World's Strongest Bank
Menu

Anda berada di Indonesia


Market Insight


Wealth Panel Video

Tayangan Video Mengenai Layanan OCBC NISP Wealth Panel

 
Khusus bagi Anda nasabah Premier Banking, kami sediakan tayangan video OCBC NISP Wealth Panel sebagai bagian dari layanan pengelolaan finansial.
 
Bank OCBC NISP yang selalu fokus kepada kebutuhan nasabah, senantiasa ingin memberikan layanan dan produk yang bernilai tambah, khususnya untuk segmen nasabah Premier Banking. Kondisi perekonomian dan market yang kerap bergejolak membuat nasabah harus semakin cermat dalam memilih produk produk investasi dan berhati-hati dalam mengelola pundi-pundi keuangannya. Berangkat dari hal inilah Bank OCBC NISP meluncurkan layanan OCBC NISP Wealth Panel, sebagai bagian dari layanan pengelolaan finansial.

Wealth Panel

Perspektif Eksklusif dari Jajaran Wealth Panel Kami

Wealth Panel OCBC NISP merupakan jajaran analis terpercaya di industri perbankan, yang perspektifnya diyakini berkualitas dalam pasar keuangan.

Dengan ulasan analisa dari para panelis OCBC NISP, Anda dapat mengoptimalkan pertumbuhan investasi Anda.

Tulisan maupun tayangan analisa dari para panelis dapat Anda akses melalui www.ocbcnisp.com.

Informasi lebih lanjut mengenai OCBC NISP Premier Banking hubungi Call OCBC NISP 500999/66999 (HP)

 

Ka Jit

Ka Jit

Senior Corporate Executive OCBC NISP Bank

Ka Jit memulai karirnya dalam dunia perbankan sejak tahun 1998. Sebelum bergabung dengan Bank OCBC NISP tahun 2011, Ka Jit berkarir di berbagai institusi multinasional seperti DBS, CITI, dan HSBC.

Saat ini sebagai Senior Corporate Executive Bank OCBC NISP, Ka Jit bertanggung jawab dalam proses pengembangan dan positioning produk consumer banking melalui pengkajian terhadap pasar, pengembangan sistem, dan desain proses untuk memenuhi kebutuhan finansial nasabah perorangan.

Ka Jit juga memimpin tim Segment Proposition yang berperan dalam pengembangan layanan OCBC NISP Premier Banking, tim Wealth Advisory yang bertugas membangun strategi pengelolaan portfolio dan perencanaan keuangan bagi individu, dan tim Distribusi yang tersebar di seluruh Cabang Bank OCBC NISP untuk melayani kebutuhan investasi, proteksi maupun pengelolaan keuangan Nasabah.


Juky Mariska

Juky Mariska

Wealth Advisory Head OCBC NISP Bank

Sebagai Head of Wealth Management Specialist, Juky berperan dalam melakukan analisa terhadap kondisi pasar sebagai referensi baik bagi tim Marketing maupun bagi nasabah dalam pengelolaan investasi.

Sebelum bergabung dengan OCBC NISP, Juky berpengalaman selama 12 tahun di Citibank. Berawal dari sebagai Personal Banker, Investment Consultant sampai menjadi Branch Manager. Jabatannya terakhir adalah sebagai Head of Sales di First State Investment Indonesia. Juky memulai karirnya di dunia perbankan & institusi keuangan tepat setelah kelulusannya dari The University of San Fransisco dengan gelar MBA in Finance, di tahun 2001.


Novelina Luciana

Novelina Luciana

Head of Treasury Advisory OCBC NISP Bank

Dalam posisinya saat ini, peranannya adalah dalam pertumbuhan bisnis Treasury di segmen Wholesale, Enterprise, Commercial, Emerging Business, Financial Institution dan Consumer. Sebelumnya, selama 1 tahun periode jabatan sebagai Head of FX and Derivative Advisory OCBC NISP Bank, dia bertanggung jawab dalam pertumbuhan Treasury Sales Business bagi nasabah perorangan maupun korporasi di seluruh cabang Bank OCBC NISP.


Richard Jerram

Chief Economist pada Bank of Singapore

Sebagai Chief Economist di Bank of Singapore, Richard melakukan analisa dan perumusan pertumbuhan global makro ekonomi. Karirnya sebagai analis selama lebih dari dua dekade, diawali di Jepang pada tahun 1980. Richard memperoleh gelar doktornya di London dan kembali ke Jepang pada tahun 1996 untuk bergabung dengan ING Securities. Tahun 2009, Richard ditunjuk sebagai Head of Asian Economics of Macquarie dan kemudian dimutasi ke Singapura. Richard yang merupakan pemilik gelar CFA, adalah lulusan dari University College London dengan gelar BSc dan London School of Economics dengan gelar MSc dan PhD.


Vasu Menon

Head, Content & Research Wealth Management Singapore - OCBC Bank

Vasu Menon memiliki pengalaman 23 tahun di industri investasi & wealth management. Figurnya cukup dikenal di media terkait dengan paparan analisa pasar. Sebelum bergabung dengan OCBC Singapura, dia merupakan head of investment research di sebuah perusahaan sekuritas dimana Vasu berhasil membangun reputasinya dalam memilih small-cap stocks. Di posisinya saat ini, Vasu memiliki peran besar dalam formulasi analisa investasi baik dalam penulisan artikel yang menarik terhadap isu-isu penting di pasar uang maupun sebagai pembicara dalam seminar dan event investasi lainnya.


Hou Wey Fook

Chief Investment Officer Bank of Singapore

Hou Wey Fook, CFA, adalah Managing Director and Chief Investment Officer di Bank of Singapore. Berpengalaman selama 24 tahun dalam pengelolaan portfolio, termasuk diantaranya saham, obligasi, reksadana & hedge funds. Sebelum bergabung dengan Bank of Singapore, Wey Fook merupakan bagian dari OCBC Bank Group selama 17 tahun sebagai Chief Investment


Wellian Wiranto

Wellian Wiranto

Economist - OCBC Bank

Wellian bergabung dengan OCBC Global Treasury di Desember 2013, sebagai ekonom yang bertanggung jawab di region Indonesia dan Malaysia. Analisanya telah dikutip secara rutin oleh media internasional, diantaranya Wall Street Journal, Financial Times, Bloomberg and Reuters, juga beberapa media di luar Singapura di antaranya the Edge, Business Times, Straits Times, Jakarta Globe and Jakarta Post. Wellian juga hadir sebagai pembicara di CNBC, Bloomberg TV dan Channel News Asia untuk memberikan perspektifnya terhadap kondisi ekonomi pasar global & pasar regional.

+ Show more details

 

 

For more information, call:

1500-999

(Press 1 for Premier Banking)


Handphone
66-999

(Press 1 for Premier Banking)

or contact us Online

 

Market Outlook

Informasi dan Ulasan Analisa Pasar Terkini

untuk mendapatkan ulasan pasar secara lengkap silakan menghubungi Premier Banking Manager anda.

Laporan Analisa Pasar Harian dan Bulanan

Bridging through Troubled Waters

Pada bulan Agustus, kami melihat adanya resolusi dari kekhawatiran yang selama ini membayangi sentimen perdagangan investor global. Perang dagang antara AS dan China terlihat mulai mereda seiring dibukanya kembali ruang negosiasi antara kedua negara yang puncaknya akan digelar pada November mendatang.

Selain itu, risiko lainnya yang datang dari kenaikan suku bunga bank sentral AS juga sudah mulai terlihat dampaknya terhadap ekonomi negara-negara berkembang di seluruh dunia. Kenaikan suku bunga AS membuat investor asing mengalihkan investasinya di AS, sehingga membuat mata uang negara berkembang tertekan. Di tahun ini, beberapa negara yang perekonomiannya berada dalam kondisi rentan, semakin tertekan akibat pelemahan mata uangnya seperti Argentina, Brazil dan Turki. Fed pun berpotensi menaikkan suku bunga sebanyak 2 kali lagi di 2018, yakni di bulan September dan Desember seiring dengan meningkatnya laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang solid. Konsensus analis memperkirakan adanya 88 persen probabilitas bahwa Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan September menjadi 2,25%.

Dari dalam negeri, sebagai komitmen langkah pre-emptive, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo pada bulan Agustus sebesar 25 basis poin ke level 5,50% berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah dan juga menghentikan pelemahan di pasar saham dan obligasi. Dari sisi politik, pengumuman calon presiden dan wakil presiden yang akan maju pada Pilpres 2019 memberikan sentimen positif bagi para investor. Meskipun demikian, rilis current account deficit yang semakin melebar ke level 3,04% pada kuartal kedua tahun ini dari 2,21% pada kuartal sebelumnya dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah menilai angka ini masih dapat dikendalikan mengingat dari awal tahun, defisit masih berada di 2,6%.

Melebarnya defisit neraca pembayaran Indonesia ini, diakibatkan oleh meningkatnya kebutuhan impor bahan baku dan barang modal seiring dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi di kuartal II. Pemerintah menerapkan beberapa kebijakan seperti pembatasan impor produk pangan serta kebijakan biodiesel B20 untuk memperbaiki posisi neraca pembayaran Indonesia.

Meredanya ketegangan seputar perang dagang dan risiko geopolitik global akan memberikan dukungan ke pasar modal. Sehingga di penghujung kuartal III ini, investor dapat kembali meningkatkan risk appetite di pasar modal, terutama dengan turunnya volatilitas dan valuasi yang cukup murah setelah pelemahan yang cukup dalam.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Indeks Harga Saham Gabungan berhasil rebound di bulan Juli dengan membukukan kenaikan  sebesar 2,36 persen. Hampir semua sektor mengalami penguatan, dengan sektor konsumsi berhasil mengalami kenaikan sebear 1.5 persen selama bulan Juli. Terlihat adanya perbaikan dari sektor konsumsi sehingga pertumbuhan ekonomi diharapkan terjaga. Sementara itu, aliran dana asing terlihat mulai masuk ke bursa saham Indonesia dengan melakukan net buy sebesar Rp 778 miliar sepanjang bulan Juli 2018.

Memasuki bulan Agustus 2018, valuasi price-to-earnings ratio berada di kisaran 15,3 kali, masih dibawah rata – rata valuasi titik tertingginya di level 16.3 kali, yang merupakan level yang cukup menarik terutama dengan estimasi pertumbuhan laba 2018 di sekitar 13 persen.  Investor asing mulai mengakumulasi pasar saham Indonesia, mengingat pada bulan Juli aliran dana asing mulai masuk ke bursa saham Indonesia. Saham-saham berkapitalisasi besar terlihat mulai rebound. Sehingga, investor dapat mempertimbangkan untuk mengalokasikan kembali reksa dana yang menitikberatkan di saham-saham berkapitalisasi besar.



Obligasi

Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun, kembali menyentuh titik tertinggi di level 8,02% pada akhir bulan Juli 2018. Investor asing kembali mencatatkan sell-off di bulan Juli seiring dengan pelemahan Rupiah, dan kenaikan suku bunga 7 Day Reverse Repo Rate yang sudah menyentuh level 5.25%. Akan tetapi, kenaikan imbal hasil secara tajam justru mendorong kembalinya investor asing ke obligasi Rupiah, terutama paska dirilis inflasi bulan Juli yang cukup stabil di level 3,18 persen. Hal ini membuat imbal hasil  obligasi Indonesia sangat menarik bila dibandingkan dengan negara peers lainnya.

Untuk kenaikan suku bunga acuan, kami menilai Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga 1 hingga 2 kali lagi di kuartal IV-2018 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, sesuai dengan arah kebijakan bank sentral yang pre-emptive, front loading, dan ahead of the curve. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan the Fed yang secara agresif menaikan suku bunga lebih banyak di tahun ini.

Dengan data fundamental ekonomi Indonesia yang masih baik dan menariknya imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia, kami memperkirakan imbal hasil obligasi 10 tahun akan berada di kisaran 7,3 hingga 7,5 persen untuk 2018. Kenaikan imbal hasil diatas 7,5 persen atau terjadi pelemahan pada harga obligasi, dapat dimanfaatkan sebagai entry point untuk mengakumulasi obligasi pemerintah terutama di durasi jangka pendek hingga menengah untuk memitigasi risiko penurunan.


Currency

Ketegangan trade war dan krisis geopolitik di beberapa negara-negara berkembang mendorong investor keluar dari aset-aset berisiko ke aset aman atau safe-haven seperti US Treasury. Hal ini mengakibatkan penguatan US Dollar Index terhadap mayoritas mata uang negara-negara lainnya. Sementara itu, Rupiah terlihat kembali melemah sebesar 0.17 persen sepanjang bulan Juli 2018.

Untuk menjaga stabilitas Rupiah, BI diperkirakan akan kembali menaikan suku Bunga acuan di semester II ini. Penurunan cadangan devisa di bulan Juli menunjukkan meningkatnya aktivitas intervensi Bank Indonesia. Gejolak eksternal dari trade war diperkirakan masih akan menekan Rupiah ke depannya. Hal ini terutama terlihat dengan NDF (non-deliverable forward) untuk tenor 3 bulan diperdagangkan diatas 14.700.

Kami memperkirakan bahwa Rupiah masih akan bergejolak di kisaran 14.600 hingga 14.700 dalam tiga bulan ke depan seiring dengan rencana kenaikan suku bunga AS.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Global Growth Remains Healthy

“Meskipun adanya ketegangan perdagangan, ekonomi global tetap bertumbuh, seiring dengan AS yang menonjol karena dampak dari stimulus fiskal, sementara negara maju lainnya masih menikmati kebijakan moneter yang longgar.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore


Hal-hal Utama
  • Ketegangan perdagangan tetap menjadi topik utama, namun sejauh ini, langkah-langkah yang diumumkan tidak mempengaruhi perekonomian global. Beberapa eskalasi ketegangan dagang tampaknya mungkin akan muncul, tetapi kami tidak melihat adanya perluasan tarif yang substansial sebelum hal tersebut memberikan dampak yang berarti terhadap siklus ekonomi.
  • Pertumbuhan jaringan produksi global selama beberapa dekade terakhir mengindikasikan hambatan terhadap perdagangan dapat berakibat lebih fatal dibandingkan masa lalu. Akan tetapi, ini merupakan alasan untuk mengharapkan adanya pengetatan.
  • Pembalasan oleh China dan Eropa telah ditargetkan dengan hati-hati terhadap daerah-daerah yang mendukung Presiden Trump. Akan tetapi, sejauh ini hal tersebut memberikan dampak nyata yang kecil terhadap tingkat popularitas Trump, maka hal tersebut tidak menghasilkan adanya perubahan sikap. Sama halnya, pasar saham AS belum menunjukkan sebuah reaksi yang dapat memprovokasi perubahan kebijakan.
  • Terlebih lagi, jika kami melihat alur dari perdagangan global, keteganagn telah mereda setelah lonjakan tahun 2017, namun masih terlihat bertumbuh dalam jalur yang sehat.
  • Meskipun demikian, sebuah perang dagang tampak sebagai ancaman serius terhadap perbaikan ekonomi. Jika AS memberikan tarif terhadap semua barang impor dari China dan semua produk yang berhubungan dengan otomotif, hal itu dapat dihitung sekitar 5 persen dari PDB AS. Pembalasan yang seimbang akan secara langsung mempengaruhi hampir 10 persen terhadap aliran perdagangan global. Akan tetapi, hubungan perekonomian akan memburuk secara signifikan sebelum hal tersebut bertambah serius.
  • Secara keseluruhan, siklus global tetap terlihat baik, didukung oleh pelonggaran kebijakan di kebanyakan negara maju. Dalam jangka waktu 12 sampai 18 bulan ke depan pertumbuhan yang solid tetap dapat berlangsung.
  • United States
  • Langkah pertumbuhan ekonomi AS tampaknya akan sedikit bertumbuh di tahun 2018, kemungkinan ini adalah tanggapan langsung dari pemotongan pajak dan peningkatan pengeluaran pemerintah yang diberlakukan pada awal tahun.
  • Hal ini terlihat dari pertumbuhan lapangan pekerjaan yang berada pada rata-rata 215,000 per bulan pada tahun ini, dibandingkan dengan level 189,000 selama beberapa tahun yang lalu.
  • Survei menunjukkan bahwa kekurangan tenaga kerja menjadi lebih parah dan semakin banyak pekerja yang keluar dari pekerjaan mereka untuk menemukan upah yang lebih baik di tempat lain. Sejauh ini, kenaikan upah berlangsung moderat, tetapi tekanan terlihat semakin tinggi.
  • Europe
  • Laju perbaikan di kawasan Eropa sedikit melambat di semester pertama 2018, tetapi pertumbuhan masih relatif sehat.
  • Sentimen bisnis dan konsumen terlihat positif dan berada dalam laju ekspansi yang solid. Kebijakan moneter seharusnya menghasilkan dampak seiring dengan pembaikan kesehatan keuangan, terutama dengan bank sentral Eropa (ECB) yang tidak terburu-buru menaikkan suku bunga. Manfaat dari reformasi struktural terseleksi secara bertahap dan kebijakan fiskal tidak lagi menjadi hambatan terhadap pertumbuhan.
  • Ketidakpastian politik terus berlanjut di Italia, dimana anggaran berikutnya – jatuh tempo pada musim gugur tahun ini – akan memperlihatkan apakah pemerintah berniat untuk mengabaikan penghematan fiskal yang telah menstabilkan keuangan publik dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini akan berisiko berujung konflik dengan Uni Eropa dan dapat membawa tekanan baru ke pasar obligasi di kawasan tersebut.
  • Brexit masih memberikan masalah yang rumit. Perebutan menit terakhir untuk menemukan kompromi – yang biasanya adalah isu negosiasi negara Uni Eropa – terlihat merupakan skenario terbaik – tetapi hal tersebut dapat memberikan dampak buruk untuk pasar keuangan.
  • Japan
  • Perekonomian Jepang tetap sehat, dengan sentimen bisnis dan profitabilitas berada pada level yang kuat.
  • Meskipun demikian, topik utama pertumbuhan terkendala oleh tantangan demografis, dengan populasi usia pekerja yang mengecil sebesar 1 persen setiap tahunnya. Pengetatan yang berlebihan di pasar tenaga kerja tetap menghasilkan sedikit kenaikan upah atau inflasi, seiring dengan dasar pemikiran terkait deflasi membutuhkan waktu lama untuk dihilangkan.
  • China
  • Sebagai target utama dari hambatan perdagangan AS, China telah menemukan berbagai cara untuk menanggulangi benturan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan.
  • Beberapa tahun terakhir telah menjelaskan bahwa menjaga langkah terhadap pertumbuhan dalam jangka pendek lebih diutamakan dari pada jangka panjang yang bertujuan untuk mengendalikan gelembung kredit. Stimulus sepertinya digunakan untuk melonggarkan kebijakan, pemotongan rasio kebutuhan cadangan dan kebijakan fiskal.
  • Hal ini tidak menguntungkan, karena setelah beberapa tahun berbicara tentang pertumbuhan kredit yang berlebihan, pembuat kebijakan akhirnya akan menekan peminjam yang buruk dan memperkenalkan elemen pengaturan kebijakan.
  • Ketidakseimbangan perdagangan yang besar memberikan antara kedua negara berarti China dengan cepat akan kehilangan kemampuan untuk membalas kenaikan tarif produk impor AS. Langkah-langkah untuk membuat kehidupan sulit bagi perusahaan Amerika yang beroperasi di China menjadi respons yang realistis.
  • Emerging Markets
  • Naiknya suku bunga AS memberikan suatu tantangan untuk negara berkembang di mana defisit eksternal menghasilkan kebutuhan pendanaan yang signifikan.
  • Untungnya, hal ini hanya berlaku untuk beberapa negara, dipimpin oleh Argentina dan Turki. Skala tersebut tidak cukup besar untuk menjadi risiko sistematik, terutama beberapa negara telah melakukan perbaikan kebijakan ekonomi setelah tekanan dari “taper tantrum” di tahun 2013.



