Pengertian, Contoh & Dampak Gaya Hidup Konsumerisme

29 Des 2022

Gaya hidup konsumerisme adalah budaya konsumsi secara terus-menerus.

Gaya hidup konsumerisme adalah perilaku konsumsi berlebihan terhadap pemakaian barang-barang produksi.

Sebagai salah satu dampak dari globalisasi, gaya hidup konsumerisme membuat seseorang ingin selalu terlihat trendy dengan membeli barang-barang sesuai trend.

Inilah mengapa, seseorang dengan gaya hidup konsumerisme rela membeli barang-barang tertentu hanya karena viral di media sosial.

Jika dilihat dari kacamata ekonomi, apa saja dampak gaya hidup konsumerisme? Apakah perilaku ini memiliki potensi untuk mendatangkan dampak positif atau hanya sekedar membuang-buang uang?

Selengkapnya, mari simak pembahasan seputar gaya hidup konsumerisme di sini.

Pengertian Konsumerisme

Secara sederhana, konsumerisme merupakan gaya hidup di mana manusia menjadi pecandu dari suatu produk.

Menurut Sosiolog Jean Baudrillard, konsumerisme adalah budaya konsumsi modern yang menciptakan hasrat untuk mengkonsumsi sesuatu secara terus menerus. Inilah mengapa, konsumerisme kerap dikaitkan dengan istilah boros, hedon, serta glamour.

Dari pandangan Baudrillard, seseorang yang memiliki gaya hidup konsumerisme biasanya ingin menunjukkan status sosialnya.

Dengan kata lain, mereka berperilaku konsumtif bukan dengan orientasi kebutuhan, namun untuk lifestyle belaka.

Baca juga: Perilaku Konsumen: Pengertian, Faktor, & Manfaat bagi Bisnis

Faktor Penyebab Gaya Hidup Konsumerisme

Adapun beberapa faktor penyebab gaya hidup konsumerisme adalah sebagai berikut:

1. Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi merupakan salah satu faktor yang mempermudah seseorang melakukan gaya hidup konsumerisme. Contohnya, untuk memasarkan sesuatu, kini kita dapat menggunakan sosial media.

Ditambah lagi, kehadiran e-commerce juga membuat seseorang semakin mudah untuk membeli apa yang diinginkan.

Hanya melalui smartphone, seseorang dapat membeli barang apapun dari manapun dengan mudah.

2. Globalisasi

Dengan adanya globalisasi, kini seseorang dapat dengan mudah mendapatkan beragam produk untuk memenuhi kepuasan individu. Baik itu berasal dari luar maupun dalam negeri, semuanya dapat diperoleh dengan mudah.

3. Trend Gaya Hidup

Saat ini, trend sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang tidak bisa dihindari. Trend menyebar luas ke segala kalangan masyarakat melalui berbagai platform, salah satunya adalah social media.

Saat sudah viral, masyarakat akan dengan suka rela mengikuti dan menyebarluaskannya sehingga orang lain juga terpengaruh.

4. Budaya Pop

Selain social media, budaya pop juga menjadi media yang efektif dalam menyebarkan trend. Inilah mengapa, kini  sudah banyak brand yang berkolaborasi dengan artis maupun influencer untuk mendapatkan perhatian publik.

Baca juga: Pengertian Fungsi Konsumsi dan Tabungan, Rumus serta Contoh

Ciri-Ciri Konsumerisme

Adapun ciri-ciri orang yang memiliki gaya hidup konsumerisme, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Konsumen Menjadi Trendsetter

Biasanya, seseorang dengan gaya hidup konsumerisme akan mencari barang-barang mewah terbaru yang limited edition atau tidak dimiliki oleh orang lain.

Hal ini dilakukan agar mereka dapat menjadi pusat perhatian atau terlihat menarik di depan orang lain.

2. Rasa Bangga Terhadap Penampilan dan Kepemilikan Barang

Gaya hidup konsumerisme memiliki hubungan erat dengan tingkat kepuasan seseorang. Saat seseorang puas dan bangga atas apa yang dimiliki, maka ia akan cenderung memamerkannya pada orang lain.

3. Sekedar Mengikuti Tren

Selain beberapa ciri-ciri di atas, gaya hidup konsumerisme juga dapat muncul karena keinginan untuk mengikuti trend agar tidak FOMO (Fear of Missing out) atau merasa tertinggal.

Contoh Fenomena Konsumerisme

Gaya hidup konsumerisme adalah sesuatu yang dapat ditemui dengan mudah di kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, fenomena konsumerisme tidak selalu membawa dampak negatif, lho. Tak jarang masyarakat memanfaatkan momen ini untuk menambah pundi-pundi cuan, contohnya seperti:

  • Mengikuti tren investasi reksadana yang dapat dilakukan melalui ONe Mobile
  • Mengikuti trend yang sedang high demand untuk mendapatkan cuan bisnis. Misalnya, melakukan promosi bisnis atau social branding dengan memanfaatkan tres di masyarakat.

