaimana para investor mencerna hasil tersebut.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



“Sulit untuk mencari pemicu terjadinya resesi meskipun terdapat sinyal pelemahan di perdagangan dan manufaktur, namun hal ini pun tidak akan langsung mengakibatkan resesi”.

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore


Saat ini, perdebatan utama adalah apakah resesi sudah dekat, atau hanya pelemahan dari pertumbuhan global. Kami menilai hal ini hanya pelemahan pertumbuhan global. Kondisi saat ini bukanlah kondisi yang dapat memicu resesi. Kebijakan moneter masih longgar pada setiap negara maju. Sudah jelas bahwa para pembuat kebijakan telah mengantisipasi dampak negatif dari perlambatan pertumbuhan, dengan kebijakan bank sentral yang lebih longgar. Mayoritas kebijakan fiskal netral atau relatif longgar.
 
Amerika Serikat

Bank sentral Fed menekankan perubahan arah kebijakan pada pertemuan bulan Maret lalu, yang mensinyalkan tidak akan ada kenaikan suku bunga hingga 2020. Fed juga menyatakan akan mengakhiri penyusutan neraca keuangannya, dengan menjaga kestabilannya mulai September.

Perubahan arah kebijakan ini sulit dipahami terutama dengan adanya sedikit kontraksi pada proyeksi pertumbuhan ekonomi. Fed lebih berupaya mengantisipasi inflasi daripada sebelumnya.

Hal ini akan mengurangi risiko pengetatan kebijakan yang akan menghambat pertumbuhan, namun hal ini dapat berbahaya saat inflasi naik dengan cepat sehingga Fed harus cepat bertindak.

Walaupun rilis beberapa data ekonomi cukup fluktuatif, namun pertumbuhan AS masih cukup kuat. Kenaikan tingkat upah dan permintaan tenaga kerja mendorong pertumbuhan pendapatan rumah tangga, dengan naiknya tingkat keyakinan konsumen paska penutupan pemerintahan (government shutdown).

Eropa

Walaupun kawasan ekonomi Eropa menghadapi tantangan, kondisi bisnis tetap lebih kuat dibandingkan tahun 2011-2012, disaat kombinasi antara kebijakan bank sentral yang agresif dan pengetatan anggaran di beberapa negara sekunder di Eropa menyebabkan zona ini mengalami resesi (kondisi PIIGS). Walaupun menurun dibandingkan 2017, namun indeks PMI – indikator untuk kesehatan ekonomi di sektor manufaktur dan jasa – masih lebih kuat dibandingkan periode resesi sebelumnya.

Kebijakan masih suportif terhadap pertumbuhan, terutama pada Bank Sentral Eropa yang menunda rencana pengetatan kebijakan. Kebijakan fiskal yang lebih longgar di Italia dan Perancis memberikan kelegaan dari kerusakan yang diakibatkan oleh ketidakpastian politik. Kenaikan produksi industri di Januari mendukung pendapat bahwa pelemahan akhir-akhir ini terjadi disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor negatif yang bersifat sementara, dimana kondisi tersebut mulai berbalik arah, walaupun masih ada keraguan seputar kenaikan sektor manufaktur Jerman.

Inggris tetap terperosok dalam ketidakpastian Brexit. Tidak seperti di negara lainnya, sektor jasa justru tertekan dengan berbelitnya diskusi Brexit.
 
Jepang

Data di Jepang sebagian besar menunjukan pola serupa dengan negara lain, dengan kuatnya pasar tenaga kerja dan ekonomi domestik, sementara sektor manufaktur dan perdagangan tertekan. Namun, penyusutan angkatan kerja akan mendorong pelemahan, dan dengan data ekonomi yang berfluktuatif, mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartalan yang negatif akan sering terjadi.

Laju kenaikan upah berada tingkat tercepat sejak pertengahan tahun 1990 dan hal ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan investasi dan produktivitas. Sejauh ini, kenaikan upah ini belum tercermin pada kenaikan harga konsumen, walaupun mulai terdapat sinyal kenaikan. Inflasi tetap berada di bawah target inflasi 2% dari Bank of Japan, sehingga perubahan arah kebijakan belum akan terjadi.

China

Pelemahan sektor manufaktur China diakibatkan oleh adanya kenaikan tarif terhadap total nilai ekspor US$250 milyar (hampir setengah dari keseluruhan ekspor) dan ketidakpastian yang berkelanjutan akan hubungan dagang dengan AS di masa depan. Hal ini ditambah dengan adanya kenaikan ekspor di awal sebelum berlakunya tarif dan pelemahan yang meluas di sektor teknologi.