 


Tread Carefully  

“Sementara pandangan ekonomi yang solid dan pertumbuhan pendapatan yang sehat berlanjut, kami tetap waspada karena ketidakseimbangan risiko yang semakin parah diprediksi akan mengurangi risk appetite investor.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore


Hal-hal Utama

 

  • Dengan menanjaknya suku bunga, kami tidak berharap bahwa valuasi akan berlipat ganda untuk mencapai level tertinggi sebelumnya. Meskipun demikian, kenaikan lanjutan bursa saham global akan didukung terbatas oleh pertumbuhan pendapatan.
  • Seiring kita memasuki paruh kedua 2018, para investor akan fokus pada pendapatan tahun 2019. Konsensus pertumbuhan EPS 2019 berada pada posisi stabil di 9.5 persen.
  • Kami bertahan pada level sedikit underweight.
  • United States
  • Didorong oleh awal yang positif saat memasuki musim pendapatan 2Q 2018, ekuitas AS melanjutkan perjalanannya.
  • Didukung oleh kebijakan fiskal yang mudah, pertumbuhan pendapatan 2019 diprediksi akan tetap solid di 10.7 persen. Namun, kebijakan moneter dapat menjadi penghambat terhadap pendapatan pada tahun 2019.
  • Valuasi untuk ekuitas AS tetap menjadi yang paling diminati dibandingkan wilayah lain yang kami pantau.
  • Kami tetap pada level netral terhadap ekuitas AS.
  • Eurozone
  • Kinerja perusahaan yang sejauh ini dirilis cukup mengecewakan. Namun, konsensus EPS 2018 tidak diubah untuk bulan Juli.
  • Outlook pertumbuhan telah berubah selama beberapa bulan terakhir, tapi pemulihan ekonomi wilayah Eropa berlangsung dengan baik. Konsensus melihat potensi pertumbuhan EPS 2019 sebesar 9.5 persen.
  • Perang dagang dengan AS telah membebani outlook ekonomi. Dalam waktu yang bersamaan, event politik kembali menjadi risiko bagi wilayah tersebut.
  • Valuasi masih kurang menarik dibandingkan peers negara maju lain.
  • Japan
  • Pasar ekuitas Jepang kembali diguncang kekhawatiran potensi perang dagang yang dapat mempengaruhi pendapatan, dan kemungkinan penguatan lanjutan yen.
  • Meskipun laporan kinerja perusahaan yang positif sejauh ini, prediksi pendapatan konsensus 2019 tetap stagnan pada pertumbuhan EPS 4,6 persen. Valuasi saat ini relatif tertekan dibandingkan negara maju lainnya. Oleh karena itu, setiap peningkatan prospek pendapatan dapat mendorong peningkatan jangka pendek.
  • Meskipun demikian, kami mempertahankan pandangan bahwa re-rating berkelanjutan di pasar akan memerlukan reformasi struktural yang lebih bermakna untuk meningkatkan pertumbuhan secara keseluruhan.
  • Dengan demikian, kami tetap underweight pada ekuitas Jepang.
  • Asia ex-Japan
  • Ekuitas Asia ex-Japan kembali mencatat performa buruk pada bulan Juli. Selain musim pendapatan yang lebih lemah dari yang ekspektasi, ketidakpastian perang dagang yang masih berlangsung dan kekhawatiran terkait berakhirnya pelonggaran kuantitatif (QE) terus membebani wilayah tersebut.
  • Depresiasi CNYUSD tetap menjadi fokus utama bagi investor.
  • China
  • Secara keseluruhan, kami tetap netral terhadap China.
  • Jika melihat latar belakang makro yang menghadapi banyak tantangan, ditandai dengan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China dan perlambatan domestik yang disebabkan oleh pengurangan tingkat penyaluran utang, kami berharap pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal lebih lanjut di semester kedua 2018.
  • Kami juga mengharapkan pengurangan pemberian utang akan berlanjut sebagai tujuan utama pemerintah. Dengan demikian, pelonggaran kebijakan cenderung menjadi dukungan positif dan terarah, menghindari perang dagang skala penuh.
  • Dengan risiko dan volatilitas yang cenderung tetap tinggi, kami merekomendasikan pendekatan selektif. Kami melihat MSCI China A-shares lebih menarik dibandingkan dengan H-shares dan ADRs. Kami juga merekomendasikan untuk tetap berpegang pada perusahaan-perusahaan yang besar dan berkualitas atau yang mendapat manfaat dari pelonggaran kebijakan.
  • Singapore
  • Berdasarkan Indeks MSCI Singapore, pasar diperdagangkan pada rasio P/E 11,9x FY18 dan P/E FY19 11x, yang lebih rendah dari rata-rata sekitar 14x laba. Price-to-book value berada pada 1,2x dan hasil dividen sekitar 4,4 persen. Price-to-book saat ini juga mendekati batas bawah kisaran 5 tahun terakhir.
  • Musim pelaporan pendapatan 2Q 2018 tidak akan menimbulkan guncangan pendapatan yang besar, tetapi jika ketegangan perang dagang meningkat, itu berpotensi menghasilkan revisi pendapatan di kuartal-kuartal mendatang.
  • Dengan ketegangan perdagangan yang masih membayangi, kami memperkirakan sentimen pasar akan tetap lemah dalam beberapa minggu mendatang. Selain itu, dari sisi properti Singapura, langkah-langkah lebih untuk mendinginkan pasar properti yang dilakukan pada 5 Juli 2018 mengejutkan pasar dan telah membebani sentimen.
  • Developed Market Sectors
  • Kami mempertahankan pendekatan strategi barbel kami antara sektor siklikal (kami lebih menyukai sector finansial and consumer discretionary) dan defensif (kesehatan and telekomunikasi).
  • Dengan normalisasi suku bunga lebih lanjut dan pemulihan ekonomi, prospek bank secara umum tetap positif. Bank-bank AS juga mendapat manfaat dari pertumbuhan kredit yang lebih baik dan lingkungan peraturan yang lebih kondusif. Sentimen konsumen yang sehat dan tingkat pengangguran yang rendah juga merupakan pertanda baik bagi sektor Consumer Discretionary.
  • Saham Crowded Technology berkinerja buruk pada bulan Juli terutama pada prospek pertumbuhan yang mengecewakan. Valuasi jelas tidak mendukung dan sentimen investor semakin tertekan. Dengan level forward P/E di 19,2x, sektor ini terus diperdagangkan lebih dari satu deviasi standar di atas rata-rata P/E 10 tahun dari 16,2x. Kami percaya bahwa penilaian keseluruhan untuk sektor ini mencerminkan skenario yang menjanjikan dalam teknologi baru dan berkembang. Dengan demikian, investor harus berhati-hati.


EM High Yield Bonds Upgraded

“Kami telah menaikkan peringkat obligasi high yield Emerging Market menjadi overweight seiring dengan valuasi yang menarik, terutama untuk obligasi high yield Asia, didukung oleh fundamental yang sehat dan tingkat default yang rendah.”

- Johan Jooste, Chief Investment Officer, Bank of Singapore


Hal-hal Utama
 

  • Obligasi Negara Berkembang menampilkan salah satu performa terburuk pada 1H 2018. Performa buruk tersebut terjadi karena beberapa faktor, antara lain: suku bunga yang menanjak, dolar AS yang kuat, ketegangan perdagangan, meningkatnya harga minyak dan kekhawatiran mengenai pengetatan kuantitatif Fed.
  • EM High Yield bonds look attractive
  • Meski peningkatan suku bunga sudah diprediksi sejak awal tahun 2018, laju kenaikannya tidak dapat diprediksi. Investor telah menantikan kenaikan 50 basis poin secara berkala pada imbal hasil obligasi 10 tahun AS hingga akhir tahun 2018. Meskipun demikian, ketakutan terkait kenaikan inflasi telah terlihat begitu memasuki awal tahun ini.
  • Selama beberapa bulan mendatang, kami percaya bahwa suku bunga tidak memberikan hambatan pada kinerja pendapatan tetap. Imbal hasil AS 10-tahun pada dasarnya telah berkisar pada kisaran antara 2,8 hingga 3 persen selama beberapa bulan terakhir, menunjukkan bahwa investor lebih nyaman dengan arah inflasi dan suku bunga.
  • Demikian pula, sementara kami mengharapkan dolar AS yang kuat tetap menjadi penghambat, kami tidak mengharapkan depresiasi mata uang negara berkembang yang terjadi pada semester pertama 2018.
  • Selain itu, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di pasar negara berkembang global tampak memadai. Selain itu, dari aspek bottom-up, neraca perusahaan telah menunjukkan peningkatan selama beberapa kuartal terakhir dengan tingkat default masih di bawah rata-rata historis.
  • Pada level saat ini, kami percaya bahwa valuasi untuk obligasi high yield negara berkembang tampak menarik.
  • Prefer High Yield to Investment Grade
  • Secara keseluruhan, kami menyarankan obligasi high yield daripada obligasi investment grade seiring credit spread yang seharusnya menyediakan buffer terhadap kenaikan suku bunga.
  • Obligasi high yield negara berkembang diharapkan berkinerja yang lebih baik pada semester kedua 2018 setelah performa paruh pertama yang buruk. Obligasi negara berkembang dengan investment grade mengalahkan kinerja obligasi high yield pada semester pertama 2018, dimana hal tersebut merupakan kebalikan dari yang terjadi di negara maju.
  • Kami tidak percaya bahwa ini merupakan indikasi adanya permasalahan sistemik pada obligasi high yield negara berkembang, tapi lebih karena adanya pengaruh permasalahan yang berbeda.
  • Pada semester kedua 2018, kami mengharapkan obligasi negara berkembang high hyield mengalahkan performa obligasi investment grade, didukung oleh fundamental kredit yang masih mendukung dan valuasi yang lebih menarik. Di antara obligasi high yield negara berkembang, Asia adalah wilayah favorit kami.
  • Cautious on Investment Grade bonds
  • Obligasi investment grade menghadapi hambatan ganda dari kenaikan suku bunga Fed yang stabil, bersama dengan kekhawatiran suplai yang datang dari melemahnya keuangan pemerintah dan neraca Fed yang menyusut.
  • Meskipun kurva imbal hasil akan menjadi rata dalam beebrapa tahun mendatang, kami memperkirakan imbal hasil dengan tenor yang lebih panjang untuk mengarah lebih tinggi seiring dengan pengetatan the Fed. Ini dapat menyebabkan tingkat imbal hasil yang buruk pada obligasi Investment Grade.
  • Fed to continue hiking rates and ECB to start hikes in 3Q 2019
  • Kami memperkirakan Fed akan melakukan pengetatan dua kali lebih banyak pada tahun ini dan empat kali pada 2019, dengan suku bunga yang akan menjadi hambatan pada pertumbuhan sebelum akhir tahun depan.
  • Di tempat lain, ECB berencana untuk menghentikan pembelian aset pada akhir 2018, dengan kenaikan suku bunga diperkirakan akan dilakukan di 3Q 2019. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan kebijakan untuk Italia akan berkurang.


Oil Prices Face a Supply Drag

“Reaksi dari sisi produsen terhadap prospek untuk produksi yang lebih menguntungkan akan membatasi batas kenaikan harga minyak, kecuali situasi geopolitik memburuk dengan signifikan.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Hal-hal Utama
  • Oil
  • Meskipun isu geopolitik terus berlanjut, terutama antara Iran dan AS, harga minyak telah terkoreksi karena ekspektasi bahwa OPEC akan meningkatkan pasokan jika diperlukan untuk mencegah harga minyak naik lebih tinggi.
  • Permintaan minyak didukung oleh siklus ekonomi global, tetapi ada juga kekhawatiran bahwa perang dagang akan berdampak pada permintaan pasar terhadap minyak, yang juga akan menjadi pembeban pergerakan harga.
  • Peningkatan produksi minyak AS – ke level rekor – adalah faktor positif pada supply secara keseluruhan, namun dalam beberapa bulan terakhir kekhawatiran geopolitik telah menjadi faktor mempengaruhi harga.
  • Pada akhirnya, reaksi produsen terhadap prospek produksi yang lebih menguntungkan harus membatasi kenaikan harga kecuali situasi geopolitik memburuk secara signifikan.
  • Gold
  • Emas tidak menjadi primadona sebagai aset safe-haven untuk saat ini. Dalam sebulan terakhir, ketakutan perang dagang telah meningkat dan harga emas melemah. Hubungan inverse antara dolar AS - emas adalah yang terkuat sejak Krisis Keuangan Global sementara sensitivitas emas terhadap suku bunga terlihat berkurang.
  • Memiliki sejumlah emas masih perlu untuk mendiversifikasi gejolak global yang lebih signifikan.
  • Kami memprediksi emas untuk terkonsolidasi dalam jangka pendek. Namun, kembalinya downtrend dolar AS akan mengangkat harga emas melawan tekanan dari pengetatan kebijakan moneter secara bertahap oleh bank-bank sentral utama.
  • Currency Outlook
  • Pendorong pergerakan dolar AS dari posisi hawkish Fed telah menghilang. Dolar AS sekarang bergerak dalam kisaran yang ditentukan. Isu jangka pendek di pasar mata uang tidak cukup untuk keluar dari kisaran tersebut. Mungkin bermanfaat bagi investor untuk tetap lincah dan fleksibel untuk memanfaatkan perubahan yang disebabkan oleh berita utama yang tidak khas.
  • Selain itu, kami juga mengharapkan Aussie dan Kiwi, sebagai proxy ke China dan Emerging Markets (EM) Asia, untuk melemah terhadap Dolar AS.
  • Dengan dua lagi kenaikan suku bunga oleh Fed pada tahun 2018 (4 kali kenaikan pada 2018) ekspektasi pasar saat ini, pergeseran ekspetasi menjadi tiga kali kenaikan dapat memicu pelemahan Dolar AS.
  • Eskalasi lebih lanjut pada sisi perdagangan China-AS akan secara negatif menekan nilai tukar EM Asia. Namun demikian, penting dicatat bahwa fundamental yang mendasari nilai tukar EM Asia (tidak termasuk China) telah membaik.
  • Outflow portofolio dari Asia pada dasarnya telah dibatasi, dan kami mulai mengamati beberapa pembangunan momentum arus masuk di seluruh Asia. Bank-bank sentral Asia juga tampak berada pada langkah pengetatan lagi. Faktor-faktor ini harus berfungsi untuk memperkuat mata uang EM Asia (tidak termasuk China). Namun, uptrend Dolar AS terhadap Renminbi tetap utuh, dan ini mengancam akan menjadi hambatan pada mata uang Asia EM.
  • Kami mengharapkan dolar Singapura untuk melakukan perdagangan dalam jangka pendek versus dolar AS. Dengan tingkat inflasi Juni meningkat secara mengejutkan, kami pikir Otoritas Moneter Singapura (MAS) dapat mengetatkan kebijakan pada pertemuan Oktober mendatang, terutama jika inflasi inti tumbuh menuju batas 2 persen.