Sementara, contoh sikap konsumerisme yang kebanyakan hanya dilakukan atas dasar “ikut-ikutan” saja di antaranya:

  • Orang yang mengoleksi barang-barang branded terbaru hanya untuk menaikkan status sosial
  • Masyarakat yang membeli barang hanya karena mengikuti trend viral di social media.
  • Masyarakat yang membeli barang-barang terbaru hanya karena FOMO (Fear of Missing out) atau takut ketinggalan zaman.

Baca juga: Mengenal Gaya Hidup Hedonisme, Dampak, & Cara Mengatasinya

Dampak dari Konsumerisme

Dalam praktiknya, perilaku konsumerisme memiliki beberapa pengaruh negatif dan positif, berikut ini penjelasannya.

1. Dampak Negatif dari Konsumerisme

Apa dampak negatif dari perilaku konsumerisme? Saat bertindak terlalu konsumtif, tentu akan banyak pengeluaran yang dihasilkan jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan bijak.

Alhasil, gaya hidup boros pun akan terjadi. Selain menghasilkan gaya hidup boros, perasaan FOMO (Fear of Missing out) yang dihasilkan juga bisa memicu tekanan sosial.

Karena tidak ingin ketinggalan trend, akhirnya seseorang rela melakukan apapun untuk memenuhi gaya hidup konsumtifnya, termasuk dengan berhutang.

Jika dilakukan secara masif, hal ini juga dapat berdampak pada pertumbuhan angka kemiskinan di masyarakat.

2. Dampak Positif dari Konsumerisme

Lantas, apakah gaya hidup konsumerisme hanya merupakan kegiatan buang-buang uang? Ternyata, gaya hidup konsumerisme juga memiliki beberapa dampak positif, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Ketika sebuah barang atau jasa banyak diminati dalam suatu masyarakat, maka pemilik usaha akan memproduksinya lebih banyak.

Alhasil, siklus pembelian dan penjualan pun berjalan lebih cepat. Secara tidak langsung, hal ini telah membantu mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

b. Meningkatkan Kreativitas dan Inovasi Pelaku Bisnis

Tentunya, konsumen akan lebih tertarik terhadap produk baru yang lebih inovatif. Oleh karena itu, agar dapat bersaing di pasaran, seorang pelaku usaha akan terus berusaha untuk mengasah kreativitas dan menawarkan inovasi terbaru yang lebih menarik.

c. Penurunan Biaya Produksi

Seiring dengan minat yang tinggi, jumlah produksi barang pun juga akan semakin meningkat.Jika terdapat banyak barang untuk diproduksi, maka akan semakin rendah biaya yang dibutuhkan.

Hal ini tidak hanya menguntungkan pelaku bisnis, namun juga konsumen. Sebab, harga jual barang tersebut nantinya akan menjadi lebih rendah.

Baca juga: Gaya Hidup Minimalis, 5 Tips Kurangi Barang agar Lebih Hemat

d. Meningkatkan Jumlah Pekerja Lepas dan Wirausaha.

Semakin banyak barang, maka semakin banyak pula jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuatnya .

Oleh karena itu, konsumerisme juga berdampak positif dalam mendorong orang-orang untuk menjadi pekerja lepas dan wirausaha.

Dengan begini, tidak hanya masalah permintaan barang-barang saja yang akan terselesaikan, namun juga jumlah pengangguran di suatu negara.

Dari penjelasan di atas, ternyata gaya hidup konsumerisme tidak hanya memiliki dampak negatif, namun juga pengaruh positif bagi kegiatan ekonomi di suatu negara.

Meskipun begitu, bukan berarti perilaku konsumtif dapat dilakukan dengan seenaknya tanpa pertimbangan yang matang.

Tentunya, agar keuangan Anda sehat, jumlah pengeluaran harus seimbang dengan nilai pemasukan.

Untuk mempelajari hal tersebut, yuk baca artikel-artikel seputar tips mengatur keuangan di blog OCBC NISP!

Baca juga: Konsep Ikigai, Cara Mencapai Kebahagiaan Sempurna di Hidup

Story for your Inspiration

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Apa Itu Stress Spending? Ini Penyebab & Cara Menghindarinya

Baca

Edukasi - 27 Jan 2023

Apa itu Uang Komoditas, Kelebihan & Bedanya dengan Uang Flat

See All

Produk Terkait

Individu

Individu

Solusi perbankan OCBC NISP siap bantu kamu penuhi semua aspirasi dalam hidup #TAYTB

Download ONe Mobile