Dari persepektif pembuat kebijakan, ancaman dari kenaikan tarif AS telah jelas untuk beberapa waktu, sehingga hal ini telah diantisipasi. Kekhawatiran penggelembungan kredit telah mendorong kebijakan yang lebih longgar, hal ini merupakan salah satu dukungan dari kebijakan, dengan belanja infrastruktur yang meningkat dan pemangkasan pajak merupakan dukungan kebijakan yang terkuat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kesehatan penerimaan pemerintah, namun pemerintah lebih mengutamakan risiko pertumbuhan dalam jangka pendek.

Ketahanan ekonomi domestik yang kuat, yang datang dari kondisi bisnis non-manufaktur yang stabil, menunjukkan respon dari pelonggaran kebijakan. Pemangkasan pajak lanjutan yang baru saja diumumkan akan memberikan optimisme bahwa ekonomi akan bertumbuh diatas 6% di 2019.

Negara Berkembang

Potensi perlambatan ekonomi di negara maju merupakan kekhawatiran yang logis bagi negara berkembang, namun mayoritas negara berkembang – terutama di Asia – mempertahankan kebijakan yang fleksibel untuk mengantisipasi tekanan eksternal. Sebagai contoh, tren kenaikan suku bunga di ASEAN pada tahun lalu, akan mulai berbalik arah pada tahun ini.

Pemilihan umum selalu menjadi sumber ketidakpastian, namun dua negara demokrasi di Asia akan menjalani pemilihan tersebut di tahun ini – India dan Indonesia – yang menunjukkan tendensi tidak adanya perubahan kepemimpinan, sehingga arah kebijakan yang suportif terhadap reformasi akan tetap berlanjut.


Source: Bank of Singapore



Source: Bank of Singapore

 


Saham

Volatilitas Tetap Ada

Setelah mengalami kenaikan dari awal tahun, secara keseluruhan valuasi tidak lagi murah. Dalam jangka pendek, kenaikan data leading indicator akan menjadi faktor utama untuk menentukan prospek pertumbuhan dan kepercayaan investor.

- Sean Quek ,Managing Director and Head of Equity Research, Bank of Singapore
 

Mengingat bahwa kita tidak jauh dari kenaikan tertinggi sepanjang masa untuk saham global pada bulan September 2018 dan valuasi tidak lagi murah, kekhawatiran perlambatan akan tetap menjadi hambatan. Dalam jangka pendek, sikap bank sentral yang sangat akomodatif, tetap mendukung pertumbuhan namun tidak cukup untuk mendorong kenaikan pasar lebih lanjut. Perubahan pada data leading indicator bisnis global dapat mendorong naiknya keyakinan investor. Sementara itu, setiap kemunduran dalam diskusi perang dagang AS- China ataupun kenaikan laju inflasi AS secara mendadak, dapat mengakibatkan pasar kembali bergejolak.

Kombinasi antara inverted yield curve tenor 3 bulan dan 10 tahun, dan data makro AS yang lemah kembali meningkatkan kekhawatiran akan resesi AS. Angka manufaktur PMI turun ke 52,5 pada bulan Maret, level terendah dalam 21 bulan. Hal ini dieskalasi dengan pernyataan Fed yang jauh lebih dovish, yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan suku bunga tahun ini, dan menghentikan penyusutan neraca keuangan di September. Kenaikan proyeksi siklus bisnis dapat meningkatkan sentimen pasar.

Eropa

Pelemahan tak terduga dalam indeks PMI Uni Eropa telah membebani pasar saham Eropa. Namun demikian, leading indicator lainnya menunjukkan bahwa pertumbuhan harus mulai pulih dalam beberapa bulan mendatang. Kami mempertahankan pandangan bahwa wilayah Eropa dapat mulai mengejar ketertinggalan dengan adanya harapan yang lebih rendah dan valuasi yang murah. Tarif otomotif AS dan pemilihan parlemen Eropa tetap menjadi risiko utama.
 
Jepang

Pasar saham Jepang tertinggal negara-negara lainnya pada bulan Maret. Indeks PMI manufaktur Nikkei untuk bulan Maret tidak berubah di bulan Februari pada level 48,9 persen, level terendah sejak Juli 2016. Lambatnya diskusi perdagangan AS – China tidak membantu prospek pertumbuhan laba yang menurun. Rencana stimulus pemerintah untuk mengantisipasi dampak kenaikan pajak konsumsi di bulan Oktober akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, valuasi cukup menarik, dan telah mengantisipasi ekspektasi perlambatan. Prospek pertumbuhan jangka panjang masih akan problematis dengan terbatasnya kapasitas dan pilihan kebijakan.
 