Journey to the East

Meningkatnya intensitas perang dagang di bulan September mengakibatkan pasar modal bergejolak. Trump masih berupaya untuk mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan lawan negosiasinya. Selain US$ 200 milyar yang sudah direncanakan, Trump sedang mengkaji wacana kenaikan tarif terhadap US$ 267 milyar produk impor lainnya. Jika pasar saham negara berkembang bergejolak, tidak halnya dengan pasar saham AS yang terus melanjutkan tren penguatannya.

Sementara itu, tren kenaikan suku bunga Fed, pertumbuhan ekonomi AS yang positif, serta meningkatnya risiko perang dagang telah mengakibatkan mata uang Dolar AS terus menguat. Hal ini menyebabkan beberapa negara berkembang yang memiliki twin deficit pada fiskal dan neraca berjalan, mengalami pelemahan mata uang yang cukup dalam. Pelemahan ini mengakibatkan negara seperti Turki, Argentina dan Afrika Selatan memasuki resesi di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tingkat inflasi yang meningkat, sehingga terdapat risiko penularan terhadap negara berkembang lainnya. Namun kondisi setiap negara berkembang di Asia tentunya berbeda, dan tidak dapat dibandingkan secara mutlak dengan negara-negara tersebut di atas. Karena faktanya negara-negara di Asia memiliki fundamental yang jauh lebih baik, meskipun harus diakui ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan yaitu twin deficit yang saat ini juga dialami walaupun dengan skala yang jauh lebih kecil.

Di sisi lain, mayoritas negara-negara berkembang di Asia mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan sejak awal tahun seiring meningkatnya sentimen negatif dari perang dagang. Akan tetapi di saat yang bersamaan, koreksi ini telah mendorong turunnya valuasi dari beberapa negara di Asia dengan fundamental ekonomi yang baik dan target pertumbuhan laba double digit.

Dari dalam negeri, paska empat kali kenaikan suku bunga, Rupiah terus terdepresiasi hingga menyentuh level tertinggi dalam 20 tahun terakhir di 14,953 seiring dengan tren penguatan Dolar AS dan meningkatnya permintaan Dolar AS untuk pembayaran utang korporasi. Pemerintah pun berupaya mengatasi pelemahan selain melalui intervensi, namun dengan menetapkan larangan dan batasan untuk sejumlah barang impor, yang diharapkan dapat membantu mengurangi permintaan Dolar AS di pasar dan memperbaiki defisit neraca berjalan.

Sentimen Pilpres yang pada tiga periode Pemilu lalu berhasil mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar saham diperkirakan akan kembali menjadi katalis positif bagi pasar saham memasuki kuartal IV. Sehingga, kami menilai dengan fundamental ekonomi yang relatif cukup baik, valuasi yang murah untuk Rupiah dan pasar saham, serta estimasi pertumbuhan laba double digits di kisaran 12 persen, maka pasar saham berpotensi untuk mengalami rebound.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Indeks Harga Saham Gabungan berhasil membukukan kenaikan 1,38% di bulan Agustus, walaupun sempat turun cukup dalam di pertengahan bulan akibat berita krisis di Turki. Kenaikan ini ditopang oleh aksi beli investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama yang memiliki fundamental yang baik dengan valuasi yang murah paska terkoreksi.

Secara valuasi, price-to-earnings ratio IHSG berada di kisaran 15,16 kali, masih dibawah rata – rata valuasi lima tahun terakhir di level 16.35 kali, sehingga merupakan level yang cukup menarik terutama dengan estimasi pertumbuhan laba 2018 di sekitar 12%.

Menjelang akhir kuartal III, katalis positif selain datang dari sentimen Pilpres, seasonality akhir tahun yang secara historis berhasil mendongkrak kinerja pasar saham perlu diperhitungkan. Sektor unggulan di masa Pemilu seperti konsumer walaupun defensif namun saat ini telah mengalami penurunan cukup dalam. Sehingga, kami menilai penurunan ini akan menjadi entry point yang menarik untuk mengakumulasi reksa dana saham.



Obligasi

Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun menyentuh titik tertinggi di level 8,6% pada awal bulan September 2018. Investor asing kembali mencatatkan sell-off di bulan Agustus seiring dengan pelemahan Rupiah. Meskipun demikian, stabilisasi mata uang yang dilakukan oleh Bank Indonesia, berhasil meredakan tekanan jual dan membawa imbal hasil kembali ke level 8,5%.

Pergerakan pasar obligasi akan ditentukan oleh potensi kenaikan suku bunga Fed di bulan September hingga Desember, dimana pasar mengekspektasikan adanya kenaikan suku bunga Fed 25bps di bulan September. Hal ini akan menentukan langkah kebijakan suku bunga 7Day Reverse Repo Rate oleh Bank Indonesia pada pertemuan di 27 September.

Dengan mempertimbangkan Rupiah yang sudah cukup terdepresiasi, stabilnya fundamental ekonomi Indonesia, serta menariknya real yield obligasi Indonesia saat ini, kami memperkirakan imbal hasil obligasi 10 tahun akan berada di kisaran 7,7 hingga 8 persen untuk 2018. Kenaikan imbal hasil di atas 8,5 persen atau terjadi pelemahan pada harga obligasi, dapat dimanfaatkan sebagai entry point untuk mengakumulasi obligasi pemerintah terutama di durasi jangka pendek hingga menengah untuk memitigasi risiko penurunan akibat kenaikan suku bunga.



Currency

Meningkatnya risiko perang dagang dan krisis negara emerging mengakibatkan Dolar AS menguat dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.

Risiko spillover terlihat meningkat terutama terhadap negara-negara berkembang lainnya yang juga memiliki twin deficit. Defisit yang terus melebar akan menambah beban pemerintah dalam Dolar AS untuk membiayai pembayaran internasional dan fiskal.

Sterilisasi dan intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia di pasar mata uang dan obligasi berhasil membuat Rupiah bergerak stabil di kisaran 14,800 – 14,850 per Dolar AS, setelah menyentuh level terendah dalam 20 tahun terakhir di 14,953.

Selain itu, pemerintah juga aktif memperbaiki posisi neraca berjalan dan perdagangan Indonesia dengan menggenjot ekspor dan membatasi impor salah satunya dengan kebijakan B-20 dan pembatasan impor barang mewah untuk sementara waktu. Kami memperkirakan bahwa Rupiah masih akan bergejolak di kisaran 14.600 hingga 14.700 dalam tiga bulan ke depan seiring dengan rencana kenaikan suku bunga AS.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



GLOBAL OUTLOOK

Pertumbuhan Solid

“Risiko mudah untuk ditemukan tetapi sepertinya tidak akan membebani ekonomi dunia, yang masih terlihat sehat dan masih didukung oleh pelonggaran kebijakan.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore

Pertumbuhan tetap sehat hampir di seluruh sektor perekonomian. Tekanan pada beberapa negara berkembang terlihat nyata, namun tekanan tersebut berdampak kecil terhadap pertumbuhan ekonomi negara maju. Kondisi kebijakan stimulus dan kurangnya keseimbangan struktural menunjukkan risiko rendah terhadap perlambatan pertumbuhan yang serius selama 12-18 bulan

Tentu saja, selalu ada ketidakpastian seperti kenaikan tingkat suku bunga AS, gesekan perdagangan dan anggaran Italia, dan dapat dikatakan bahwa risiko-risiko ini dan kejadian acak lainnya yang selalu terjadi dapat berpotensi untuk menyebabkan gangguan. Akan tetapi, semua itu sepertinya tidak akan membebani siklus perekonomian global untuk 12-18 bulan ke depan.

Amerika Serikat
Perekonomian AS terus melanjutkan kinerja yang kuat di semester pertama 2018, dengan pertumbuhan di level 2,7% dari awal tahun ini. Perpaduan antara pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan fiskal tetap mendukung dan akan menopang kelanjutan dari tren pertumbuhan untuk setidaknya satu tahun lagi. Ada beberapa pertanyaan untuk 2020, ketika suku bunga mulai naik dan kemungkinan kebijakan fiskal menjadi hambatan untuk pertumbuhan, tetapi itu semua masih terlalu jauh untuk dipastikan.

Gangguan di beberapa negara berkembang sepertinya tidak akan terlalu berdampak terhadap perekonomian AS. Sama halnya, risiko dari kenaikan tarif perdagangan yang berdampak terhadap NAFTA atau Eropa tampaknya mulai mereda, hanya meninggalkan fokus terhadap China. Sekitar 20%  produk impor AS datang dari China, tetapi ini hanya 3% dari PDB, maka dampak dari eskalasi tarif ini akan membuat tidak nyaman untuk beberapa sektor, tetapi secara kesuluruhan dampaknya dinilai cukup terbatas.

Eropa
Beberapa indikator dari Eropa tetap sehat, meskipun sedikit melambat dari pada fase pertumbuhan yang cepat di 2017. Sentimen bisnis dan konsumsi cukup moderat tetapi masih berada di level yang kuat dan menuju ke ekspansi yang solid.

Ketidakpastian politik berlanjut di Italia, di mana anggaran selanjutnya – yang rinciannya akan diumumkan di bulan September–akan menunjukkan apakah pemerintah akan menghentikan penghematan fiskal yang telah menstabilkan keuangan publik dalam beberapa tahun terakhir. Risiko ini dapat menimbulkan konflik dengan Uni Eropa dan dapat memberikan ketegangan baru di pasar obligasi regional. Melakukan peralihan kebijakan seiring bank sentral Eropa (ECB) yang mulai melakukan pengetatan terlihat berpotensi menimbulkan permasalahan.

Brexit merupakan risiko lain, meskipun lebih spesifik. Rencana awal untuk mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa di pertemuan bulan Oktober terlihat kecil kemungkinannya. Negosiasi pihak Uni Eropa sering kali melibatkan kompromi yang terjadi di saat terakhir, yang dapat meberikan dampak buruk ke pasar keuangan. Bahkan untuk saat ini, menemukan suatu solusi yang dapat memenuhi kebutuhan partai Konservatif, parlemen Inggris secara keseluruhan dan Uni Eropa terlihat sangat sulit.

Jepang
Ada kebijakan yang menjanjikan di Jepang, dengan perdana Menteri Abe tetap di posisi saat ini sampai Olimpiade 2020. Akan tetapi, perbaikan ekonomi kehilangan momentum dan rancangan undang-undang pasar buruh yang terbaru – yang masih jauh dari radikal – mungkin menjadi bagian terakhir dari legislasi.

China
Sebagai target utama dari perang dagang AS, China secara proaktif melonggarkan kebijakan untuk menyeimbangkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi terhadap pertumbuhan. Pihak yang berwenang telah mengambil langkah untuk memudahkan akses perkreditan, menurunkan biaya pinjaman dan melonggarkan kebijakan fiskal. Stimulus jangka pendek ini sangat efektif di masa lalu dan saat ini seharusnya dapat membatasi potensi penurunan. Akan tetapi, hal ini akan memberikan konsekuensi yang tidak menguntungkan terhadap upaya untuk mengendalikan gelembung kredit – yang telah mendapatkan daya tarik selama hampir 18 tahun – tetapi akhir akhir tahun ini telah diperjelas bahwa mempertahankan laju pertumbuhan yang memadai dalam jangka pendek akan lebih diprioritaskan dibandingkan tujuan untuk mengamankan stabilitas jangka panjang.
Sejauh ini, perlambatan pertumbuhan di tahun 2018 sepertinya merefleksikan pengetatan kondisi perkreditan yang merupakan bagian untuk menekan kelebihan pinjaman, daripada mengantisipasi kenaikan tarif AS. Akan tetapi, pembatasan terhadap USD 250 miliar ekspor (sekitar 2% dari PDB China) dan dibatasinya akses terhadap teknologi AS sepertinya akan membebani pertumbuhan untuk tahun mendatang.
 
Negara Berkembang
Peningkatan suku bunga AS menghadirkan suatu tantangan untuk negara berkembang di mana defisit eksternal menghasilkan kebutuhan pendanaan yang signifikan. Untungnya, ini hanya berlaku pada sebagian kecil negara, dipimpin oleh Argentina dan Turki. Skala ini tidak cukup besar untuk menjadi risiko sitemik, terutama seiring beberapa negara telah memperbaiki proses pembuatan kebijakan ekonomi setelah tekanan dari “taper tantrum” di tahun 2013. Hal ini memberikan alasan untuk negara berkembang dengan laju pertumbuhan yang cepat untuk menjalankan defisit neraca perdagangan yang moderat, karena mereka menawarkan prospek keuntungan investasi yang lebih baik, sehingga dapat menarik modal asing.

Asia terlihat merupakan tempat yang baik untuk menahan tekanan terhadap negara berkembang dari kenaikan tingkat suku bunga AS, yang sebagian besar negara memiliki surplus eksternal. Bahkan Indonesia secara proaktif menaikkan suku bunga untuk mencoba menghindari penularan dari Turki. Kenaikan tarif AS terhadap barang ekspor China lebih berisiko, karena kebanyakan ekspor negara-negara Asia ke China cukup bergantung pada permintaan dari AS. Kebanyakan negara di kawasan Asia mempunyai aturan yang cukup fleksibel untuk merespon tekanan pihak luar dan membatasi dampak secara keseluruhan terhadap pertumbuhan.







 


Equities

Positive Asia 

“Seiring dengan aksi sell-off di pasar saham Asia, kami melihat risk-reward yang positif di negara berkembang seiring dengan valuasi yang lebih menarik, dan telah meningkatkan alokasi aset kami ke posisi yang overweight.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore

Kami cenderung positif untuk Asia setelah MSCI Asia ex-Japan terkoreksi 14% dari titik tertinggi pada akhir Januari 2018, dan memberikan perbedaan yang signifikan antara performa pasar saham AS dan Asia. Pihak berwenang China juga menunjukkan kesediaan untuk melakukan tindakan untuk melindungi perekonomian dan menstabilkan Yuan, yang sangat berpengaruh terhadap Asia. 

Karena peningkatan terhadap pasar saham Asia, saat ini kami mempunyai posisi overweight terhadap saham. Secara geografis, saat ini kami overweight di China, netral di AS dan Eropa, dan underweight di Jepang.

Dengan pertumbuhan ekonomi dan laba yang sehat, kami percaya bahwa kedua hal ini menjadi alasan untuk condong ke saham walaupun dengan suku bunga terus meningkat. Meskipun demikian, dengan latar belakang kenaikan suku bunga, kami tidak berharap valuasi saham global untuk kembali menguji level tertingginya. Dengan demikian, ekspektasi pertumbuhan laba tetap menjadi pendorong utama. Konsensus 2019 untuk estimasi pertumbuhan laba atau EPS tetap berada di level 9,5%. 

United States
Keuntungan dari laba yang melebihi estimasi, guidance yang positif, dan percepatan aktivitas investasi, pasar saham AS menyentuh level tertinggi meskipun meningkatnya ketegangan geopolitik dan risiko perang dagang. Drama yang terjadi di Gedung Putih terlihat memberikan dampak yang terbatas sejauh ini. Buybacks telah menjadi pendorong utama. Akan tetapi, meskipun dengan hasil dan guidance yang positif, konsensus estimasi laba perusahaan 2018 dan 2019 tetap tidak berubah (dengan pertumbuhan EPS 2019 diprediksi di level 10,6%). Ini mengindikasikan bahwa ekspektasi sudah tinggi dan pendorong tambahan diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan pandangan dan pasar ke depannya. Valuasi untuk AS tetap menarik di seluruh wilayah yang kami lacak. Kami mempertahankan sikap netral di sini. 

Eurozone
Terkena dampak yang besar dari perkembangan yang terjadi di Turki, saham Eropa menghadapi bulan yang sulit di Agustus. Pelemahan lira dipicu oleh kekhawatiran eksposur perusahaan-perusahaan Eropa. Peminjam dari Spanyol, Prancis, dan Italia terlihat rentan. Hasil laba perusahaan yang mixed di Q2 tidak banyak membantu. Estimasi konsensus EPS tidak banyak berubah dengan pasar melihat pertumbuhan 9,7% untuk laba perusahaan di 2019. Outlook pertumbuhan cukup moderat pada beberapa bulan terakhir, tetapi pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung di kawasan Eropa tetap berlangsung. Namun, kekhawatiran atas dampak perang dagang terhadap prospek pertumbuhan tetap ada. Berita politik masih menjadi risiko di regional Eropa.

Jepang
Meskipun dengan hasil laba yang positif, saham Jepang terlihat kembali melambat di bulan Agustus. Laju pertumbuhan pembelian ETF terlihat berkelanjutan dan kebijakan bank sentral Jepang (BOJ) terhadap kebijakan pasar yang baru dapat mengindikasikan adanya perlambatan konsumsi. Menurut Bloomberg, BOJ telah menahan kepemilikan saham lebih dari 10% di 27 perusahaan yang terdaftar. Dengan kekhawatiran terkait dampak pada laba perusahaan akibat dari perselisihan perdagangan dan potensi menguatnya Yen, konsensus tahun pertama di 2019 menunjukan pertumbuhan laba perusahaan tetap tidak berubah meskipun estimasi laba perusahaan melebihi estimasi saat ini. Valuasi saat ini relatif tertekan dibandingkan dengan negara maju lainnya. Oleh karena itu, setiap peningkatan dalam prospek pertumbuhan dapat memberikan hasil positif. Meskipun demikian, kami mempertahankan pandangan bahwa re-rating berkelanjutan di pasar akan memerlukan reformasi struktural yang lebih berarti untuk meningkatkan pertumbuhan secara keseluruhan.

Asia Ex jepang
Sementara perkembangan di Turki tidak membantu risk appetite di negara berkembang, saham Asia ex-Jepang terlihat mulai stabil di bulan Agustus. Saham China mengalami penurunan terbesar dan Filipina dan Tailand bergerak cukup stabil. Musim pelaporan kinerja dimulai dengan kurang baik tetapi konsensus laba perusahaan yang dipangkas mulai bergerak stabil. China yang secara proaktif melakukan pelonggaran di minggu terakhir telah mulai memperbaiki perlambatan pertumbuhan. Pihak berwenang telah mengambil langkah untuk mempermudah akses kredit, menurunkan biaya pinjaman dan melonggarkan kebijakan fiskal. Sementara itu, valuasi telah kembali ke tingkat yang lebih netral menyusul aksi jual baru-baru ini. Secara keseluruhan, kondisi keuangan untuk kawasan Asia terlihat lebih stabil. Kami menaikkan outlook kawasan Asia dari netral ke positif. Akhir yang akan datang dari pelonggaran kebijakan dan perang perdagangan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara AS dan China tetap menjadi risiko utama bagi kawasan ini.

Singapura
Melihat ke depan, pasar masih akan berfokus pada situasi perdagangan yang dapat memberikan sentimen dalam jangka waktu dekat hingga menengah. Bila melihat kembali aspek fundamental, indeks PMI untuk negara maju dan tren kinerja perusahaan secara umum positif. Koreksi pasar belakangan ini telah membawa valuasi ke level yang lebih menarik. Dalam dekade terakhir, Straits Times Index (STI) diperdagangkan di bawah -1 standar deviasi (SD) price-to-book (PB) hanya dua kali. Ini adalah selama Krisis Keuangan Global 2008/2009 dan periode devaluasi renminbi 2016. Pasar Singapura saat ini diperdagangkan pada -1SD PB atau PB sekitar 1 kali. Dengan perkiraan hasil dividen sebesar 4,2%, kami percaya bahwa koreksi saat ini adalah waktu yang tepat untuk secara perlahan mengumpulkan saham berkualitas.



Bonds

Positive EM high yield bonds

“Sejarah memperlihatkan saat terbaik untuk membeli surat hutang negara berkembang adalah saat penurunan harga menunjukan pesimisme yang besar dibandingkan dengan fundamentalnya”

- Eli lee

Dalam lingkup pendapatan tetap, kami memprediksi Yield US Treasury 10 tahun akan naik secara bertahap. Oleh karena itu, di level saat ini kita harus lebih berhati – hati terhadap risiko durasi.

Kami lebih suka obligasi high yield negara berkembang, dan melihat kobinasi valuasi yang menarik, fundamental bottom – up yang sehat, pertumbuhan ekonomi yang memadai akan memimpin arah penguatan pasar negara berkembang untuk jangka yang lebih panjang.

Neraca keuangan korporasi negara berkembang secara umum telah berkembang dalam beberapa kuartal terakhir, dengan tingkat gagal bayar diharapkan masih dibawah rata – rata historis.

Untuk jangka pendek, penguatan mata uang USD masih menjadi penghambat, terutama dengan tensi dagang yang terus berlanjut, posisi neraca berjalan di negara berkembang secara umum menguat semenjak AS menghentikan stimulus (taper tantrum) di 2013, dan valuasi mata uang negara berkembang secara lebih keseluruhan juga sejalan dengan fundamentalnya.

Pandangan terhadap suku bunga
The Fed sepertinya akan melanjutkan kenaikan tingkat suku bunga secara bertahap, jika tingkat inflasi masih tinggi. Setelah beberapa tahun berada di bawah target 2% The Fed, inflasi yang lebih tinggi selama berada di level moderat dinilai belum akan mendorong reaksi keras dari The Fed. Di pertengahan 2019, walaupun dengan suku bunga Fed di 3%, belum tentu tingkat inflasi akan lebih tinggi dan tingkat pengangguran lebih rendah dari kondisi saat ini, maka Fed akan tetap menaikkan suku bunga sampai dengan tahap yang memberikan dampak nyata. Kami melihat enam kali kenaikan hingga akhir 2019 – dan siklus pengetatan kebijakan Fed tidak akan berhenti saat memasuki level netral. Sama halnya untuk yield obligasi AS 10 tahun, kami melihat yield 10 tahun  akan naik secara bertahap ke level 3,4% dalam 12 bulan ke depan.

Di Zona Euro, walaupun inflasi tetap rendah, ECB terlihat tetap nyaman dengan rencana pembelian asset yang akan selesai pada akhir 2018, dan menaikkan suku bunga pada Q3 2019. Mengikuti rencana Fed, kebijakan pengetatan akan dilakukan secara bertahap, walaupun ECB secara institusi kemungkinan lebih hawkish dibandingkan Fed.

Di Jepang, BOJ akan melanjutkan untuk mengejar target inflasi 2%. Inflasi terlihat stabil, setelah kebijakan radikal yang diimplementasikan oleh Gubernur Kuroda, namun momentum kenaikan terlihat terbatas. BOJ akan terus melihat waktu yang tepat untuk kemungkinan pengetatan namun terus berjuang untuk mencari jalan mempercepat meraih tujuan.

Berharap kinerja yang lebih baik dari segmen obligasi korporasi negara berkembang
Kami berharap kinerja yang lebih baik kedepan dan menilai bahwa kinerja Agustus yang kurang baik merupakan gejolak di jalan. Efek penyebaran jangka panjang dari Turki seharusnya juga terbatas. Pertumbuhan ekonomi masih memadai dan kinerja operasional korporasi terlihat cukup kuat untuk melanjutkan tren beberapa tahun terakhir. Tingkat gagal bayar juga masaih rendah dibandingkan stadar historis. Sementara itu, turunnya spread membuat valuasi lebih menraik.

Overweight pada obligasi korporasi negara berkembang
Setelah penurunan harga akhir-akhir ini, kami percaya antara risiko dan imbal hasil pada obligasi korporasi negara berkembang sudah kembali menarik. Berdasarkan valuasi historis untuk obligasi high yield negara berkembang dan dihadapkan dengan investasi negara berkembang Investment Grade dan obligasi high yield AS, tingkat tekanan obligasi yang rendah dan level gagal bayar yang rendah secara historis, menjadi pendukung rekomendasi kami.



FX & COMMODITIES

Positive US Dollar drivers

“Mata uang USD untuk jangka pendek masih akan didukung oleh perkembangan global, yang akan mempengaruhi risk appetite secara negatif.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Oil
Harga minyak mulai diperdagangkan di rentang yang relatif sempit antara USD 65 dan USD 75/barrel dalam WTI. Harga dapat naik untuk sementara ketika ada ketidakpastian geopolitik, tetapi kenaikan dibatasi oleh ancaman respon pasokan dari produsen AS. Sebaliknya, ketika ada penurunan – kemungkinan menanggapi perang perdagangan – secara mengejutkan penurunan cukup terbatas seiring dengan kebijakan OPEC. Harga saat ini tidak terlalu signifikan berdampak untuk perekonomian global bahkan dampak pada inflasi akan memudar dalam beberapa bulan mendatang karena efek dasar tersebut.

Emas
Setelah menyentuh rekor di bawah angka psikologis USD 1200 per ounce pada pertengahan Agustus, harga emas telah kembali rebound. Kemungkinan akan ada ruang untuk kenaikan harga emas seiring dengan posisi jual emas terlihat masih berlangsung dan dapat melemah jika kekuatan Dolar AS kehilangan momentum. Masih masuk akal untuk mengharapkan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih lambat dalam waktu satu tahun karena berakhirnya kebijakan fiskal dan karena kenaikan suku bunga Fed yang dapat menahan pertumbuhan. Pelemahan USD dapat kembali melemah dan memberikan keuntungan terhadap emas. Prediksi harga emas dalam 12 bulan ke depan berada di level USD 1250/ounce.

Outlook Mata uang
Kami berpikir bahwa USD akan tetap didukung oleh perkembangan global yang akan datang, yang akan berpengaruh negatif terhadap risk appetite. Meskipun perkembangan negosiasi antara AS dengan negara mitra dagangnya seperti Eropa dan Amerika Utara, permasalahan utama adalah hubungan dagang AS- China. Meskipun pembicaraan tetap berlangsung, perkembangannya sangat terbatas. AS berpikir ada di posisi yang lebih baik terkait perang dagang, kami memperkirakan hubungan dagang AS-China akan  memburuk dan mendorong penguatan USD sebagai mata uang safe-haven. Pengurangan utang berkala dan pengurangan risiko dari negara berkembang juga akan mendukung mata uang negara G7, terutama USD.

Di sisi lain, potensi risiko melemahnya USD bisa menjadi masalah hukum dari rekan lama Trump, Paul Manafort dan Michael Cohen, yang kemungkinan dapat melibatkan Presiden Trump sendiri. Ke depannya, jika situasi politik di AS terus berlanjut menjelang pemilihan tengah pemerintahan pada bulan November, kami berharap USD akan tertekan.

Di Asia, semua mata tertuju pada Renminbi China (RMB) yang menjadi pendorong utama pergerakan pasar mata uang Asia. Sementara RMB telah stabil setelah kebijakan keuangan bank sentral China (PBoC), belum terlihat perubahan arah yang diharapkan banyak orang. Kami tidak mengharapkan mata uang kawasan Asia mengalami sell-off seperti Lira Turki dan Peso Argentina seiring negara-negara Asia secara umum mempunyai fundamental yang lebih baik. Meskipun demikian, kami berharap mata uang kawasan Asia dengan defisit perdagangan, seperti Rupee India dan Rupiah Indonesia akan berdampak lebih buruk dibanding negara Asia lainnya.

Di tempat lain, kami tetap berpandangan negatif terhadap mata uang Australia dan New Zealand karena siklus dan eksposur ke kawasan Asia. Sementara untuk Yen dan Swiss Franc, keduanya akan diuntungkan dalam jangka waktu dekat jika berita terkait negara berkembang dan perdagangan AS masih negatif.

Riding on The Late Cycle

Sejumlah risk event utama terjadi di bulan September, seperti kenaikan suku bunga AS ketiga kalinya di 2018, berlakunya tarif AS yang baru terhadap barang impor dari China sejumlah US$250 milyar, serta kenaikan suku bunga acuan dalam negeri.

Kenaikan suku bunga AS telah mengakibatkan penguatan Dolar AS kenaikan imbal hasil US Treasury diatas 3%. Menilik data historis, rata-rata imbal hasil US Treasury selama 18 tahun terakhir berada di kisaran 3.5%, sehingga kami menilai normalisasi kebijakan AS ini masih akan mendorong kenaikan yield US Treasury. Kenaikan suku bunga AS ini direspon oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga 7 day reverse repo rate ke 5.75% pada bulan September. Sementara itu, terkait perang dagang AS-China, paska pemberlakuan tarif baru untuk produk impor dari China, terdapat wacana untuk memperluas jumlah ke US$267 milyar barang impor lainnya. Wacana ini mengakibatkan pasar modal bergejolak.

Dari dalam negeri, inflasi dirilis di angka 2.88% untuk y-o-y yang mengindikasikan adanya deflasi pada bulan September sebesar 0.18%. Beberapa komponen bahan pokok mengalami penurunan di beberapa daerah sehingga mengakibatkan terjadi deflasi. Deflasi ini mengakibatkan Rupiah melemah karena dipersepsikan oleh pelaku pasar bahwa kenaikan suku bunga untuk memperkuat posisi Rupiah, akan sulit dilakukan. Selain itu, cadangan devisa bulan September dirilis turun US$3.1 milyar menjadi US$114.8 milyar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Adapun penurunan tersebut disebabkan oleh tingginya pembayaran utang luar negeri pemerintah pada bulan lalu dan stabilisasi nilai tukar Rupiah.

Memasuki kuartal IV di 2018 ini, kami menilai sentimen negatif akan lebih terbatas sehingga pasar modal berpotensi untuk rebound di kuartal ini. Selain itu, penguatan Dolar AS diperkirakan tidak akan berlanjut, terutama dengan ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS di 2019 yang lebih rendah dibandingkan 2018. Secara valuasi baik pasar saham maupun obligasi berada dalam kondisi undervalued terutama dengan Rupiah yang melemah. Sehingga, kami menilai bahwa aliran modal asing akan segera kembali ke pasar saham maupun obligasi Indonesia.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Indeks Harga Saham Gabungan melemah sebesar 0.69% di bulan September. Pelemahan ini diakibatkan oleh sentimen perang dagang dan pelemahan Rupiah. Beberapa sektor yang mencatat pelemahan di bulan September adalah sektor properti, pertanian, dan perdagangan. Sementara sektor konsumsi dan aneka industri membukukan kenaikan di bulan lalu.

Dengan valuasi PE Ratio saat ini di 14.8 kali dibandingkan rata-rata 6 tahun terakhir di 15.9, dan estimasi pertumbuhan laba emiten di 2019 sebesar 10.5% maka kami menilai bahwa pasar saham berada dalam kondisi discounted. Investor dengan profil risiko agresif dan horison investasi jangka panjang dapat mempertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dengan fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar.


Obligasi

Paska kenaikan suku bunga 7 day reverse repo rate di bulan September, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun turun hingga mencapai 8.01%. Akan tetapi pelemahan Rupiah paska dirilisnya data inflasi yang melemah, mengakibatkan yield kembali naik hingga diatas 8.5%. Kenaikan yield juga dipicu oleh kenaikan imbal hasil US Treasury yang mencapai 3.2%, sehingga mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia dalam mata uang Dolar AS dan Rupiah.

Sementara itu, investor asing selama bulan September membukukan penjualan bersih di kelas aset obligasi senilai Rp 3.2 trilyun. Namun sejak awal tahun 2018, masih membukukan net inflow sebesar Rp 10.9 trilyun.

Kenaikan imbal hasil saat ini membuat obligasi Rupiah menjadi menarik di mata investor asing terutama dengan real yield yang tertinggi di kawasan regional dibandingkan obligasi investment grade lainnya. Konsensus analis memperkirakan bahwa yield obligasi berpotensi turun pada kuartal I – 2019 di 7.92% atau terjadi kenaikan harga.


Currency

Rupiah melanjutkan pelemahan terhadap Dolar AS di bulan September 1.31% hingga 14,900. Pelemahan ini berlanjut di awal Oktober hingga menyentuh diatas 15,000 untuk pertama kalinya. Penguatan Dolar AS ini mengakibatkan beberapa mata uang di Asia seperti Rupee dan Peso melemah cukup tajam. Sementara itu, non-deliverable forward tenor 1 bulan diperdagangkan diatas nilai 15,400 per Dolar AS. Tren kenaikan permintaan Dolar AS di akhir tahun yang didorong oleh pembayaran utang dan repatriasi laba korporasi berpotensi mendorong pelemahan Rupiah. Namun, memasuki 2019, dimana tren penguatan Dolar AS diperkirakan akan melambat dan normalisasi permintaan terhadap Dolar AS, maka analis memperkirakan bahwa Rupiah berpotensi menguat ke level 14,900 di kuartal I – 2019.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank




“Neraca bank sentral negara maju menyentuh titik tertinggi di bulan September paska pelonggaran kebijakan yang massif selama satu dekade terakhir. Sehingga di bulan Oktober, bank sentral di AS, Eropa dan Jepang akan mulai dengan penyusutan neracanya.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:
  • Bank sentral negara maju akan mulai mengetatkan kebijakannya di bulan Oktober yang dimulai dengan penyusutan neraca
  • Federal Reserve akan memulai mengetatkan kebijakan atau quantitative tightening (QT) untuk memangkas neraca keuangannya. Federal Reserve akan secara bertahap meningkatkan laju pemangkasan hingga US$50 miliar per bulan yang dimulai di bulan Oktober ini.
  • Bank sentral Eropa juga akan mengurangi pembelian aset bulanannya dari EUR30 milyar menjadi EUR15 milyar, sebelum akhirnya menghentikan aktivitas pelonggaran sepenuhnya di akhir tahun. Jepang memilih untuk menentukan target imbal hasil obligasi dibandingkan pembelian aset dalam beberapa tahun terakhir. Pelonggaran kebijakan Jepang diperkirakan sebesar US$20 – US$30 milyar per bulan, dimana angka ini lebih rendah dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
  • Semua hal ini menandakan proses normalisasi dalam jangka panjang paska krisis satu dekade yang lalu, dan sejauh ini, proses ini belum menimbulkan disrupsi yang fatal terhadap perekonomian negara maju ataupun pasar keuangan.