Asia ex-Japan

Meningkatnya kekhawatiran terhadap meluasnya perlambatan pertumbuhan global turut berimbas di pasar ekuitas Asia ex-Japan. Korea dan Malaysia memimpin pelemahan terbesar pada bulan Maret. India, di sisi lain, naik setelah tertinggal pada Januari dan Februari, sementara China bertahan. Langkah Fed yang kembali dovish, terutama rencana untuk mengakhiri penyusutan neraca pada bulan September, akan menjadi pendukung dalam waktu dekat. Juga, China yang lebih proaktif, yang meluncurkan langkah-langkah stimulus yang ditargetkan, akan memberikan dukungan. Pemulihan dalam PMI manufaktur menjadi 50,5, dari 49,2 di bulan Februari, akan memberikan kelegaan sementara.

Di sisi lain, valuasi tidak lagi mendukung seiring menipisnya selisih valuasi antara saham Asia ex-Japan dan saham global lainnya. Dengan demikian, kami melihat kinerja yang lebih terbatas untuk wilayah ini. Selain perubahan leading indicator pada siklus bisnis, kemajuan pada negosiasi perdagangan AS – China dapat mendorong kinerja dalam jangka pendek.
 
China

Terlepas dari sikap risk-off di pasar keuangan, saham China menguat di bulan Maret, dengan MSCI China dan indeks saham A-shares masing-masing naik 2,4% dan 5,5%.
Dalam jangka pendek, pemulihan angka manufaktur ke 50,5, dari 49,2 di bulan Februari, akan meredakan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kami menilai kerentanan pasar terhadap aksi ambil untung akan dipengaruhi oleh perkembangan yang lebih konkret dalam pembicaraan perdagangan AS-China dan laju perlambatan pertumbuhan laba perusahaan.



Source: Bank of Singapore


Obligasi

Positif terhadap obligasi emerging market high yield

Pergeseran retorika Fed yang akomodatif telah mendorong suku bunga lebih rendah lagi. Prospek pertumbuhan yang moderat dengan inflasi rendah, serta bank sentral yang suportif akan mendukung obligasi high yield dengan fundamental yang sehat.

- Rajeev de Mello, Chief Investment Officer, Bank of Singapore
 

Obligasi korporasi pasar negara berkembang menunjukkan performa yang baik sejauh ini, dengan kenaikan sebesar 5.2%, didukung oleh kinerja high yield. Berdasarkan peringkat, obligasi berperingkat B merealisasikan kinerja tertinggi sebesar 7.0%.

Prospek suku bunga yang turun dan sikap kebijakan Fed yang dovish terus memberikan dukungan untuk obligasi negara berkembang. Namun, kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan dapat meningkatkan risiko volatilitas aset dalam waktu dekat.

Meningkatkan pandangan kami pada obligasi negara berkembang high yield, dan menurunkan obligasi negara maju investment grade.

Pertumbuhan ekonomi yang tenang dan suku bunga rendah akan mendukung obligasi high yield. Dalam alokasi aset kami, kami meningkatkan posisi overweight obligasi negara berkembang high yield, di mana kami menilai spread berpotensi menyempit, karena para investor fokus mencari imbal hasil lebih tinggi diluar negara maju dan bank sentral yang dovish.

Fundamental untuk obligasi negara berkembang high yield cukup baik dan menawarkan spread yang menarik, terutama untuk obligasi Asia high yield.

Kami kembali menurunkan posisi underweight pada obligasi investment grade negara maju, dimana yield yang rendah hanya memberikan sedikit ruang untuk kenaikan harga.

Angka gagal bayar pada level terendah dalam lima tahun untuk obligasi negara berkembang

Pada awal Maret, angka gagal bayar korporasi negara berkembang berada pada level terendahnya dalam 5 tahun (0.7%), sehingga mendukung obligasi negara berkembang high yield.

Eropa, Timur Tengah dan Afrika (EMEA) belum melaporkan tingkat gagal bayar sejak awal tahun, sementara itu Asia dan Amerika Latin masing-masing mencatat gagal bayar sebesar 1,4% dan 0,5%.

Kami mempunyai pandangan positif pada Asia dalam obligasi negara berkembang high yield

Dalam obligasi negara berkembang high yield, kami lebih memilih Asia, didorong oleh China yang menyumbang hampir dua pertiga dari pasar obligasi di kawasan ini. Imbal hasil obligasi China yang tinggi terlihat sangat menarik, meskipun kami tetap selektif dalam menimbang risiko kelas aset.

Obligasi korporasi Asia high yield merupakan yang paling menarik berdasarkan perbedaan spread, yang diperdagangkan 56 basis poin lebih lebar dari obligasi Amerika Latin dan 91 basis poin lebih lebar dari obligasi EMEA high yield, per 22 Maret. Kinerja telah didorong oleh China, karena pelonggaran kebijakan yang meluas (fiskal, moneter dan peraturan) dan ekspektasi pasar akan kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Mengapa kami menyukai obligasi emerging market high yield dibandingkan investment grade?

Kami tetap menyarankan untuk mengambil posisi overweight pada obligasi negara berkembang high yield dan menetralkan pandangan kami pada obligasi layak investasi di negara berkembang. Pandangan kami didasarkan oleh faktor-faktor berikut:
  1. Obligasi negara berkembang high yield memiliki valuasi yang lebih menarik dibandingkan obligasi AS high yield dan obligasi negara berkembang investment grade
  2. Obligasi negara berkembang high yield diuntungkan oleh meningkatnya minat risiko investor, seiring dengan nada Fed yang lebih dovish
  3. Obligasi negara berkembang high yield diuntungkan dari dampak politik yang positif di beberapa negara utama.


FX & COMMODITIES

Kenaikan yang terbatas pada minyak

Harga komoditas yang stabil adalah argumen yang kuat untuk menentang bahwa dunia sedang memasuki resesi. Minyak telah mencapai target kami setelah naik tajam dan kami menilai terbatasnya potensi untuk kenaikan lebih lanjut.

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, Wealth Management Singapore, OCBC Bank

Minyak

OPEC telah menunjukkan kedisiplinan dalam mengendalikan pasokan, tetapi harga yang lebih tinggi akan mempengaruhi sumber produksi lainnya. Sehingga, kami mempertahankan target 12 bulan kami sebesar US$ 60/ barel untuk WTI dan US$ 65/ barel untuk Brent.

Emas

Penurunan yield obligasi AS dan jeda dalam pengetatan kebijakan moneter AS dapat membatasi penguatan Dolar AS dan mendukung harga emas. Emas dapat terapresiasi jika pertumbuhan global terus melemah. Di sisi lain, jika pertumbuhan menunjukkan tanda-tanda stabilitas yang membaik, hal ini lebih mendukung aset berisiko daripada emas, tetapi tetap saja emas dapat diuntungkan oleh pelemahan Dolar AS. Sehingga, kami menilai emas dapat berkonsolidasi emas lebih lanjut di sekitar level psikologis US$ 1.300/ ons.
Dalam jangka menengah, kekhawatiran akan siklus ekonomi dapat menguntungkan emas, karena investor mencari perlindungan terhadap portfolio.

Prospek mata uang

Memasuki kuartal II di 2019, beberapa data ekonomi yang melemah telah menyebabkan kekhawatiran investor akan prospek pertumbuhan. Dengan demikian, minat positif yang terlihat pada kuartal I mulai memudar. Pada titik ini, fundamental ekonomi AS masih relatif lebih baik, sementara data ekonomi Eropa dan Asia masih jauh di bawah ekspektasi.

Hal ini umumnya menguntungkan Dolar AS karena investor mencari tempat yang aman. Namun, kinerja ekonomi AS cukup variatif di semua sektor. Indikator pasar tenaga kerja tetap kuat, tetapi pelemahan terlihat pada sektor investasi, konsumen dan perumahan. Hal ini cukup untuk membuat retorika Fed yang dovish pada pertemuan FOMC bulan Maret. Penurunan pada imbal hasil US Treasury terhadap imbal hasil obligasi utama lainnya membuat Dolar AS melemah terhadap mata uang utama lainnya. Oleh karena itu, terjadi perubahan arus di lingkup mata uang G10, yang mencegah penguatan Dolar AS.

Kami memperkirakan Dolar AS akan sedikit menguat di bulan April. Perhatian pasar dapat bergeser menunggu respons yang dovish dari pertemuan kebijakan bank sentral RBA dan ECB di awal April, menambah tekanan negatif pada mata uang masing-masing negara. Oleh karena itu, kami memperkirakan Dolar AS akan bertahan terhadap Euro, Dolar Australia dan Dolar Kanada.

Di sisi lain, kami memperkirakan beberapa sentimen yang kurang baik akan mendukung Yen. Dengan demikian, kami memperkirakan Dolar AS melemah terhadap Yen.

Di Asia, Fed yang dovish secara efektif memberikan ruang bagi bank sentral Asia untuk menghidupkan kembali stimulus moneter. Sementara mereka telah menjauh dari tren kenaikan, kami melihat keengganan di antara bank sentral Asia untuk menurunkan suku bunga (kecuali Reserve Bank of India). Namun demikian, dengan imbal hasil jangka panjang yang meningkat di beberapa bagian Asia, kami memperkirakan pasar akan terus menekan beberapa bank sentral untuk memangkas suku bunga. Dalam konteks ini, kami memperkirakan imbal hasil aset Asia akan tetap tinggi. Kami mendukung Renminbi dan Rupiah Indonesia dengan masuknya arus modal pada portfolio.

 


Informasi Semua Laporan Analisa Pasar Harian

 
 

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Call 500-999

(Tekan angka 1 untuk Premier Banking)


Handphone
66-999

(Tekan angka 1 untuk Premier Banking)

Atau hubungi kami
secara Online