Amerika Serikat
  • Stimulus fiskal akan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi AS yang menguat memasuki 2019. Paska kenaikan suku bunga sebanyak delapan kali, maka kebijakan moneter akan menjadi lebih ketat, namun bukan berarti akan mulai terbatas untuk setahun ke depan. Prospek pertumbuhan ekonomi diperkirakan melemah di 2020, terutama dengan kemungkinan adanya hambatan dari kebijakan fiskal dan moneter.
  • Upah mulai menunjukkan tren kenaikan yang lebih jelas, seiring dengan meningkatnya permintaan akan tenaga kerja. Angka pengunduran diri pekerja akibat pencarian kenaikan upah yang lebih tinggi, mulai berkurang. Korporasi mulai memperhitungkan sebagian kenaikan upah ini ke dalam marjin keuntungan mereka, akan tetapi Federal Reserve mengakui adanya tekanan untuk membebankan biaya kenaikan upah ini kepada harga konsumen. Dengan inflasi inti berada diatas target 2%, maka Fed akan tetap melanjutkan pengetatan kebijakan hingga akhir 2019, namun perubahan ini diperkirakan akan berjalan lambat dan satu kali kenaikan per kwartal dinilai tepat.
  • Paska penerapan tarif impor 10% untuk barang impor dari China sejumlah US$200 milyar tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian AS sebesar US$20 trilyun. Akan tetapi, peningkatan intensitas masih mungkin terjadi dan keluhan atas sektor otomotif akan tetap tak terpecahkan. Kebijakan perdagangan diatur oleh Presiden, sehingga tidak akan terlalu dipengaruhi oleh hasil pemilu jangka menengah.

Eropa
  • Laju pertumbuhan ekonomi Eropa tidak secepat 2017. Akan tetapi, laju kenaikan ini masih cukup untuk menurunkan angka pengangguran, yang mulai mencapai titik kenaikan upah. Sejauh ini, tingkat inflasi belum mengalami kenaikan yang berarti, namun bank sentral Eropa cukup optimis bahwa inflasi akan naik saat siklus pertumbuhan ekonomi mencapai puncaknya.
  • Proses negosiasi Brexit masih belum mencapai kesepakatan internal antara Inggeris dan Uni Eropa. Intensitas negosiasi ini akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan, terutama dengan perlunya kompromi demi menghasilkan kesepakatan kerangka kerja untuk mengawali kesepakatan yang lebih terperinci paska tenggat waktu Maret 2019 mendatang.

Jepang
  • Pemulihan ekonomi di Jepang masih tetap solid dengan meningkatnya profitabilitas perusahaan. Akan tetapi, prospek akan reformasi struktural terbatas. Fokus PM Shinzo Abe terlihat beralih dari masalah perekonomian, walaupun beliau masih menduduki jabatannya untuk tiga tahun ke depan.

China
  • Tarif perdagangan AS yang baru berlaku terhadap impor barang dari China sebesar US$250 milyar, dengan potensi ancaman berikutnya. Keterbatasan akses terhadap teknologi barat akan menghambat pertumbuhan, walaupun sulit dihitung besaran dampak langsungnya. Untuk mengurangi dampaknya terhadap perekonomian, China melonggarkan kebijakan dengan memangkas pajak, kemudahan akses kredit dan meningkatkan belanja infrastruktur.
  • Kontribusi ekspor hanya sekitar seperlima dari perekonomian China, sehingga hal ini dapat diseimbangkan dengan adanya stimulus terhadap perekonomian domestik. Hal ini dapat berdampak pada peningkatan rasio utang terhadap PDB, namun ini lebih merupakan kekhawatiran jangka panjang. Prioritas jangka pendek adalah mempertahankan pertumbuhan laju ekonomi.

 
Negara Berkembang
  • Kenaikan suku bunga AS memberikan tantangan bagi negara berkembang dimana negara dengan defisit eksternal membutuhkan kenaikan permintaan akan pendanaan yang signifikan. Untungnya hal ini hanya berlaku di beberapa negara, dipimpin oleh Argentina dan Turki yang telah mulai mengimplementasikan kebijakan-kebijakan untuk menyeimbangkan ekonomi negaranya.
  • Asia berada dalam kondisi yang relatif kuat untuk mengatasi dampak dari kenaikan suku bunga AS, karena mayoritas memiliki surplus eksternal. Dua negara yang memiliki defisit, Indonesia dan India menghadapi beberapa tantangan, namun hal ini direspon dengan kebijakan yang tepat. Beban tarif impor China yang lebih tinggi merupakan suatu risiko, terutama negara-negara di kawasan ini bergantung pada ekspor ke China, yang ditentukan pula oleh permintaan dari AS, namun hal ini dapat diatasi dengan kemungkinan mengambil alih pangsa pasar dari China, dengan menjual secara langsung ke AS.
  • Di Asia, kebijakan secara umum masih solid, tingkat inflasi masih stabil dan ketidak-seimbangan masih terkendali. Hal ini berarti ekonomi di kawasan ini masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan dan meredam dampak terhadap pertumbuhan.


Source: IMF, Bank of Singapore



 


Rating Jepang dinaikan menjadi netral

“Setelah mengalami tekanan jual selama sebulan, kinerja pasar saham Jepang sangat positif di bulan September dan akan berlanjut di kuartal IV – 2018, walaupun untuk penilaian yang berkesinambungan akan membutuhkan reformasi structural yang lebih bermakna.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Saham-saham global bergerak relatif baik di bulan September. Kekhawatiran perang dagang terus berlanjut dengan tajuk utama dimana Trump membebankan kenaikan tarif sebesar 10% terhadap US$ 200 milyar ekspor China, efektif per 24 September 2018. China merespon dengan tarif baru dari 5% menjadi 10% terhadap impor produk AS senilai US$ 60 milyar. Akan tetapi, dengan para investor mengantisipasi kenaikan tarif sebesar 25% terhadap produk-produk China, saham-saham global bereaksi positif. Selain itu, respon yang tidak proporsional oleh China justru mendukung saham- saham AS untuk menyentuh level tertinggi yang baru.
  • Sementara menunggu dampak menyeluruh dari stimulus China terhadap ekonomi, pertumbuhan kredit di China mulai menunjukkan kestabilan. Kami juga menilai masih adanya ruang untuk pelonggaran kebijakan lebih lanjut jika diperlukan. Jika dampak penuh dari pengetatan kebijakan global masih terlihat, namun valuasi negara berkembang saat ini berada di level netral setelah penjualan masif saat menyentuh level tertinggi di bulan Januari. Sementara itu, laju kenaikan suku bunga Fed akan berlanjut lebih moderat. Secara keseluruhan, dengan latar belakang suku bunga yang lebih tinggi, kami tidak mengharapkan valuasi saham global akan menyentuh level tertinggi sebelumnya. Sehingga, ekspektasi pertumbuhan laba akan tetap menjadi kunci utama. Konsensus pertumbuhan laba 2019 berada tetap di 9.5%. Selain risiko perang dagang yang meningkat, maka dampak pengetatan kebijakan akan menjadi ancaman utama.


Amerika Serikat

  • Pasar saham AS menyentuh level tertinggi di bulan September setelah berupaya menepis dampak perang dagang AS-China yang meningkat dan konflik politik domestik. Sektor kesehatan dan energi memimpin kenaikan pasar. Konsensus pertumbuhan laba 2018 dan 2019 tidak berubah (dengan konsensus 2019 berada di 10.6%). Dengan kinerja saham AS mencapai 10% sejak awal tahun, maka investor akan mencari faktor pendukung lainnya untuk pertumbuhan ekonomi dan kinerja pasar ke depannya. Secara tidak mengejutkan, valuasi AS merupakan yang tertinggi di hampir semua kawasan. Sehingga, kami mempertahankan pandangan netral terhadap AS.


Eropa

  • Kinerja pasar saham Eropa bergejolak di bulan September, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran mengenai Brexit dan anggaran Italia. Presiden ECB, Mario Draghi menilai adanya kenaikan inflasi yang signifikan di zona Eropa, mensinyalkan adanya potensi kenaikan suku bunga pada thun depan. Meskipun indikator Purchasing Manager Index gabungan di bulan September melemah ke 54.2, lebih rendah dari estimasi 54.5, namun konsensus pertumbuhan laba 2019 tetap berada di 9.7%. Secara keseluruhan, pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung di kawasan itu tetap utuh, dan kami mempertahankan sikap netral. Selain dari kekhawatiran tentang perang dagang dan dampakya terhadap perekonomian, masalah politik tetap menjadi risiko utama.
 
Jepang
  • Paska aksi jual selama berbulan-bulan, pasar saham Jepang memiliki performa yang baik di bulan September. Penunjukan ulang Shinzo Abe sebagai pemimpin partai LDP mendukung stabilitas kepemimpinan di Jepang. Kenaikan turut didukung oleh beberapa indikator ekonomi domestik yang positif dan penegasan dari Bank of Japan akan pelonggaran kebijakan. Kami menilai beberapa faktor jangka pendek, seperti perbaikan estimasi pertumbuhan laba akan mendukung, walaupun penilaian ulang yang berkesinambungan akan membutuhkan reformasi struktural yang lebih bermakna. Valuasi pun masih rendah. Kami meningkatkan penilaian Jepang menjadi netral.
 
Asia ex-Japan
  • Sekarang adalah saatnya mendiversifikasi ke dalam pasar saham Asia. Seiring dengan stabilnya data ekonomi global akhir-akhir ini, kekhawatiran para investor berkurang terkait ketegangan perdagangan. Namun, masalah perdagangan tetap menjadi risiko yang serius dan perlu diperhatikan.
  • Ironisnya, pasar saham Asia telah terkoreksi lebih dalam yang disebabkan oleh ketegangan perdagangan selama beberapa bulan terakhir dibandingkan pasar saham AS. Perbedaan ini – kenaikan pasar saham AS dan penurunan pasar saham Asia – lebih diakibatkan oleh penguatan Dolar AS, sehingga membuat saham AS terlihat sebagai aset yang lebih aman. Dengan penguatan Dolar AS yang melambat, penurunan saham Asia dinilai berlebihan dan mengantisipasi kondisi ekonomi dan fundamental yang jauh lebuh buruk. Valuasi saham Asia di titik ini menjadi menarik. Selain itu, pelonggaran kebijakan di China – dengan kredit yang lebih longgar, pajak yang lebih rendah, belanja infrastruktur yang meningkat dan pelemahan Yuan – akan mendorong perekonomian Asia.



Obligasi negara emerging lebih menarik

“Dengan rentang kredit yang tipis, pertimbangkan untuk beralih ke obligasi dengan risiko kredit yang lebih rendah dan fokus ke tenor yang lebih singkat. Setelah penurunan harga akhir-akhir ini, kami menilai obligasi korporasi negara emerging kembali menarik.”

- Eli Lee, Head of Investment Strategy, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Seiring berkurangnya sentiment negatif, pasar negara emerging mulai stabil. Permasalahan di negara emerging tidak berdampak sistemik. Ketidakseimbangan ekonomi tidak menyebar luas dan hanya terjadi pada Argentina dan Turki.
  • Pertumbuhan perekonomian negara emerging cukup kuat, dari sektor riil, neraca korporasi telah membaik beberapa kuartal terakhir dengan level gagal bayar berada di bawah data rata-rata historis.
  • Dalam beberapa bulan terakhir, rentang obligasi negara emerging dengan imbal hasil tinggi (high yield bond) telah meningkat cukup banyak, namun rentang obligasi high yield negara maju tetap diperdagangkan dengan rentang yang cukup rendah. Secara valuasi relatif, kami lebih menyukai obligasi negara emerging dibandingkan negara maju untuk kategori high yield bond. Sehingga, dari perspektif aset alokasi taktis, kami menjadi underweight untuk obligasi high yield negara maju dari sebelumnya posisi netral.
  • Obligasi high yield negara emerging membukukan kenaikan di bulan September yang memberikan kelegaan pada investor obligasi, yang sebelumnya dibayangi kekhawatiran seputar berita politik sepanjang tahun. Indeks obligasi JP Morgan Emerging Market EMBI Broad Index naik hampir 0.8%, merupakan kenaikan kedua dalam tiga bulan terakhir, dengan obligasi high yield naik 2% dan obligasi investment grade turun 0.1%.
  • Kami menilai bulan September adalah gambaran yang tepat untuk kinerja obligasi korporasi negara emerging dalam beberapa bulan ke depan. Kelas aset ini akan didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang baik, beban operasional beberapa perusahaan tertentu yang berkurang selama beberapa kuartal terakhir dan valuasi yang menarik. Akan tetapi, hal ini akan mendapat tantangan dari kenaikan suku bunga sehingga mengakibatkan kenaikan yang lebih moderat bagi obligasi korporasi negara emerging, dimana obligasi high yield yang lebih tidak sensitif terhadap suku bunga akan memiliki performa lebih baik daripada obligasi investment grade. Dengan tiadanya drama politik dan gejolak, maka kami mengestimasikan tren ini akan berlanjut hingga akhir tahun.
  • Di kelas aset obligasi, kami sangat positif terhadap obligasi high yield negara emerging. Dari segi kawasan, Asia merupakan pilihan utama kami, yang didominasi sebagian oleh China. Di tengah perlambatan ekonomi akibat meningkatnya tekanan perang dagang, China telah berupaya mendorong permintaan ekonomi domestik melalui kebijakan moneter dan fiskal. China juga cukup terisolasi dari kebisingan politik yang melanda sebagian besar negara emerging di 2018.
  • Kami percaya bahwa obligasi negara emerging dapat memberikan peluang yang menarik. Kekhawatiran akan risiko penularan dari Turki dan Argentina mulai memudar. Hal ini memberikan kesempatan bagi investor yang mencari obligasi negara emerging yang solid dan imbal hasil menarik. Perekonomian dan fundamental korporasi di negara emerging cukup sehat. Dengan melemahnya harga di beberapa bulan terakhir, kami menilai valuasi obligasi high yield negara emerging menjadi menarik. Dengan sinyal penguatan Dolar AS yang meredup dan imbal hasil obligasi US Treasury berada di kisaran 3.0 – 3.3%, akumulasi obligasi high yield negara emerging merupakan strategi yang tepat.


FX & COMMODITIES

Kenaikan harga minyak akibat suplai terbatas

“Prospek kenaikan harga minyak lebih lanjut terbatas. Terdapat level tertentu yang akan memicu respon dari produsen minyak shale AS, sementara OPEC akan berada di bawah tekanan untuk mencegah kenaikan yang terlalu tajam.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Hal-hal Utama:

Minyak
  • Kekhawatiran pasokan akibat berkurangnya kekhawatiran akan penurunan permintaan minyak yang disebabkan oleh perang dagang, telah mengakibatkan harga bergerak di kisaran batas atas (US$65 dan US$75 per barel untuk jenis minyak West Texas Intermediate.
  • Prospek kenaikan harga lebih lanjut terbatas. Kondisi ini akan memicu respon dari produsen minyak shale AS, sementara OPEC akan berada di bawah tekanan untuk mencegah kenaikan terlalu tajam
 
Emas
  • Di tengah meningkatnya risiko perang dagang dan sentimen negatif dari negara berkembang, emas sulit mempertahankan posisinya sebagai aset aman di tengah penguatan Dolar AS dan ketahanan pasar saham AS. Dengan harga emas melemah sesuai ekspektasi, kami memperkirakan akan adanya rebound tipis ke US$1,240 per ounce dalam kurun 12 bulan, yang lebih diakibatkan oleh posisi pasar short yang cukup ekstrim akan memicu kenaikan seiring dengan membaiknya sentimen negara emerging atau Dolar AS melemah kembali.
 
Currency
  • Kami tetap melihat sentimen risiko global yang berkelanjutan sebagai penggerak utama pasar mata uang di bulan Oktober. Meningkatnya imbal hasil US Treasury juga merupakan faktor lainnya. Di kondisi ini, sinyal global dan AS dapat mengakibatkan Dolar AS bergerak kea rah yang berlawanan, sehingga sulit menentukan arah pergerakan Dolar AS secara umum.
  • Kami melihat adanya perbaikan sentimen risiko yang berkelanjutan sejak pertengahan bulan September, didukung pula oleh keberhasilan kesepakatan USMCA (US-Mexico-Canada). Hal ini mengurangi permintaan akan mata uang dengan status aset aman, termasuk Dolar AS dan Yen Jepang, sehingga membuat mata uang siklikal menjadi lebih tangguh. Akan tetapi, dalam periode ini, ketegangan perdagangan AS-China dan ketidakpastian politik di Inggris dan AS tetap ada, tanpa adanya titik kepastian yang jelas. Sehingga, daya tahan terhadap sentimen risiko perlu dipertanyakan. Dengan perubahan sentimen risiko di kuartal III – 2018, kami menghimbau untuk lebih berhati-hati dalam perdagangan mata uang yang lebih berisiko.
  • Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10-tahun berada di atas 3%, rentang imbal hasil  antara obligasi AS dan negara G10 kembali melebar, sehingga mendorong penguatan Dolar AS. Namun demikian, dengan pengecualian USD/JPY, terdapat dukungan terhadap Dolar AS yang diakibatkan oleh perbedaan imbal hasil untuk saat ini. Namun, perhatian pasar dapat kembali fokus dan membangun hubungan positif antara imbal hasil dan perkembangan Dolar AS.
  • Di Eropa, keadaan anggaran keuangan Italy mengakibatkan Euro melemah, sedangkan Pound masih bergerak seputar Brexit yang belum membuahkan hasil yang berarti. Sementara itu, Dolar Kanada menguat paska konklusi dari USMCA.
  • Di Asia, keadaan mata uang diuntungkan oleh berkurangnya kekhawatiran mengenai negara emerging dan sentimen risiko yang membaik. Namun, kami menilai dampak situasi mata uang Asia yang kondusif ini akan memudar. Ke depannya, kenaikan imbal hasil US Treasury dan harga minyak akan mulai terlihat dampaknya dan menambah sentimen negatif.

Tug of War

Sejumlah risk events mendorong kenaikan volatilitas pasar modal di bulan Oktober. Terkait perang dagang antara AS dan China, pemerintahan Trump pun menyatakan menolak diskusi dengan pihak China sampai tuntutannya dipenuhi oleh pihak China. Selain itu, IMF pun menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3.9% menjadi 3.7% seiring dengan meningkatnya risiko perang dagang serta tekanan terhadap beberapa negara berkembang.

Sementara itu dari dalam negeri, ekonomi Indonesia dilaporkan bertumbuh 3.09% di kuartal III yang lalu, atau 5.17% untuk setahunnya. Walaupun melambat dari kuartal sebelumnya, namun angka ini berada di atas ekpektasi pasar. Faktor pendukung pertumbuhan datang dari sektor jasa, informasi dan komunikasi. Di kuartal III, terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan perlambatan ekonomi seperti penurunan daya beli, stagnannya investasi serta defisit neraca perdagangan yang melebar, terutama akibat pelemahan Rupiah. Cadangan devisa di bulan Oktober sedikit meningkat ke US$115.2 milyar dibandingkan sebelumnya di US$114.85 milyar. Foreign Direct Investment kuartal III dirilis melemah 20.2%  menjadi Rp 89.1 triliun, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran investor akan pelemahan Rupiah dan pelebaran defisit neraca.

Dalam hal kebijakan suku bunga, Bank Indonesia masih menahan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate di 5.75%. Rilis data inflasi juga menunjukkan adanya kenaikan di bulan Oktober sebesar 0.28% atau 3.16% untuk setahun.

Di minggu ketiga Oktober, emiten mulai merilis musim laporan keuangan kuartal III. Pertumbuhan laba korporasi di kuartal III sedikit membaik dibandingkan kuartal II. Laba bertumbuh 10 persen dibandingkan estimasi 8 persen. Kenaikan ini didorong adanya perbaikan dari sektor properti, materi bangunan, dan telekomunikasi.

Beberapa indikator ekonomi ini memang tidak terlalu kuat, namun diatas ekspektasi pasar yang terlalu mendiskon dampak dari penguatan Dolar AS dan konflik perang dagang terhadap perekonomian Indonesia. Sehingga, kami menilai bahwa baik Rupiah maupun pasar modal akan bergerak lebih stabil memasuki 2019, seiring dengan adanya katalis domestik yang datang dari Pilpres dan Pileg di bulan April tahun depan. Secara keseluruhan, walaupun tekanan masih ada, perekonomian diperkirakan masih dapat tumbuh diatas 5 persen, namun sedikit melambat di 5.1% di 2019 dibandingkan 2018 sebagai dampak dari perang dagang dan pelemahan mata uang.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

IHSG melemah 2.42% selama bulan Oktober, menyentuh level terendah di 5702. Investor asing kembali membukukan nett sell di bulan Oktober sejumlah Rp 3.4 triliun. Secara historis, tahun politik berhasil membawa kinerja pasar saham meroket. Hal ini terlihat di tahun 2004, 2009 dan 2014. Aliran dana asing terlihat memasuki pasar modal sejak dimulainya masa kampanye di masing-masing tahun tersebut. Secara kinerja musiman historis, terlihat pula probabilitas bulan November membukukan kinerja negatif sebesar 58 persen.

Di bulan November ini, terdapat beberapa sentimen eksternal yang dapat mempengaruhi arah pergerakan pasar saham seperti US Mid Term Election di awal bulan dan pertemuan Trump dan Xi Jin Ping di akhir bulan. Risiko seperti ini akan memberikan kesempatan bagi investor dengan profil risiko agresif untuk mengakumulasi kelas aset saham, terutama saham berkapitalisasi besar yang sudah terdiskon cukup tajam.



Obligasi

Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun melemah menyentuh level 8.88% di bulan Oktober lalu seiring dengan pelemahan Rupiah. Investor asing membukukan nett buy sebesar Rp 13 triliun di bulan Oktober, namun aksi beli ini tidak mampu menahan pelemahan yield hingga ke level tertingginya sejak awal tahun.

Di awal bulan November, imbal hasil obligasi menguat hingga 8.05% seiring dengan penguatan Rupiah dan aksi beli investor asing yang mencapai Rp 14.1 triliun. Tingginya real yield Indonesia dibandingkan negara-negara layak investasi di kawasan Asia, merupakan daya tarik bagi investor asing.

Ke depannya, seiring dengan tren penguatan Rupiah dan stabilnya inflasi, kami menilai pelemahan yield akan terbatas. Kisaran pergerakan yield obligasi pemerintah 10 tahun akan berada di antara 8.1 hingga 8.3% untuk tiga bulan ke depan. Investor dengan profil risiko agresif namun menginginkan adanya pendapatan tetap, dapat mengadopsi strategi barbel yang menyeimbangkan antara obligasi jangka panjang dan jangka pendek.



Currency

Bulan Oktober merupakan bulan yang penuh gejolak dengan pelemahan Rupiah yang cukup tajam hingga menyentuh level 15,238 per Dolar AS. Namun di awal bulan November, Rupiah bergerak menguat tajam hingga menyentuh level 14,539 per Dolar AS. Mulai November, pemerintah juga mulai memberlakukan NDF (non deliverable forward) domestik untuk Rupiah untuk menjaga stabilitas. Hingga akhir tahun, seiring dengan tren kenaikan suku bunga AS, Rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran 14,600 hingga 15,000.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Pertumbuhan Asia Tetap Kuat

“Pertumbuhan Asia tetap kuat, didukung dengan membaiknya manajemen ekonomi dala beberapa tahun terakhir. Penerapan tarif AS pada barang ekspor China dapat merugikan, namun beberapa negara justru mendapatkan keuntungan dari pengalihan arus perdagangan.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:
  • Perjanjian damai sejak berakhirnya Perang Dingin menyebabkan penurunan pengeluaran  pertahanan keamanan AS
  • Terdapat beberapa kekhawatiran bahwa sengketa AS-China dapat memicu perang dingin baru yang dapat menghilangkan perjanjian damai sejak tahun 1990 atau bahkan mendorong terjadinya konfrontasi militer. Sehingga, biaya fiskal dari belanja untuk bidang pertahanan dapat memicu kenaikan suku bunga, terutama ketika Fed menambahkan penawaran dengan menyusutkan neraca keuangannya. Hal tersebut dapat memperburuk keuangan AS, yang diakibatkan oleh pemangkasan pajak, dan dapat memperburuk ketahanan ekonomi AS pada saat siklus penurunan berikutnya.
  • Situasi ini akan menjadi lebih jelas di beberapa bulan mendatang, dengan adanya pertemuan Trump dan Xi Jin Ping, serta keputusan apakah aka nada kenaikan tarif terhadap barang impor dari China.
  • Asia merupakan pihak yang sangat diuntungkan saat selesainya perang dingin, ditopang dengan meningkatnya ekspor. Hal ini kemungkinan tidak terjadi apabila negara-negara tersebut dipaksa untuk memilih sisi antara AS dan China di era perang dingin yang baru, yang dapat mengganggu rantai perdagangan regional.
  • Sekarang ini, kita masih melihat bahwa pertumbuhan Asia akan tetap baik meskipun ada goncangan di pasar finansial.

Amerika Serikat
  • Pertumbuhan ekonomi meningkat didorong oleh kebijakan fiskal. Pertumbuhan pekerjaan juga meningkat, PDB juga berada di posisi tertingginya dalam 4 tahun terakhir.
  • Upah tenaga kerja mulai memperlihatkan kenaikan, karena tenaga kerja mendapat keuntungan dari tingkat pengangguran terendah sejak 1960. Menyeimbangkan antara kenaikan upah tenaga kerja sembari mendorong produktivitas adalah hal yang cukup sulit, sehingga perusahaan akan dihadapkan pada pilihan untuk menaikkan harga atau menurunkan laba. Kenaikan tarif juga merupakan risiko tambahan lainnya, dimana perusahaan akan berupaya menaikkan harga konsumen.
  • Sejauh ini, Fed sudah menaikan suku bunga secara bertahap. Hal ini diperkirakan akan terus berlanjut, sehingga kami menilai Fed akan menaikan suku bunga empat kali pada tahun 2019, dan satu kali di bulan Desember. Hal ini akan membuat kebijakan menjadi sedikit terbatas, dan menimbulkan pertanyaan apakah beban dari kebijakan fiskal dan moneter akan mendorong ekonomi melemah di tahun 2020. Risiko resesi ini cukup jelas, namun masih jauh untuk mendapatkan dukungan yang kuat.

Eropa
  • Tingkat pengangguran di zona Eropa mendekati titik terendah pada periode pemulihan beberapa tahun lalu, dan mulai mendorong adanya peningkatan upah. Hal ini merupakan alasan bank sentral Eropa (ECB) bahwa target inflasi akan tercapai pada tahun mendatang, meskipun adanya sinyal kelesuan akhir-akhir ini.
  • Sehingga, hal ini meyakinkan ECB bahwa pembelian aset tidak lagi diperlukan. Kenaikan suku bunga diperkirakan akan terjadi di kuartal III - 2019.
  • Masalah politik di Italia dan Inggris belum selesai. Adanya kerumitan jangka pendek pada ketentuan Brexit dapat mendorong masa transisi melewati tenggat waktu di bulan Maret 2019, namun hal tersebut masih harus disetujui.
  • Italia bertentangan dengan Komisi Eropa mengenai anggaran stimulus yang mengancam reformasi sebelumnya. Diharapkan kenaikan imbal hasil obligasi akan membatasi Italia dalam hal ini.

Jepang
  • Aktivitas ekonomi mengalami penurunan akibat bencana alam yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Namun hal ini seharusnya tidak mengganggu momentum pertumbuhan, ditopang oleh kenaikan laba korporasi, dengan rendahnya tingkat upah di tengah ketatnya pasar ketenagakerjaan.
  • Bank of Japan menginginkan target inflasi sebesar 2%, dan sulit melihat adanya perubahan kebijakan dengan rencana kenaikan pajak penjualan di bulan Oktober 2019.  Pemerintah sedang mengupayakan kebijakan baru yang akan mengimbangi kenaikan pajak penjualan sebanyak 2 poin ke 10% supaya tidak terlalu mempengaruhi permintaan.

China
  • Sektor manufaktur dirugikan oleh tarif AS terhadap US$250 milyar barang ekspor China, dan potensi ancaman berikutnya.
  • Namun, indikator keyakinan ekonomi masih berada di area positif, karena sejauh ini dampaknya tidak terlalu parah. Nilai ekspor adalah seperlima dari ekonomi secara keseluruhan, dan hanya seperlima dari barang-barang tersebut yang diekspor ke AS.
  • Menanggapi tarif yang dikenakan, pemerintah berupaya mendukung ekonomi domestik melalui berbagai kebijakan, dari pemotongan pajak pendapatan untuk mendorong kredit dan meningkatkan belanja infrastruktur. Dampak langsung dari kebijakan tersebut belum terlihat, namun stimulus lebih lanjut akan dilakukan jika diperlukan.
  • Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan kredit sedang ditunda, untuk mendorong pertumbuhan jangka pendek, dan untuk mencegah perlambatan
 
Asia
  • Pertumbuhan Asia tetap kuat, didukung dengan adanya perbaikan manajemen ekonomi di beberapa tahun terakhir. Tarif AS pada barang ekspor China dapat mengakibatkan perlambatan, namun beberapa negara justru mendapatkan keuntungan dari pengalihan arus perdagangan.
  • Secara umum, posisi fiskal kuat, inflasi masih terkendali dan ketidakseimbangan masih terbatas. Hal ini berarti bahwa perekonomian masih memiliki fleksibilitas untuk mengantisipasi tekanan eksternal dan mengurangi dampak negatif terhadap pertumbuhan.





 


Kesempatan di Asia

“Di pasar saham, kita lebih menyukai pasar saham Asia Ex-Japan, dengan menariknya keuntungan dibandingkan risiko, dan valuasi yang murah, diikuti oleh AS, Jepang, dan Eropa.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Kedepan nya, kami melihat adanya dua pendorong makro untuk pasar saham: lintasan pertumbuhan global dan laju inflasi AS. Dengan inflasi inti sudah mencapai target 2 persen, normalisasi kebijakan Fed akan berlanjut dengan laju yang sama. Adanya perubahan pada pandangan inflasi akan mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap laju normalisasi.
  • Sementara itu, ketidakpastian dari perkembangan geopolitik akan terus menghambat proyeksi pertumbuhan dan keyakinan investor. Dengan adanya ekspektasi kenaikan suku bunga, kami menilai bahwa valuasi saham global telah mencapai puncaknya.
  • Namun demikian, valuasi menjadi tidak terlalu mahal setelah adanya penjualan akhir-akhir ini sehingga memberikan ruang untuk kembali menanjak.


Amerika Serikat

  • Kekhawatiran yang meningkat akan proyeksi pertumbuhan laba korporasi di AS dan kenaikan suku bunga, merupakan pemicu utama untuk menghindari aset berisiko di AS. Tidak mengherankan, aset yang defensif berkinerja lebih baik. Hal ini terjadi walaupun rilis laba positif dan adanya kenaikan konsensus laba 2018 di bulan Oktober.
  • Seperti bulan lalu, dengan adanya kinerja yang kuat sejak awal tahun dan valuasi yang meningkat, ekspektasi pertumbuhan sangat sulit dilampaui. Konsensus pertumbuhan laba 2019 saat ini berada lebih rendah di 9.9% (dibandingkan 10.6% pada bulan lalu), hal ini mencerminkan adanya kenaikan proyeksi laba 2018 (sesuai dengan hasil laba kuartal III yang positif) namun proyeksi yang lebih rendah di 2019.
  • Selain adanya kenaikan biaya akibat tarif perdagangan, penguatan Dolar AS berpotensi memperlambat proyeksi pertumbuhan.


Zona Eropa

  • Kekhawatiran akan perdagangan, Brexit, dan anggaran Italia berdampak negatif pada kinerja pasar saham Eropa. Hal ini ditambah pula dengan adanya peringatan terhadap kinerja laba beberapa perusahaan ternama.
  • Hasil pendapatan perusahaan sejauh ini mengecewakan. Selama bulan Oktober, konsensus pertumbuhan laba perusahaan 2019 bergeser dari 9.6% ke 9.9%.
  • Secara fundamental, pemulihan ekonomi akan berlanjut dan valuasi juga berada di dekat level netral. Selain perang dagang AS, masalah geopolitik juga merupakan risiko utama yang dapat menghambat pemulihan ini.
 
Jepang
  • Pasar saham di Jepang tidak terhindar dari meningkatnya keraguan pada pertumbuhan global dan penguatan JPY juga tidak membantu. Hasil laba perusahaan yang positf sejauh ini memberi sedikit kelegaan.
  • Beberapa faktor seperti perbaikan proyeksi laba, dapat mendukung meskipun penilaian ulang pasar membutuhkan reformasi struktural yang lebih bermakna.

Asia ex-Japan
  • Namun, valuasi Asia Ex-Japan telah bergerak lebih rendah, diakibatkan karena adanya penjualan tajam sejak nilai tertingginya di bulan Januari. Dengan demikian, kami menilai adanya risk-reward yang lebih menarik untuk kawasan ini. Selain pengurangan stimulus, kenaikan suku bunga dan memburuknya hubungan AS dan China akan menjadi risiko utama bagi kawasan ini.
  • Kami percaya bahwa pasar saham Asia saat ini memberikan peluang investasi yang menarik diatas risiko, walaupun kinerjanya negative sejak awal tahun. Pasar saham Asia telah menderita cukup banyak seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang mencapai puncaknya.
  • Pasar negara berkembang telah terpukul karena goncangan di beberapa negara dan pengetatan keuangan juga memberikan tekanan terhadap negara dengan kerentanan yang tinggi.
  • Kami melihat adanya potensi pemulihan, terutama di pasar saham. Ekonomi China memiliki ketahanan yang baik, fundamental negara berkembang juga kuat,, dan saat ini kita mendekati puncak risiko. Sementara itu, valuasi pun terlihat cukup murah.
  • Kami belum kehilangan kepercayaan di Asia, dimana kekuatan ekonomi mulai terlihat dari hasil pertumbuhan laba yang kuat. Penjualan saham sudah mulai berkurang, dan negara berkembang sekarang diperdagangkan di harga yang sangat murah dibandingkan pasar saham negara maju.
  • Fundamental ekonomi dan rilis laba perusahaan di Asia cukup baik, dengan kuatnya ketahanan China walaupun terdapat pelambatan pertumbuhan kredit. Kami menyukai beberapa pasar Asia Tenggara namun kami juga menilai adanya risiko yang meningkat untuk kawasan ini jika ekonomi China melambat lebih buruk daripada pasar atau apabila terjadi gangguan pada perdagangan global.



Fokus pada obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi

“Untuk pendapatan tetap, kami lebih memilih obligasi dengan durasi pendek dan memiliki kualitas kredit yang baik. Kami lebih memilih obligasi negara berkembang dengan imbal hasil tinggi, dibandingkan negara maju, dikarenakan valuasi yang lebih menarik.”

- Eli Lee, Head of Investment Strategy, Bank of Singapore

Hal-hal Utama:

  • Obligasi negara berkembang melemah di akhir bulan dengan tingginya sentimen negative sehingga menggerus kenaikan yang terjadi di awal bulan Oktober, walaupun terdapat reli pada obligasi US Treasury dan perkembangan positif di Brazil dan Turki
  • Bangkitnya pasar paska bebasnya pendeta Amerika, Andrew Brunson dan naiknya Jair Bolsonaro, kandidat presiden Brazil yang lebih pro-pasar, tertutup oleh kekhawatiran akan melemahnya data ekonomi China dan sentimen negatif investor terhadap hasil yang mengecewakan dari referendum Mexico City Airport.
  • Rentang kredit obligasi melebar terhadap semua obligasi emerging market (EM) di bulan Oktober, dengan valuasi obligasi EM kategori high yield lebih menarik, dibandingkan dengan EM Investmet Grade, dan US High Yield.
  • Kami menyarankan alokasi yang lebih besar di obligasi EM high yield. Valuasi yang lebih menarik di obligasi EM high yield dibandingkan EM investment grade dan US high yield, didukung dengan rendahnya tingkat gagal bayar di tahun ini, turut mendukung pandangan konstruktif kami EM high yield.
  • Terlepas dari pandangan positif kami terhadap obligasi EM, kami kembali menekankan pentingnya investor untuk tetap defensif di obligasi EM dengan durasi yang pendek, dan mengurangi durasi, untuk mengurangi dampak kenaikan suku bunga AS yang diperkirakan masih akan berlanjut.
  • Obligasi investment grade kembali tertekan selama bulan Oktober. Rentang kredit juga melebar di Eropa dan AS. Penurunan di pasar saham juga menjadi salah satu penyebabnya.
  • Situasi di Eropa tidak terbantu dengan adanya masalah Italia. Banyak bank yang masih memulihkan diri dari trauma Yunani dan dampak dari perlambatan pertumbuhan laba di zona Eropa yang berkepanjangan.
  • Terdapat tren kenaikan jumlah penerbitan obligasi di AS. Sesuai karakteristik di siklus puncak, maka kualitas kredit pun memburuk. Hal ini terlihat dengan meningkatnya jumlah penerbitan dengan rating BBB- dibandingkan dengan obligasi yang ratingnya lebih tinggi.
  • Kami menilai tidak akan adanya resesi di AS pada tahun 2019. Berita resesi akan berdampak negatif terhadap obligasi, karena akan mengancam kemampuan perusahaan untuk membayar kembali pokok dan bunga, serta meredam minat investor terhadap penerbitan baru. Sehingga akan  membuat perusahaan sulit untuk melakukan pembiayaan ulang.
  • Tanpa adanya dinamika ini dalam waktu dekat, maka kenaikan obligasi investment grade lebih akan didorong oleh jumlah penerbitan dan perkembangan di pasar keuangan yang berbasis suku bunga, daripada persepsi negatif terhadap perekonomian makro.
  • Pandangan terhadap investment grade belum berubah. Terkadang, hal tersebut bisa menjadi contoh bahwa tahun yang kurang bagus akan diikuti dengan tahun yang lebih baik. Saat ini, kami menilai bahwa rendahnya level imbal hasil dan potensi kenaikan rentang kredit akan membatasi kenaikan obligasi investment grade.


Fokus pada kenaikan Dolar AS

“Ekonomi AS tetap mengungguli ekonomi dunia, dan memperkuat keyakinan bahwa Dolar AS akan tetap menguat dalam waktu dekat.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank


Hal-hal Utama:
  • Ketegangan geopolitik gagal mendukung harga minyak. Kritik Saudi Arabia yang meluas belum berdampak pada gangguan persediaan minyak.
  • Kenaikan harga akan terbatas. WTI akan terjebak di kisaran harga US$ 65-75 per barel, didorong oleh tingkat persediaan yang fleksibel, yang merefleksikan dinamika produksi minyak saat ini. Kisaran harga ini merupakan level yang menarik bagi produsen dan tidak akan berdampak negative pada pertumbuhan global, seiring dengan dampak terhadap inflasi yang mulai memudar.
  • Produksi yang efisien akan membuat harga menjadi turun, kecuali ketegangan geopolitik kembali mencuat.
  • Pembelian aset safe-haven seperti emas meningkat karena kekhawatiran mengenai penghasilan perusahaan-perusahaan di AS yang sudah berada di puncaknya, dan munculnya sinyal pelemahan di sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, seperti sektor perumahan.
  • Meskipun kami tidak menilai adanya kemungkinan Fed berhenti menaikkan suku bunga, namun apabila pasar saham di AS mengalami penurunan lebih lanjut, hal ini mungkin akan memicu diskusi yang lebih luas mengenai scenario tersebut, sehingga dapat mendorong kenaikan harga emas.
  • Meningkatnya volatilitas pasar saham AS dapat mendorong kenaikan harga emas untuk sementara, dengan batas atas berada di harga US$1265 per ounce.
  • Memasuki November, mata uang utama akan melanjutkan pelemahan terhadap Dolar AS.
  • Ke depannya, kami menilai kekhawatiran investor masih akan berlanjut sehingga akan mendorong permintaan Dolar AS sebagai aset safe-haven.
  • Selain itu, Fed juga bersikap tenang terhadap gejolak di pasar saham, dengan mempertahankan retorika yang tegas dalam komentar terbaru mereka. Sehingga, kami menilai bahwa terlalu dini untuk berpandangan bahwa Fed akan mengurangi laju kenaikan suku bunga AS.
  • Kami juga mencari kemungkinan munculnya kembali perbedaan suku bunga sebagai pendorong Dolar AS, dengan imbal hasil US Treasury 10-tahun yang berupaya menahan penurunannya pada Oktober.
  • Karena ekonomi AS terus mengungguli dunia, kami percaya bahwa Dolar AS masih akan terus menguat dalam waktu dekat.
  • Di bagian dunia lainnya, masalah politik dan melemahnya beberapa data ekonomi mempengaruhi kinerja mata uang Euro. Euro dan Pound sudah mulai mendekati titik terendah sejak awal tahun, dan masih adanya indikasi pelemahan lebih lanjut.
  • Di Asia, kami melihat investor mulai lebih waspada dengan adanya penjualan besar di pasar saham dan ketegangan perdagangan antara China dan AS. Sehinga, Dolar AS akan tetap menguat terhadap mata uang Asia.
  • Selain itu, Renmimbi (RMB) juga mengalami tekanan, berharap akan ada sedikit dukungan untuk mata uang Asia dari mata uang China. Sementara retorika resmi dari China sudah tegas, kami menilai adanya tindakan yang terbatas untuk membalikkan pelemahan RMB terhadap Dolar AS. Dengan lemahnya data ekonomi China, terdapat sedikit ruang untuk pembalikan RMB pada saat ini.

Changing of Seasons

Menjelang akhir 2018, pasar mendapatkan angin segar terkait perang dagang antara AS dan China, serta arah kebijakan suku bunga Fed. Di akhir November, baik Presiden Trump maupun Presiden Xi menyetujui adanya gencatan senjata, yang akan memberikan tenggang waktu 90 hari hingga akhir Februari bagi kedua negara untuk menemukan resolusi terkait ketegangan yang telah berjalan hampir sepanjang tahun ini. Selain itu, komentar dari Gubernur Fed, Jerome Powell yang tidak lagi agresif untuk menaikkan suku bunga, membuat ekspektasi kenaikan suku bunga di 2019 turun menjadi satu kali. Analis pun mulai memprediksi bahwa Fed bahkan akan mulai memangkas suku bunga di 2020. Hal ini dikemukakan oleh Fed menyikapi pelemahan beberapa data fundamental ekonomi AS dan ekspektasi di 2019. Hal ini mendorong kenaikan minat risiko di pasar keuangan terutama negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Baik pasar saham, obligasi serta mata uang menguat akibat kedua hal ini. Ketidakpastian mengenai Brexit tidak lagi menjadi perhatian pasar, di tengah eforia ini.

Memasuki 2019, penting bagi investor untuk kembali mencermati data-data fundamental terkait pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Di tengah ekspektasi pelemahan ekonomi AS, perekonomian negara berkembang di Asia di luar China dan Jepang, diperkirakan bertumbuh 6.5%. Hal ini jauh diatas perekonomian negara maju yang diestimasikan di 2.1% pada tahun 2019. Untuk Indonesia sendiri, APBN 2019 memasang angka pertumbuhan ekonomi di 5.3% dan inflasi stabil di kisaran 3.5%. Terlihat dalam APBN 2019 ini, adanya kenaikan pada belanja pemerintah pusat dan transfer dana desa. Belanja pemerintah pusat di tahun depan akan berfokus pada peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), penguatan infrastruktur, peningkatan efektivitas program perlindungan sosial, pelaksanaan agenda demokrasi, penguatan birokrasi yang efisien dan efektif, serta antisipasi ketidakpastian termasuk mitigasi risiko bencana alam.

Pergeseran retorika Fed menjadi dovish juga akan mendorong Bank Indonesia menahan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo Rate, dengan stabilnya inflasi serta berhentinya laju pelemahan Rupiah. Tak kalah pentingnya, di 2019 ini kita akan memasuki periode pesta politik lima tahunan. Secara historis dalam 3 kali masa Pemilu terakhir, pasar saham Indonesia selalu membukukan kinerja positif terutama dalam masa kampanye. Hal ini tentunya didorong oleh meningkatnya konsumsi serta berputarnya roda ekonomi dari sektor-sektor seperti media dan telekomunikasi.


- Ka Jit, Head of Individual Customer Solutions, OCBC NISP Bank


TOP INVESTMENT IDEAS
Reksa Dana Saham

Angin segar dari perang dagang mendorong kinerja IHSG hingga 3.77% di akhir bulan November. Sentimen positif ini berhasil mendorong harga IHSG bertahan diatas level 6100 di awal bulan Desember. Desember merupakan bulan dengan probabilitas kinerja positif terbesar sejak paska krisis moneter Asia. IHSG hanya mencatatkan kinerja negatif sekali di bulan Desember 2000, dan selanjutnya positif. Hal ini umumnya disebut dengan istilah window dressing ataupun Santa Claus Rally. Valuasi Desember yang umumnya diatas 16.8 kali, saat ini berada di kisaran 16.3 kali yang mencerminkan undervalue pada pasar saham Indonesia. Investor asing tercatat membukukan net sell Rp 48.6 Triliun sejak awal 2018 yang diakibatkan oleh potensi pertumbuhan ekonomi AS dan ketegangan perang dagang. Di 2019, dengan earnings diperkirakan bertumbuh 11%, potensi perlambatan ekonomi AS, dan gencatan senjata perang dagang, maka diperkirakan akan mendorong kembalinya minat risiko ke pasar saham Indonesia. Investor dengan profil risiko agresif dapat mengakumulasi investasi pada pasar saham, terutama saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah terdiskon cukup banyak paska koreksi sejak awal kuartal II – 2018.


Obligasi

Selain pasar saham, obligasi pun menguat di tengah eforia perang dagang dan Fed yang dovish. Lelang terakhir di bulan November mencatatkan adanya permintaan yang oversubscribed. Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun menguat hingga level 7.8% dari sebelumnya di 8.2%. Di minggu ketiga bulan November, pemerintah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan jadwal lelang Surat Utang Negara (SUN) hingga akhir tahun, terutama dengan telah terpenuhinya target penerbitan SUN di 2018. Berkurangnya suplai di akhir tahun, di tengah penurunan imbal hasil obligasi global serta Bank Indonesia menahan suku bunga, maka hal ini akan mendorong pasar obligasi kembali bergairah memasuki 2019. Investor dengan profil risiko moderat ke agresif dapat mempertimbangkan untuk memperpanjang durasi investasi obligasi diatas 10 tahun, serta memanfaatkan koreksi sebagai entry window.


Currency

Paska melewati bulan yang penuh gejolak di Oktober, di bulan November hingga awal Desember, Rupiah terus melanjutkan penguatan hingga menyentuh Rp 14,244 per Dolar AS. Untuk tiga bulan ke depan, Rupiah diprediksi untuk berada di kisaran 14,500 hingga 14,800. Ke depannya, walaupun Dolar AS diperkirakan akan melemah, namun nilai Rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen terhadap kinerja neraca perdagangan Indonesia.

- Juky Mariska, Wealth Advisory Head, OCBC NISP Bank



Aiming For A Soft Landing

“Tantangan utama bagi para pembuat kebijakan di 2019 adalah menuntun ekonomi global dalam menghadapi perlambatan. Seiring dengan memuncaknya siklus ekonomi, prioritas utama adalah menghindari adanya pemanasan ekonomi dan memperpanjang masa pertumbuhan.”

- Richard Jerram, Chief Economist, Bank of Singapore


Hal-hal utama:
  • Sejarah dasar dari siklus ekonomi (dan pasar) adalah “pertumbuhan dan pelemahan”, yang disebabkan oleh perbedaan informasi dan keterlambatan waktu. Keadaan yang baik mengakibatkan keyakinan yang berlebih, sehingga pembuat kebijakan lambat untuk bereaksi, dan ketika mereka bertindak – entah sengaja atau tidak - justru membawa ekonomi ke dalam resesi. Pertumbuhan ekonomi seringkali dinyatakan sebagai “kali ini berbeda”, namun kemudian menghilang di tengah perlambatan.
  • Mungkin, kunci utama menuju perlambatan adalah ekspansi yang kuat, kebijakan harus cukup ketat untuk mengontrol laju pertumbuhan di bawah tren (atau normal), tetapi tidak menekan karena dapat menyebabkan penurunan dalam kegiatan.­­
  • Perlambatan adalah berita buruk bagi marjin perusahaan, seiring menurunnya permintaan bahkan  sebelum terjadinya penurunan upah dengan menurunnya daya tawar karyawan. Hal ini terjadi terutama pada emiten, yang memiliki kecenderungan untuk mempercantik laba di puncak siklus ekonomi dan memangkas biaya di saat siklus menurun.
  • Jika para pembuat kebijakan tidak dapat mengontrol laju perlambatan, kita berpotensi memasuki resesi (mungkin di tahun 2020 atau 2021) dibandingkan krisis satu dekade lalu. Dengan adanya peraturan yang lebih ketat, ekspansi saat ini tidak diikuti dengan ketidakseimbangan yang terjadi saat kejatuhan di 2008. Resesi mengakibatkan ketidaknyamanan, mahal dan merupakan pemborosan sumber daya, tetapi tidak berarti akhir dari dunia.
Amerika Serikat
  • Di 2019, pertumbuhan AS akan terus didukung oleh stimulus fiskal. Tetapi, dampaknya terhadap ekonomi akan memudar seiring berjalannya waktu. Mulai tahun 2020, hal ini diperkirakan akan mulai memberatkan ekonomi, kecuali Presiden Trump dapat mendapat dukungan dari Partai Demokrat (mungkin dengan adanya insentif bagi peningkatan belanja inffrastruktur), yang sepertinya sulit terjadi.
  • Dengan tingkat pengangguran terendah selama 50 tahun terakhir dan akan terus turun, maka tidak mengejutkan untuk melihat pertumbuhan upah yang sangat cepat. Perusahaan merespon kekurangan tenaga kerja dengan cara menaikkan upah. Hal ini mendorong kenaikan inflasi dan berkurangnya profit, meskipun perubahan terjadi secara bertahap.
Eropa
  • Pertumbuhan di tahun 2018 tertahan akibat isu sementara (di sektor otomotif Jerman) dan isu fundamental (dengan adanya tekanan pada Italia karena kenaikan imbal hasil obligasi dan ketidakpastian politik). Prospek untuk 2019 adalah laju pertumbuhan yang sama, seiring kelebihan kapasitas mulai langka dan Bank Sentral Eropa (ECB) mulai menuju kebijakan lebih ketat.
  • Inflasi inti masih berada di sekitar level 1%, namun ECB cukup yakin bahwa inflasi akan meningkat, sehingga dapat mengakhiri stimulus pembelian aset di akhir 2018. Kenaikan suku bunga yang pertama diperkirakan terjadi di kuartal III - 2019 saat terjadi kenaikan inflasi. Sentimen penting lainnya adalah pergantian Presiden ECB Draghi di Oktober 2019, yang dapat mengakibatkan arah kebijakan yang jauh lebih ketat.
Jepang
  • Dibandingkan negara lain, tingkat upah dan harga terbukti kurang sensitif terhadap kekurangan kapasitas di Jepang, mencerminkan dampak dari deflasi selama hampir dua dekade. Hal ini diakibatkan oleh perusahaan ragu-ragu untuk menaikkan harga, melakukan investasi untuk meningkatkan produktivitas sektor jasa, dibandingkan memperebutkan jumlah tenaga kerja yang terus menurun.
  • Kenaikan pada pajak konsumsi yang direncanakan di Oktober 2019, tentu akan menimbulkan kekhawatiran. Namun pemerintah berencana mengambil langkah untuk menyeimbangkan kebijakan ini sehingga dapat menghindari terjadinya penurunan permintaan. Bank of Japan diperkirakan akan menunda perubahan kebijakan hingga kenaikan pajak dan inflasi, sehingga hal ini dapat mengakibatkan Bank of Japan sebagai bank sentral terakhir yang mengetatkan kebijakan.
China
  • China akan tetap berada di bawah tekanan akibat tarif AS, dan kekhawatiran berkurangnya akses terhadap teknologi AS berpotensi menurunkan pertumbuhan lebih jauh. Kerapuhan berasal dari adanya penggelembungan kredit yang buruk selama bertahun-tahun, sehingga faktor eksternal dapat mengakibatkan instabilitas pada ekonomi domestik.
  • Hal ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk mendorong permintaan. Sebuah kombinasi antara pelonggaran kredit, pemangkasan pajak, peningkatan belanja infrastruktur dan nilai tukar Renminbi yang melemah, telah memberikan dukungan dan terdapat komitmen jelas bahwa masih ada stimulus lebih lanjut jika diperlukan. Upaya untuk mengatasi penggelembungan kredit menjadi prioritas yang kurang penting dibandingkan upaya untuk mendorong pertumbuhan yang solid.
Emerging Markets & Asia
  • Kenaikan suku bunga AS dan pembatasan pada perdagangan global adalah kombinasi yang buruk bagi negara berkembang. Akan tetapi, beberapa negara yang memiliki defisit eksternal yang demikian besar sehingga menghadapi ancaman yang serius (seperti Turki atau Argentina), diuntungkan dengan adanya pelemahan mata uang yang justru mendorong perbaikan manajemen ekonomi. Ketidakseimbangan dari periode krisis negara berkembang yang lalu, saat ini hampir tidak ada, sehingga hal ini memberikan harapan bahwa ancaman bersifat sementara dan terbatas di beberapa negara saja.
  • Konflik perdagangan akan memberikan tekanan pada jaringan produksi global, tetapi akan terdapat kompensasi di Asia seiring beralihnya perdagangan dari Tiongkok. Kawasan Asia ini juga didukung oleh stabilnya perbaikan manajemen kebijakan domestic, seperti yang dikemukakan di survei daya saing internasional. Perekonomian lima negara terbesar di ASEAN diperkirakan akan tetap tumbuh di sekitar 5 persen.





 


Balancing Act    

“Koreksi pasar yang terjadi dan gencatan senjata perang dagang AS-Cina memberikan ruang bagi pasar saham untuk sementara waktu. Untuk 2019, keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan dan laju kenaikan tingkat suku bunga tetap menjadi pendorong utama bagi pasar saham.”

- Sean Quek, Head Equity Research, Bank of Singapore
 

Hal-hal utama
  • Ekuitas global masih akan membukukan keuntungan moderat di 2019. Aksi penjualan pada bulan Oktober dan November telah mengembalikan valuasi ke level wajar dan investor juga kembali menyesuaikan dan mengatur tingkat risiko portofolio mereka.
  • Namun, secara keseluruhan, kombinasi dari perlambatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan inflasi, dan suku bunga yang naik secara bertahap akan memberikan tantangan tersendiri bagi aset-aset berisiko, termasuk pasar saham, seiring menuju 2019.
Amerika Serikat
  • Setelah awal yang kuat, pasar saham AS mengakhiri 2018 dengan pelemahan, karena investor mulai mengantisipasi puncak dari pertumbuhan pendapatan. Selain itu, kombinasi dari suku bunga yang tinggi, penguatan Dolar AS, dan tingginya valuasi diekspektasikan akan membatasi pertumbuhan laba di tahun 2019. AS masih yang paling mahal di antara pasar negara maju, namun berkurangnya penilaian akhir-akhir ini telah membuat valuasi lebih rendah dalam jangka pendek. Nada dovish dari Fed yang diakibatkan oleh ketidakpastian proyeksi pertumbuhan, telah memberikan sedikit kelegaan, namun laju inflasi AS masih akan menjadi faktor risiko utama.
Eropa
  • Dengan tidak adanya resolusi yang jelas untuk Brexit dan anggaran Italia, sentimen politik yang telah mengganggu pasar saham Eropa selama tahun 2018 akan terus berlanjut. Penurunan pada Euro Area Purchasing Manager Index (PMI), mencakup manufaktur dan jasa, juga tidak membantu kepercayaan terhadap prospek pertumbuhan dalam jangka pendek.
  • Pada dasarnya, pemulihan ekonomi yang sedang terjadi masih akan berlanjut, namun konsensus pertumbuhan laba 2019 di sekitar 10% terlihat optimis. Nilai valuasi mendekati level wajar.
  • Selain adanya peristiwa geopolitik, termasuk perang dagang yang dipimpin AS, sikap moneter yang kurang dovish akan menjadi risiko kejutan tersendiri.
Jepang
  • Pasar saham Jepang tidak terhindar dari naiknya skeptisisme pada pertumbuhan global, dan penguatan Yen juga tidak membantu. Ke depannya, survei dan ekspektasi bisnis untuk kuartal IV-2018 mendukung pandangan bahwa pemulihan ekonomi sedang berlanjut seiring memudarnya dampak bencana alam seperti gempa dan topan. Sementara itu, valuasi berada di level yang menarik dan telah mengantisipasi ekspektasi yang lebih rendah. Risiko penting lainnya termasuk kenaikan pajak konsumsi yang direncanakan pada Oktober 2019.
Asia ex-Japan
  • Karena aksi penjualan yang cukup tajam, valuasi Asia ex-Japan bergeser menuju zona yang murah. Ditambah dengan harapan pertumbuhan yang lebih moderat, kami melihat faktor risk-reward yang lebih menarik. Dengan jauhnya perbedaan valuasi antara pasar saham Asia ex-Japan dan global, perlambatan pertumbuhan laba AS di 2019 akan mempersempit perbedaan rentang ini.
  • Stimulus China yang lebih agresif untuk mencegah perlambatan pertumbuhan ekonomi domestic dapat menjadi alasan utama untuk penilaian ulang bagi kawasan ini. Hasil perundingan Trump – Xi di Buenos Aires, dengan AS setuju untuk menunda pemberlakuan tarif dagang baru, memberikan kelegaan untuk pasar dalam jangka pendek. Selain pengurangan stimulus kuantitatif, kenaikan suku bunga dan skenario perang dingin AS dan China menjadi risiko utama bagi kawasan ini.
China
  • Momentum laporan keuangan mereda dalam empat bulan terakhir dan kami mengestimasikan bahwa tren untuk berlanjut ke 2019 seiring dengan ketatnya pengucuran kredit serta ketegangan perdagangan antara AS-China yang mulai terlihat. Kami mengharapkan dampak dari pengetatan kredit akan memudar sesuai dengan rilis laporan kebijakan moeneter dari bank sentral yang mengutamakan kestabilan pertumbuhan, dukungan kebijakan terhadap sektor swasta serta diskusi yang mereda tentang pengurangan tingkat utang. Dukungan kebijakan pun membutuhkan waktu lebih lama untuk merasakan dampaknya. Di sisi moneter, pemangkasan giro wajib minimum dan menguatkan stimulus kredit bagi sektor swasta akan mendukung kenaikan di tingkat pertumbuhan kredit. Di sisi fiskal, kami menilai bahwa reformasi pajak dan percepatan belanja infrastruktur juga akan mendukung pertumbuhan.
  • Kami menilai konsensus pertumbuhan pendapatan MSCI China di 2019 yang berada di 14%, terlalu optimis karena dampak pendapatan dari perang dagang belum sepenuhnya tercermin dan penurunan pendapatan akan terus berlanjut sampai 1H 2019.
  • Sehingga, kami memperkirakan bahwa peluang untuk penurunan penilaian lebih lanjut akan terbatas karena valuasi forward MSCI China ex-ADR 12 bulan berada di level 9.3, mendekati valuasi terendah di 8.3 kali saat terjadi periode penurunan di 2015 hingga 2016.



Menyukai Obligasi High Yield

“Kami tetap positif pada obligasi negara berkembang High Yield dan menetralkan posisi underweight sebelumnya ada pada obligasi negara maju High Yield, seiring meningkatnya sentimen positif kami terhadap aset berisiko dalam jangka pendek.”

- Eli Lee, Head of Investment Strategy, Bank of Singapore
 

Hal - hal utama
  • 2018 menandai berakhirnya kenaikan pada obligasi. Kenaikan suku bunga, penguatan Dolar AS yang berkesinambungan, perang dagang AS-China dan kekacauan pada beberapa negara tertentu-Argentina, Turki, Rusia- yang memberatkan kinerja.
  • Memasuki 2019, data-data yang kurang baik mengenai keadaan makro tetap akan ada, tetapi dampaknya akan mulai mereda. Peningkatan suku bunga merupakan hal yang wajar, namun Fed berbalik menjadi lebih dovish.
  • Pada kondisi kenaikan suku bunga yang bagaimanapun, kami menilai akan adanya kenaikan 30 hingga 40 basis poin di imbal hasil US treasury 10Y. Sementara itu, penguatan Dolar AS berpotensi tertahan.
  • Selain itu, skenario terburuk bagi hubungan AS dan China telah tercermin pada valuasi kelas aset, walaupun terjadi gencatan senjata akhir-akhir ini.
  • Kami mempertahankan posisi overweight pada obligasi negara berkembang High Yield dan menurunkan obligasi EM Investment Grade.
  • Pandangan kami didasarkan pada faktor-faktor berikut: 1) Valuasi Obligasi negara berkembang High Yield lebih menarik dibandingkan dengan obligasi pemerintah AS dan obligasi negara berkembang Investment Grade 2) Negara berkembang akan terimbas dari hasil politik yang positif (dan rentang kredit yang lebar setelah mengalami penurunan di 2018) di beberapa negara utama
  • Selain pandangan yang konstruktif terhadap obligasi negara berkembang, kami mengingatkan pesan kami dari kuartal sebelumnya, kami menyarankan investor untuk tetap memiliki posisi di negara berkembang dengan fokus pada kualitas kredit dan mengurangi durasi, untuk memitigasi risiko kenaikan suku bunga terhadap kinerja obligasi, terutama dengan tren kenaikan suku bunga AS ke depannya.
  • Federal Reserve mensinyalkan akan mengambil jeda dalam pengetatan kebijakan siklus suku bunga yang berada di kisaran level netral – setelah kenaikan lebih dari dua atau tiga kali. Namun, dengan inflasi yang sudah berada di target 2%, dan akan tetap meningkat, serta tingkat pengangguran berada di bawah level netral, jeda akan sulit dilakukan
  • Namun demikian, kenaikan inflasi yang cukup lambat dapat memberikan ruang untuk Fed untuk mengurangi laju kenaikan, dan keinginan Fed untuk menghindari prediksi kenaikan suku bunga setiap kuartal sebanyak tiga kali di 2019 (selain satu kali pada bulan Desember), dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya yang sebanyak empat kali. Hal ini akan membuat suku bunga berada diatas level netral di akhir tahun 2019.
  • Tidak seperti obligasi high yield, obligasi investment grade cenderung memiliki tingkat gagal bayar yang rendah terlepas dari keadaan siklus ekonomi.
  • Meskipun demikian, pelebaran rentang kredit dapat menjadi suatu pertanda. Saat krisis Lehman, pelebaran yang tajam pada IG menandakan resesi. Di level sekarang ini, rentang masih sangat jauh dari signal yang mendekati tekanan sistemik.
  • Secara historis, tahun yang buruk untuk obligasi investment grade cenderung diikuti dengan tahun yang baik.  Namun, hal tersebut akan menjadi awal yang lebih tinggi baik untuk imbal hasil maupun rentang. Level saat ini akan mengindikasikan adanya kenaikan yang moderat dari rentang kredit.


Dolar AS berpotensi melemah

“Dolar AS sudah menguat banyak, tetapi berpotensi melemah di tahun 2019 seiring dengan pertumbuhan ekonomi AS yang akan melambat dan ekspansi ekonomi yang moderat di negara-negara lain.”

- Vasu Menon, Senior Investment Strategist, OCBC Bank

Hal - hal utama
  • Harga minyak turun cukup banyak di akhir 2018, padahal fundamental tidak banyak mengalami perubahan, hal ini lebih banyak disebabkan oleh adanya perubahan posisi yang ekstrim di pasar futures.
  • Di saat yang sama, harga tembaga dan bahan material industri lainnya cukup stabil, yang mengindikasikan bahwa pelemahan harga minyak tidak diakibatkan oleh kekhawatiran akan permintaan global.
  • Kami melihat adanya potensi kenaikan yang moderat pada harga minyak, karena fleksibilitas suplai yang membatasi kenaikan harga di kuartal III – 2018 akan juga membatasi risiko penurunan. OPEC diperkirakan akan menekan produksi, dan produsen minyak AS akan membatasi titik pengeboran minyak yang baru.
  • Sehingga, kami mempertahankan pandangan 12-bulan di US$ 60 per barel untuk West Texas Intermediate (WTI) dan US$ 65 untuk Brent.
  • Kami telah meningkatkan ekspektasi harga emas 12 bulan menjadi US$1280/oz dari US$1240/oz. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dapat mendukung harga emas, yang sebelumnya tertekan oleh kenaikan suku bunga Fed. Emas merupakan tolok ukur perekonomian AS. Harga emas tertekan sepanjang 2018, terutama diakibatkan oleh penguatan ekonomi AS yang mendorong penguatan Dolar AS dan suku bunga, sehingga menyebabkan kenaikan biaya dari menyimpan emas. Emas diperkirakan memiliki batas bawah di US$1175/oz di kuartal III – 2018, akibat rendahnya posisi di pasar futures.
  • Menjelang akhir tahun, pergeseran yang terjadi pada arah kebijakan Federal Reserve telah membuat beberapa kalangan terkejut. Penilaian ulang terhadap kenaikan suku bunga AS di 2019 sedang terjadi, dan akan terus berlanjut sampai Desember, dan berpotensi menekan Dolar AS.
  • Ke depannya, pertemuan FOMC di bulan Desember diperkirakan akan berjalan lebih kompleks. Secara keseluruhan, kami mengestimasikan Dolar AS untuk bergerak stabil range-bound, terutama dengan pasar yang masih mencerna pergeseran retorika dari Fed sebelum pertemuan FOMC di bulan Desember
  • Pasar mulai menyadari risiko pelemahan dari perekonomian global dan dampak dari perubahan ekspektasi kenaikan suku bunga. Diskusi Fed bergeser secara mengejutkan dari sejauh apa kenaikan suku bunga melebihi level netral menjadi senyaman apakah kondisi perekonomian saat dekat dengan level netral.
  • Ke depannya, kami mengharapkan Fed untuk lebih fleksibel dengan langkahnya di 2019, dan menyatakan pesan yang tidak sekonsisten scenario “kenaikan secara bertahap”. Penurunan laju Fed ini, sesuai ekspektasi direspon oleh pasar dengan penurunan imbal hasil US Treasury dan penguatan pasar saham. Kedua hal ini merefleksikan proyeksi pelemahan Dolar AS di masa yang akan datang.
  • Selain dari penyesuaian ulang Fed, kami meliat akan ada kelanjutan perkembangan dari mata uang utama. Drama Brexit dapat berkelanjutan bahkan paska pemungutan suara Parlemen di bulan Desember, dan banyak ketidakpastian yang akan mendorong Pound melemah.
  • Sementara itu, isu mengenai anggaran Italia-Uni Eropa perlahan mulai mereda karena sifat Italia yang mulai lunak. Dalam G10, kami lebih memilih Dolar Australia, dengan harapan sebagai penerima manfaat utama dari ketegangan perdagangan AS-China, meskipun adanya kekhawatiran tentang pertumbuhan global. Kami juga memprediksi Yen Jepang tetap tertahan di level support seiring membaiknya sentimen risiko.

 


Informasi Semua Laporan Analisa Pasar Harian

 
 

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Call 500-999

(Tekan angka 1 untuk Premier Banking)


Handphone
66-999

(Tekan angka 1 untuk Premier Banking)

Atau hubungi kami
secara Online